Sangiran, Tempat Melihat Bukti Sejarah Manusia Purba

Oleh Faisal Arif Rahutama

Kunjungan ke kawasan Museum Manusia Purba Sangiran di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, merupakan salah satu pengalaman wisata sejarah yang paling memberikan kesan mendalam bagi saya. Jika dilihat dari luar, kawasan museum ini hanya tampak seperti permukiman penduduk pada umumnya. Terdapat jalanan aspal kecil yang membelah desa, deretan rumah warga, dan banyak pohon besar yang tumbuh di sekelilingnya. Namun, di balik penampilannya yang sangat biasa dan sederhana tersebut, tempat ini menyimpan bukti-bukti nyata mengenai kehidupan masa lalu. Bukti-bukti sejarah yang ada di kawasan ini bahkan diperkirakan sudah berumur jutaan tahun, jauh sebelum manusia modern seperti kita sekarang ini mendiami Bumi. Mengetahui sebuah desa biasa menyembunyikan peninggalan dunia yang begitu besar membuat saya merasa sangat kagum sejak awal kedatangan.

Saya melakukan perjalanan menuju kawasan museum tersebut pada waktu pagi hari bersama ayah dengan menggunakan motor. Kami berangkat dari rumah dan melewati rute jalanan pedesaan yang mayoritas wilayahnya dikelilingi oleh area persawahan hijau yang sangat luas. Di kejauhan, terlihat juga kumpulan perbukitan yang mengelilingi daerah tersebut. Kondisi jalan saat itu sangat lancar karena kami berangkat lebih awal, sehingga kami tidak perlu menghadapi kemacetan lalu lintas atau mendengarkan suara bising dari kendaraan bermotor lain. Suasana pedesaan yang sepi, udara yang masih segar, serta kondisi jalan yang tenang ini membuat perjalanan menuju lokasi museum terasa sangat nyaman. Hal ini memberikan semangat tersendiri sebelum saya benar-benar mulai mempelajari banyak hal di dalam kawasan museum nantinya.

Awalnya, saya mengira bahwa tempat ini akan sama membosankannya dengan gambaran museum pada umumnya, yang biasanya hanya berisi banyak papan tulisan panjang, lorong-lorong gelap, dan koleksi usang yang membuat pengunjung cepat merasa jenuh. Namun, perkiraan tersebut ternyata keliru. Setelah memarkir motor dan membeli tiket, saya langsung melangkah masuk ke dalam gedung utama yang berada di Klaster Krikilan. Kondisi di dalam museum ternyata sangat terawat, bersih, dan tertata dengan sangat baik. Suasana di dalam ruangan juga terasa tenang dan sejuk. Penataan cahaya dan ruang pameran dibuat sedemikian rupa sehingga para pengunjung seakan diajak untuk mengamati setiap koleksi fosil yang dipamerkan di sana dengan lebih fokus, nyaman, dan tanpa gangguan.

Hal pertama yang langsung menarik perhatian saya adalah deretan panjang fosil purba yang dipajang dengan rapi di dalam etalase kaca yang tebal. Koleksi yang dipamerkan di ruangan ini sangat beragam, mulai dari berbagai macam bentuk tengkorak kepala, tulang rahang, gigi-gigi berukuran raksasa, tulang paha, hingga berbagai bagian kerangka makhluk hidup lainnya. Tulang-belulang ini merupakan sisa-sisa dari makhluk yang hidup di masa lampau. Saya mengamati koleksi tersebut satu per satu dari dekat, lalu berhenti cukup lama di depan sebuah replika tengkorak milik manusia purba Homo erectus. Menurut keterangan yang tertera di panel informasi museum, jenis manusia ini diperkirakan hidup dan mencari makan di atas bumi sekitar satu setengah juta tahun yang lalu. Memikirkan jarak yang begitu jauh tersebut benar-benar memberikan sudut pandang baru.

Kumpulan bukti-bukti sejarah berupa tulang belulang dari masa lalu inilah yang membuat saya menjadi sangat paham mengenai alasan di balik keputusan UNESCO. Organisasi tersebut secara resmi menetapkan kawasan Sangiran sebagai situs warisan dunia pada tahun 1996, dan penetapan ini tentu bukan tanpa alasan yang kuat. Berdasarkan data ilmu pengetahuan, ternyata sekitar 65 persen dari total keseluruhan temuan fosil Homo erectus yang ada di seluruh dunia pada saat ini berasal dari tanah di kawasan Sangiran. Sangat mengejutkan sekaligus membanggakan saat menyadari bahwa tanah yang saya lewati sejak area parkir tadi ternyata menyimpan rekam jejak peninggalan peradaban manusia purba dengan jumlah terbesar di dunia.

Bagian lain dari fasilitas bangunan museum yang sangat saya sukai adalah ruang pameran diorama. Ruangan khusus ini menampilkan patung-patung manusia purba berukuran sebesar manusia asli yang sedang melakukan berbagai macam aktivitas bertahan hidup sehari-hari pada zaman tersebut. Terdapat diorama yang memperlihatkan adegan berburu binatang liar menggunakan alat bantu berupa tombak dari batu tajam. Ada juga adegan sekelompok manusia purba yang sedang duduk berkumpul menghangatkan tubuh di dekat api, hingga adegan proses pembuatan alat-alat sederhana dari pecahan batu sungai. Seluruh adegan diorama ini dibuat dengan sangat rinci, sehingga para pengunjung museum bisa dengan mudah membayangkan bagaimana cara mereka bertahan hidup menghadapi kondisi alam liar purba yang keras pada masa itu.

