Tradisi Campur Bawur di Blora

Bulan Sura merupakan bulan permulaan dalam kalender Jawa. Pada bulan ini, berbagai tradisi rakyat yang kental dengan nuansa mistis digelar. Salah satunya, tradisi ‘campur bawur’ yang berlangsung di Desa Temulus Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora. 

Campur Bawur adalah salah satu tradisi yang ada di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun sejak zaman leluhur. Warga datang membawa aneka jajanan pasar seperti nagasari, apem, ketan, hingga bubur dan nasi kelontong. Setelah doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama desa, makanan tersebut disantap bersama dan dibagi-bagikan secara sukarela. 

Inti dari Campur Bawur terletak pada fungsinya sebagai ritual tolak balak dan penguat tali silaturahmi. Warga percaya bahwa dengan berkumpul dan membaurkan rezeki dalam doa bersama, segala musibah (balak) yang mengancam desa akan menjadi “bawur” atau tersamarkan. Dengan kata lain, kegiatan ini adalah cara kolektif masyarakat Blora memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Nama “Campur Bawur” sendiri menjadi simbol kesetaraan sosial. Dalam ritual ini, semua warga—tanpa memandang status, kekayaan, atau jabatan—berbaur menjadi satu, menghilangkan sekat, dan berbagi hasil bumi secara langsung. 

Waktu pelaksanaan Campur Bawur di Blora cukup fleksibel, disesuaikan dengan siklus adat dan pertanian di masing-masing desa. Bulan Sura (awal tahun Jawa) adalah waktu yang paling umum. Tradisi digelar tepat pada hari pertama bulan Sura (Muharram) sebagai ritual tahunan untuk mengawali tahun baru dengan harapan keselamatan. 

Ada juga ritual Pertanian yang seringkali menjadi bagian integral dari Sedekah Bumi atau ritual Manganan, yang dilaksanakan menjelang masa tanam atau setelah panen raya. Tujuannya adalah memohon kesuburan, kelancaran panen, dan perlindungan dari hama. Pada pergantian musim, beberapa komunitas adat, seperti Samin di Blora, melaksanakannya sebagai sambutan atau doa agar datangnya musim hujan membawa berkah. 

Warisan Leluhur 

Tradisi Campur Bawur di Blora bukanlah ritual yang muncul pada tanggal tertentu, melainkan sebuah warisan budaya lisan yang sudah ada secara turun-temurun sejak nenek moyang. Sejarahnya erat terikat pada identitas Blora sebagai masyarakat agraris yang bergantung pada hasil bumi. 

Akar utama Campur Bawur berasal dari ritual syukuran agraris kuno, seperti Sedekah Bumi, di mana masyarakat memohon kesuburan, panen melimpah, dan keselamatan dari bencana alam. Seiring berjalannya waktu dan masuknya ajaran agama, tradisi ini mengalami sinkretisme, menggabungkan kepercayaan lokal (seperti tolak balak dan penghormatan kepada leluhur) dengan nilai-nilai Islam (doa-doa yang dipimpin oleh Modin). 

Inti dari sejarah Campur Bawur adalah kebutuhan kolektif masyarakat desa untuk menjaga solidaritas, yaitu: 

  1. Penyatuan Sosial: Prosesi di mana semua warga (kaya, miskin, tua, muda) berkumpul dan saling membaurkan serta berebut makanan (sawuran) adalah simbol bahwa rezeki adalah milik bersama dan harus dinikmati tanpa memandang status. Inilah inti dari nama campur bawur.
  2. Tolak Balak: Tradisi ini diyakini sebagai cara efektif untuk mengusir musibah (balak) dengan menjadikan masalah tersebut “bawur” (tersamarkan) melalui kekuatan kebersamaan. 

Hingga kini, Campur Bawur dipertahankan di berbagai desa, seringkali dilaksanakan pada Bulan Suro (Muharram) sebagai perayaan tahunan yang berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya gotong royong dan kerukunan. Tradisi ini adalah cerminan sejarah Blora yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kedekatan dengan alam. (*)

Oleh Felisa Ida Pramesti