Kemeriahan Tradisi Gregeb Besar Demak

Oleh Nabila Atha Shifaul Syiyam

Grebeg Besar berasal dari dua kata bahasa Jawa, yaitu Grebeg dan BesarGrebeg berarti suara angin yang menderu. Grebeg juga dapat diartikan sebagai pengiring atau perkumpulan. Sedangkan kata Besar merupakan nama bulan Zulhijah dalam bahasa Jawa. Sehingga Grebeg Besar bermakna yaitu perkumpulan masyarakat Muslim di bulan Zulhijah. Perkumpulan ini dilakukan di Masjid Agung Demak.

Grebeg Besar Demak merupakan salah satu tradisi budaya dan keagamaan yang berkembang di Demak. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan hari raya Idul Adha dan menjadi salah satu warisan budaya Islam yang masih dilestarikan hingga saat ini. Sejarah Grebeg Besar tidak dapat dilepaskan daripada keberadaan Kesultanan Demak, yang berdiri pada abad ke-15. Kesultanan ini dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dan memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam.

Pada masa itu, para ulama yang tergabung dalam Wali Songo menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Salah satu bentuknya adalah melalui tradisi Grebeg Besar yang memadukan unsur keagamaan dan budaya lokal agar lebih mudah diterima oleh masyarakat. Nama “Grebeg” sendiri berasal dari suara gemuruh atau keramaian yang menggambarkan suasana perayaan. Sementara “Besar” merujuk pada bulan Besar dalam penanggalan Jawa, yang bertepatan dengan bulan Zulhijjah dalam kalender Islam.

Tradisi ini awalnya bertujuan untuk memperingati hari raya Iduladha sekaligus mengenang jasa para wali dan Sultan Demak dalam menyebarkan Islam. Selain itu, Grebeg Besar juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara penguasa dan rakyat. Salah satu rangkaian utama dalam Grebeg Besar adalah prosesi arak-arakan gunungan. Gunungan ini berisi hasil bumi seperti sayur, buah, dan padi yang melambangkan kemakmuran serta rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan.Gunungan tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat. 

Tradisi ini dipercaya membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya. Oleh karena itu, masyarakat biasanya sangat antusias mengikuti prosesi ini setiap tahunnya. Selain arak-arakan gunungan, terdapat pula berbagai ritual lain seperti ziarah ke makam raja-raja Demak dan tokoh penting Islam. Salah satu lokasi yang menjadi pusat kegiatan adalah Masjid Agung Demak yang memiliki nilai historis tinggi. Seiring berjalannya waktu, Grebeg Besar tidak hanya menjadi acara keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata budaya. Banyak pengunjung dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan tradisi ini secara langsung. 

Meskipun mengalami berbagai perubahan dalam pelaksanaannya, nilai-nilai yang terkandung dalam Grebeg Besar tetap dipertahankan. Tradisi ini mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat. Dengan demikian, Grebeg Besar Demak bukan hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi juga merupakan simbol perpaduan antara budaya dan agama yang telah diwariskan sejak masa Kesultanan Demak dan terus hidup hingga sekarang.

Aku memiliki pengalaman terkait dengan tradisi Grebeg Besar Demak. Pagi-pagi aku sudah berangkat. Udara masih sejuk, tapi jalanan menuju pusat kota Demak sudah mulai ramai. Semakin dekat dengan Masjid Agung Demak, suasana semakin terasa hidup. Pedagang berjejer di pinggir jalan, menjual berbagai macam makanan, minuman, hingga suvenir khas. Aroma sate dan jajanan tradisional bercampur di udara. Orang-orang datang dari berbagai daerah, terlihat dari logat dan pakaian mereka yang beragam. Ada yang datang bersama keluarga, rombongan teman, bahkan ada juga yang tampak seperti wisatawan luar kota.