Selama berkeliling, saya baru mengetahui bahwa kawasan pelestarian Museum Sangiran ini ternyata berukuran sangat luas dan tidak hanya terdiri dari satu bangunan utama saja. Kawasan wisata edukasi ini terbagi menjadi beberapa klaster museum yang lokasinya saling terpisah jaraknya, seperti Klaster Dayu, Klaster Bukuran, dan Klaster Ngebung. Setiap klaster museum tersebut memiliki fokus tema pameran yang berbeda-beda, misalnya ada bangunan yang lebih fokus pada sejarah awal mula penemuannya, dan ada pula yang berfokus memamerkan perubahan bentuk fisik manusia purba. Karena keterbatasan waktu kunjungan pada hari itu, saya belum sempat mendatangi semua fasilitas klaster tersebut. Namun, saya sudah merencanakan untuk kembali lagi ke tempat ini suatu hari nanti untuk melihat langsung sisa klaster yang belum sempat didatangi.

Terdapat satu fakta menarik lainnya dari kawasan Sangiran yang membuat saya semakin takjub mengenai sejarah penemuan berbagai fosil penting di daerah ini. Kenyataannya, banyak tulang belulang berharga tersebut pada awalnya justru ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk desa setempat. Para penemu ini mayoritas adalah warga biasa seperti petani yang sedang mencangkul ladang atau masyarakat lokal yang sedang menggali tanah untuk keperluan sehari-hari. Mereka yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan khusus tentang sejarah kepurbakalaan inilah yang sering kali menjadi pihak pertama penemu benda-benda berumur jutaan tahun. Pihak pengelola museum juga memberlakukan sistem imbalan kepada warga yang bersedia menyerahkan temuannya, sehingga pelestarian sejarah bisa dilakukan bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat.

Sebelum memutuskan untuk bersiap pulang pada sore harinya, saya menyempatkan diri berjalan-jalan melihat perbukitan yang mengelilingi museum dari area pelataran luar. Di bagian lereng bukit yang tanahnya terpotong oleh alam, terlihat dengan sangat jelas adanya tumpukan lapisan tanah yang memiliki warna berbeda-beda. Terdapat lapisan dengan warna cokelat tua, lapisan berwarna abu-abu keputihan, hingga lapisan yang berwarna oranye. Menurut penjelasan dari salah satu petugas pengelola yang sempat saya ajak bicara, perbedaan warna lapisan tanah ini berfungsi ibarat sebuah buku catatan alam. Setiap lapisan tersebut menunjukkan perbedaan lingkungan atau periode zaman yang pernah terjadi di masa lalu, mulai dari zaman ketika wilayah ini masih berbentuk rawa-rawa, hingga akhirnya mengering dan perlahan berubah menjadi daratan seperti sekarang.

Sebelum benar-benar meninggalkan area tempat wisata ini, saya menyempatkan diri untuk singgah sebentar di deretan toko yang menjual barang-barang kenangan yang berjejer rapi di dekat jalur pintu keluar. Di salah satu toko tersebut, saya membeli sebuah suvenir berupa replika tengkorak manusia purba berukuran kecil yang terbuat dari bahan resin padat. Barang pajangan ini dijual dengan harga yang sangat terjangkau bagi kantong pelajar. Saat ini, benda kecil tersebut saya letakkan di sudut meja belajar di kamar sebagai hiasan. 

Secara garis besar, pengalaman melakukan kunjungan ke kawasan Museum Sangiran ini benar-benar telah mengubah pandangan saya mengenai pelajaran sejarah. Sejarah merupakan sebuah rekam jejak dan pembuktian nyata mengenai kehidupan masa lalu yang benar-benar pernah terjadi di Bumi. Tempat pelestarian seperti Museum Sangiran secara langsung menunjukkan kepada para pengunjung bahwa untuk bisa memahami dasar mula terbentuknya kehidupan saat ini, kita harus bersedia meluangkan waktu untuk menoleh kembali ke masa lalu. Masa di mana sistem bahasa lisan yang rumit, bentuk tulisan, dan kehidupan kelompok masyarakat yang teratur sama sekali belum tercipta.

Oleh karena itu, jika pada suatu ketika kamu sedang memiliki waktu luang dan kebetulan tengah berada di sekitar wilayah Kabupaten Sragen atau Kota Surakarta, cobalah untuk menyempatkan sedikit waktu berkunjung ke Museum Sangiran. Tempat bersejarah ini sangat direkomendasikan untuk didatangi karena terbukti mampu memberikan wawasan pemikiran yang baru. Setiap pengunjung yang datang dengan rasa ingin tahu pasti akan pulang membawa tambahan pengetahuan serta pandangan yang jauh lebih nyata mengenai proses awal mula peradaban manusia. Mempelajari dan melihat bukti-bukti kuat peninggalan masa lalu secara langsung merupakan sebuah pengalaman yang sangat mahal nilainya. Pengalaman ini jelas memberikan lebih banyak manfaat ketimbang sekadar pergi jalan-jalan ke tempat biasa dan menjadi sebuah pelajaran berharga yang secara perlahan memperluas cara pandang kita terhadap dunia.(*)