Rahasia di Balik THR Kramat Batang

Pada kamis sore yang mendung, Eriska, Rifki, dan Prayoga memutuskan untuk mengunjungi Taman Hiburan Rakyat (THR) Kramat di Batang. Tempat ini sudah berdiri sejak awal 1980-an dan merupakan ikon hiburan rakyat yang cukup terkenal di daerah tersebut. Meskipun sekarang lebih sepi, tetap ada sesuatu yang menarik kami untuk datang ke sana.

 “Katanya, di dekat taman itu ada bendungan sungai keramat,” Eriska bertanya dengan nada khawatir, sambil memegang tangan Rifki. “Orang-orang bilang kalau lewat malam Jumat Kliwon, suasana di sana beda banget.”

Rifki tertawa kecil. “Ah, itu cuma cerita orang-orang tua,” jawabnya sambil menggenggam kamera yang ia bawa. “Tempat hiburan kayak gini masa serem sih?” Meski begitu, Rifki juga merasa ada yang aneh, apalagi sore itu langit tampak gelap dan angin berembus lebih kencang dari biasanya.

Begitu sampai di THR Kramat, suasananya terasa cukup sepi. Pohon-pohon besar di sekeliling taman menambah kesan yang agak gelap. Sungai Kramat yang mengalir di belakang taman juga mengeluarkan suara gemericik yang tenang. Taman ini seakan menyimpan kenangan lama yang tak lekang oleh waktu.

Ketika kami melewati jembatan kayu kecil di atas sungai, Prayoga tiba-tiba berhenti dan menoleh. “Dengar nggak?” katanya. Kami semua terdiam. Dari arah sungai terdengar suara tawa kecil, seolah-olah ada yang sedang bermain di sana, namun suara itu tiba-tiba menghilang begitu saja.

Rifki yang memang tidak mudah panik mengusulkan, “Ayo, kita cari tahu dari mana asal suara itu.” Meski agak ragu, kami semua mengikuti langkah Rifki menuju pinggir sungai. Namun, tak ada apapun di sana. Hanya beberapa batu besar yang tampak sudah lama ada.

Di tengah suasana yang semakin sepi, Eriska mengingatkan, “Dulu, karena ibu saya penduduk asli daerah sini sering bercerita tentang asal-usul tempat ini,” katanya. “Konon, sebelum taman ini ada, tempat ini merupakan tempat pertapaan seorang tokoh sakti, Bahurekso. Dia dikatakan menjaga daerah ini dengan kekuatan spiritual yang luar biasa.”

Kami berhenti sejenak mendengarkan cerita Eriska, yang menceritakan bagaimana ibunya sering bercerita tentang tempat ini di masa kecilnya. Bahurekso, seorang pertapa yang memilih Sungai Bendungan Kramat sebagai tempat untuk mencari kedamaian, diyakini memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan alam di sekitar Batang.

Kami melanjutkan perjalanan dan tiba di sebuah batu besar yang tampaknya menjadi titik tengah di sekitar sungai. Batu itu, menurut Eriska, pernah menjadi tempat semedi Bahurekso. Meskipun tidak ada yang terlihat mencurigakan, suasana di sekitar batu itu terasa lebih tenang, hampir seperti ada yang mengawasi.

Saat kami berbalik dan hendak kembali ke taman utama, Prayoga merasa ada sesuatu yang aneh. “Kayaknya tadi ada yang ngikutin deh,” katanya, matanya melirik ke belakang dengan ragu. Semua kami menoleh, namun tak ada apa pun.

Malam itu, dalam perjalanan pulang, kamu terus mendiskusikan pengalaman kami. Rifki menganggap bahwa semua yang kami rasakan mungkin hanya sugesti belaka, apalagi setelah mendengar cerita asal-usul tempat dari Eriska. Namun, kami sepakat bahwa ada sesuatu yang tak biasa di tempat itu, sesuatu yang lebih dari sekadar taman hiburan biasa.

Sekarang, THR Kramat Batang tetap menjadi bagian dari sejarah yang unik dan misterius. Masyarakat setempat tetap mempercayai cerita-cerita lama tentang tempat itu, meskipun banyak yang menganggapnya hanya legenda. Namun bagi kami, THR Kramat tetap memiliki daya tarik tersendiri, bukan hanya sebagai tempat hiburan, tetapi juga sebagai saksi bisu dari banyak cerita dan kenangan.(*)

Oleh Eriska Risqi Wardana