PEMBENTUKAN DESA TANGGUH BENCANA (DESTANA) ANGIN KENCANG DI DESA KEMIRI OLEH MAHASISWA UNNES GIAT 12 BERSAMA DENGAN BPBD TEMANGGUNG DAN PEMERINTAH DESA

Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Giat 12 Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang diketuai oleh Muhammad Wildan Alfirdaus, bersama dengan Kansa Amelia Sari, Lyla Fadillah, Rafy Larepa Almanda, Della Amalia Seviana, Yohana Patrecia, Vania Aisya Putri, Alifia Putri Sabilla, Anwar Widjaya Kusuma, Destian Fitra Andika, Anabela Romaito Pangaribuan, dan Nadilla Anggi Praseti, dan didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, mengadakan Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang berlangsung pada 29 Juli 2025 di Gedung Balai Desa Kemiri, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung.

Forum ini dihadiri oleh perangkat desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, tokoh keagamaan, karang taruna, serta perwakilan dari Kecamatan Kaloran. Dalam forum tersebut juga dilaksanakan pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) sebagai langkah konkret dalam menghadapi risiko angin kencang yang kerap melanda wilayah Desa Kemiri. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara mahasiswa KKN UNNES Giat 12, BPBD Kabupaten Temanggung, dan Pemerintah Desa Kemiri.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap potensi bencana angin kencang yang pernah melanda wilayah tersebut. Dengan adanya forum DESTANA, masyarakat diharapkan mampu melakukan mitigasi mandiri dan memiliki sistem respon cepat berbasis komunitas. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program peningkatan kapasitas desa terhadap risiko bencana yang telah berlangsung sejak awal Juli 2025. Pada program ini, dilaksanakan beberapa kegiatan inti, yaitu kajian risiko bencana (KRB), penyusunan peta risiko partisipatif, serta pembentukan dan pengukuhan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) tingkat desa.

“Saat saya mengetahui program DESTANA atau Desa Tangguh Bencana, saya merasa ini adalah program yang sangat bagus dan menarik. Program ini sangat penting mengingat Desa Kemiri pernah mengalami angin kencang yang saat itu sempat merusak rumah warga. Dengan adanya DESTANA, kami berharap masyarakat lebih siap menghadapi bencana,” ujar Kepala Desa Kemiri, Bapak Sugeng Rahadi, saat membuka acara pembentukan forum.

Dalam forum tersebut, BPBD Temanggung hadir langsung untuk memberikan sosialisasi terkait peran dan fungsi DESTANA, termasuk pentingnya peta risiko bencana, jalur evakuasi, serta pembentukan struktur organisasi siaga desa. Warga Desa Kemiri turut dilibatkan secara aktif dalam diskusi dan perumusan rencana aksi ke depan.

Wildan, salah satu mahasiswa KKN UNNES yang terlibat langsung dalam pemetaan risiko, menjelaskan hasil kajian yang telah dilakukan. “Setelah menjalani PKD atau Penilaian Ketangguhan Desa dan KRB atau Kajian Risiko Bencana ke masing-masing dusun, kami pun menetapkan Desa Kemiri sebagai desa dengan risiko bencana angin kencang. Namun hanya 4 dusun saja yang berdampak risiko angin kencang sedang, dan 3 dusun lainnya relatif aman dari risiko bencana tersebut,” ungkap Wildan.

Desa Kemiri terdiri dari tujuh dusun, yaitu Kemiri, Kebondalem, Sigran, Pringtali, Tegaron, Jangkungan, dan Mlereng. Berdasarkan hasil pemetaan partisipatif bersama warga, wilayah yang tergolong memiliki kategori risiko angin kencang sedang meliputi Dusun Kemiri, Kebondalem, Pringtali, dan Tegaron.

Salah satu alat bantu penting yang diserahkan kepada warga Desa Kemiri dalam kegiatan pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) adalah peta risiko bencana. Peta ini memberikan gambaran visual mengenai tingkat kerawanan wilayah di Desa Kemiri terhadap ancaman angin kencang. Dalam peta tersebut, risiko dibedakan berdasarkan warna, yaitu merah untuk wilayah dengan risiko angin kencang tinggi, kuning untuk risiko sedang, dan hijau untuk risiko rendah.

“Forum Pengurangan Risiko Bencana ini punya peran penting, ya. Tugas utamanya antara lain menyusun rencana pengurangan risiko bencana, memberikan pelatihan ke masyarakat, mengidentifikasi potensi bencana, mengoordinasikan kegiatan evakuasi, serta menjalin koordinasi dengan pemerintah dan lembaga lainnya,” ujar Heri, perwakilan dari BPBD, dalam sambutannya kepada warga.

Selain peta risiko, warga juga diberikan penjelasan mengenai peta jalur evakuasi yang telah disusun sebelumnya. Peta ini mencakup penandaan titik kumpul, arah evakuasi yang direkomendasikan, lokasi jalur evakuasi yang aman, serta titik lokasi Balai Desa yang ditetapkan sebagai tempat pengungsian. Penyusunan peta ini bertujuan untuk memberikan panduan yang jelas dan mudah dipahami bagi warga dalam menghadapi potensi bencana angin kencang. Dengan adanya peta-peta ini, diharapkan warga memiliki pemahaman yang lebih terarah dan siap dalam merespons situasi darurat secara mandiri.

Struktur DESTANA kemudian dibentuk secara partisipatif, mencakup ketua, sekretaris, dan beberapa seksi seperti logistik, evakuasi, serta komunikasi dan informasi. Mahasiswa Unnes berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan ini, membantu penyusunan materi sosialisasi, pemetaan wilayah rawan, serta mendorong keterlibatan aktif dari warga. Kepala Desa Kemiri menyambut baik pembentukan DESTANA ini dan berharap forum ini dapat berfungsi secara berkelanjutan, bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai sistem perlindungan masyarakat yang nyata.

“Saya merasa terhormat dipercaya sebagai ketua. Ini bukan tugas ringan, tapi saya yakin dengan dukungan warga dan bimbingan dari BPBD, semoga saya bisa menjalaninya dengan amanah dan kita bisa membuat desa ini lebih tangguh menghadapi bencana,” kata Bapak Khoerun Isnaeni setelah pengukuhannya sebagai ketua FPRB.

Dengan terbentuknya DESTANA ini, Desa Kemiri menjadi salah satu desa di Kecamatan Kaloran yang telah memiliki forum siaga bencana berbasis komunitas. Program ini diharapkan mampu memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana ke depan.

“Semoga apa yang telah dibahas, dibentuk, dan disepakati hari ini dapat menjadi awal yang nyata dalam membangun desa yang lebih siap, siaga, dan tangguh menghadapi potensi bencana,” harap Destian, sebagai penutup forum hari itu.

Kegiatan ini juga menjadi contoh baik kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan desa menghadapi bencana alam.