Desa Kecil yang Tak Pernah Mati

Oleh Aisah Fitri Qoirotun Nisa

Sebelum aku ceritakan makamnya, biar kuceritakan dulu sosoknya, karena memahami siapa dirinya membuat ziarah terasa jauh lebih bermakna. Kiai Ahmad Mutamakkin diperkirakan lahir pada akhir abad ke-17, di masa Kerajaan Mataram Islam masih berdiri kokoh. Dia adalah putra dari keluarga ningrat-santri yang kemudian menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu hingga ke Makkah dan Madinah, belajar langsung kepada ulama-ulama besar Haramain. Dia mendalami dua samudra ilmu sekaligus: fikih dan tasawuf. Dua hal yang di tangan orang kebanyakan sering dipertentangkan, namun di tangan Mbah Mutamakkin justru berpadu dengan indah. Dia adalah seorang syariat yang kuat, sekaligus seorang ahli hakikat yang dalam. Sekembalinya ke Tanah Jawa, dia menetap di Kajen dan dari situlah segala sesuatunya bermula. Santri berdatangan. Ilmu menyebar. Kajen pelan-pelan berubah menjadi pusat peradaban Islam di pesisir utara Jawa.

Rintik air hujan sisa sore tadi masih membasahi tanah merah. Aroma khasnya menyerbak ke seluruh rongga hidung. Alunan istigosah dan tahlil sayup-sayup masih terdengar dari sebuah makam yang terletak di desa kecil, Kajen.

Makam yang kerap didatanggi para santri bahkan khalayak umum memiliki arti tersendiri dipercayai karena jika berdoa di makam Mbah Ahmad Mutammakin ini mustajab (gampang untuk dikabulkan) yang berdatangan untuk berzizarah tidak hanya masyarakat sekitar atau santri disana melainkan dari luar wilayah juga tidak kalah banyaknya

Aku masih ingat betul awal bulan Juni, langit Kajen dan senja sore membawa aroma kemenyan yang tipis dari arah makam. Perjalananku ke Kajen, Pati, bukan tanpa alasan. Sudah lama aku mendengar tentang Mbah Ahmad Mutamakkin — ulama besar abad ke-18 yang namanya harum bukan hanya di tanah Jawa, tapi juga sampai ke Haramain. Sosok yang pernah difitnah, diuji, namun tetap tegak seperti karang di tengah badai. Aku ingin merasakan sendiri denyut spiritualitas yang konon masih hidup di tanah itu.

Makam Mbah Ahmad Mutammakin ini memiliki daya tarik yang berbeda, walaupun tidak se-iconic seperti makam Mbah Mudzakir yang ada di tengah laut, Semarang. Kompleks makam Mbah Ahmad Mutamakkin terletak di jantung Desa Kajen, tidak jauh dari masjid desa, dikelilingi oleh rumah-rumah warga dan bangunan pesantren tua. Letaknya tidak mencolok dari luar. Tidak ada gerbang megah, hanya papan besar yang bertuliskan nama yang diukir dengan Arab atau Pegon. Justru kesederhanaannya yang pertama kali menyapamu.

Memasuki area kompleks, kamu akan melewati sebuah gerbang kecil berpintu kayu jati tua yang catnya sudah memudar dimakan waktu, yang setiap tahun sekali akan dicat ulang ketika mendekati haulnya, tapi justru di situlah keanggunannya. Kayu itu terasa berat bukan karena beratnya secara fisik, tapi karena usia dan doa yang sudah meresap ke dalam seratnya selama ratusan tahun.

Alasan utamaku datang ke Kajen yaitu untuk menimba ilmu di salah satu pondok pesantren yang ada di sana dan juga di sekolah madrasah tentunya. Aku tinggal di Kajen dari 2019 sampai 2025. Saat sudah lulus MA (Madrasah Aliyah), aku dibawa (dicabut dari pondok) oleh keluargaku untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Selama aku hidup di Kajen, tak terhitung entah aku berziarah ke makam Mbah Ahmad Mutammakin sudah berapa kali, walaupun sudah ratusan kalipun, nuansanya akan tetap sama. Kalau aku harus menggambarkan nuansa makam Mbah Mutammakin dalam satu kata, aku akan memilih: khusyuk.

Tapi biar aku jabarkan lebih dalam.Waktu aku masuk ke dalam cungkup itu, tanpa sadar langkahku melambat sendiri. Seperti ada tangan tak kasat mata yang memelankan seluruh gerak tubuhku. Suara luar teredam. Yang tersisa hanya desah napas sendiri, gemerisik kain peziarah lain, dan lantunan shalawat, tahlil, dan doa yang terdengar samar dari pendopo. Ada sesuatu di tempat itu yang membuatmu ingin diam dan tidak terburu-buru. Bukan karena seram, sama sekali tidak. Tapi karena suasananya mendesakmu untuk hadir sepenuhnya. Untuk tidak memikirkan urusan dunia barang sejenak.

Aku duduk bersila tidak jauh dari nisan, membaca Al-Fatihah, tahlil, lalu Yasin. Di tengah-tengah bacaan, tanpa sebab yang jelas, mataku memanas. Mungkin karena tiba-tiba sadar betapa besar jasa orang yang berbaring di sini – orang yang hidupnya dipersembahkan untuk ilmu dan dakwah, yang difitnah tapi tidak membalas, yang diuji tapi tidak goyah.

Masi teringat jelas, makam Mbah Ahmad Mutammakin ini menjadi saksi bisu di mana aku selalu berdoa dengan khusyuk bahkan menangis, setiap menjelang uts maupun uas sampai di mana aku selalu memohon supaya dimudahkan jalanku untuk bisa lolos di ptn mulai dari pendaftaran snbp sampai jalur mandiri. Semuanya tidak mudah, tetapi aku percaya ini yang terbaik. Terima kasih kepada Kajen dan seluruh kenangan menyenangkannya. Aku tidak mungkin lupa karena banyak cerita indah yang terbungkus di dalamnya.