Aku berjalan perlahan, berusaha menembus kerumunan. Suara gamelan mulai terdengar, mengalun pelan tapi pasti, menciptakan suasana yang khas dan sakral. Aku tahu acara inti akan segera dimulai. Aku akhirnya menemukan tempat yang cukup strategis, meskipun harus berdiri berjinjit agar bisa melihat ke depan. Dari kejauhan, aku melihat iring-iringan mulai bergerak. Orang-orang bersorak, beberapa melambaikan tangan, dan banyak yang sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel.

Di tengah arak-arakan itu, aku melihat sesuatu yang sangat menarik perhatian Gunungan. Bentuknya tinggi menjulang, tersusun dari berbagai hasil bumi seperti cabai, kacang panjang, jagung, dan buah-buahan. Warnanya mencolok dan tampak indah. Ini merupakan simbol rasa syukur atas hasil panen berlimpah. Iring-iringan semakin mendekat. Suara gamelan semakin keras, berpadu dengan sorak-sorai masyarakat. Aku bisa merasakan getaran semangat dari orang-orang yang berada di sana. Semua mata tertuju pada gunungan itu.

Tiba-tiba, suasana berubah menjadi lebih tegang sekaligus penuh antusiasme. Orang-orang mulai merapat; semua orang bersiap untuk sesuatu. Ketika gunungan itu diletakkan, dalam hitungan detik suasana menjadi sangat riuh. Orang-orang langsung bergerak maju, berebut isi gunungan. Ada yang berteriak, ada yang tertawa, ada juga yang berusaha keras mengambil apa saja yang bisa diraih. Meski terlihat kacau, entah kenapa tetap terasa menyenangkan. Tidak ada kemarahan, yang ada justru kegembiraan.

Setelah keramaian mulai mereda, aku berjalan perlahan menjauh dari pusat kerumunan. Aku menuju pelataran Masjid Agung Demak dan duduk di sana sambil melihat sisa-sisa keramaian, orang-orang yang masih tertawa, berbincang, dan menikmati suasana. Lalu waktu sudah menjelang sore, langit mulai berubah warna menjadi jingga. Aku berdiri dari dudukku, berjalan kembali melewati kerumunan yang kini sudah lebih santai. Aku sempat membeli jajanan kecil dari pedagang.

Pengalaman menyaksikan secara langsung Grebeg Besar Demak di Demak memberikan pemahaman yang lebih dalam bahwa sebuah tradisi bukan sekadar acara seremonial, melainkan warisan budaya yang sarat makna. Kemeriahan yang terlihat dari arak-arakan, gunungan, serta antusiasme masyarakat mencerminkan rasa syukur, kebersamaan, dan kepercayaan yang masih terjaga hingga kini. Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai sejarah tetap hidup dalam kehidupan masyarakat modern. 

Keterkaitannya dengan masa Kesultanan Demak membuktikan bahwa peninggalan masa lalu tidak hanya disimpan sebagai cerita, tetapi terus dilestarikan dalam bentuk praktik budaya yang nyata. Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat tidak melupakan akar sejarahnya, melainkan menjadikannya sebagai bagian dari identitas. Melihat langsung kebersamaan masyarakat tanpa memandang perbedaan, serta semangat mereka dalam mengikuti tradisi, menumbuhkan rasa kagum sekaligus kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan. Tradisi Grebeg Besar juga mengajarkan bahwa di balik keramaian dan kemeriahan, terdapat nilai spiritual berupa rasa syukur kepada Tuhan dan harapan akan keberkahan.

Selain itu, suasana yang tercipta selama acara memperlihatkan bahwa budaya mampu menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai generasi. Anak-anak, orang dewasa, hingga orang tua semua terlibat dan menikmati momen tersebut, sehingga tradisi ini tidak akan mudah hilang ditelan zaman. Justru, dengan terus diwariskan, Grebeg Besar akan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Demak dan juga pelajaran penting tentang arti kebersamaan, penghargaan terhadap tradisi, dan pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap hidup pada masa depan.(*)