“Perhatian semuanya! 5 menit lagi bus akan sampai, pastikan barang berharga kalian jangan sampai ketinggalan di bus, ya.”
Kesal, itu yang aku rasakan setelah pemandu bus tadi menyela tidur manisku dengan mikrofon bervolume tinggi yang entah sejak kapan dipegangnya. Namun rasa kekesalanku hanya bertahan sebentar sampai aku melihat tulisan ‘Selamat Datang di Wana Wisata Coban Rondo Kota Malang, Jawa Timur’ dengan cat yang sudah agak pudar. Membayangkan sejuk dan indahnya pemandangan di sana berhasil meningkatkan dopamin-ku.
“Konon, kalo bawa pacar kesini pasti bakalan langsung putus loh” Bisik sebuah suara dari—entah siapa mungkin wisatawan lain yang percaya akan hal konyol itu. Geli, apa salah air terjun sampai dijadikan alibi renggangnya hubungan orang? Terkadang orang dewasa memang aneh, pikirku. Hal selanjutnya yang aku temui—setelah percakapan konyol tadi—adalah kerumunan wisatawan yang tengah memerhatikan sebuah papan. Cukup menarik perhatianku untuk ikut bergabung dan membaca apa yang ada di sana. Cerita tragis, mengapa wanita itu menghabiskan sisa hidupnya di air terjun? Untuk seorang cowok? Karena cinta?
Dahulu kala, lahirlah sebuah kisah di tengah pegunungan tentang cinta, kesetiaan, dan kehilangan. Semua itu berawal ketika Raden Baron Kusuma, seorang ksatria tampan nan gagah dari Gunung Anjasmoro mendengar kabar tentang seorang gadis berparas cantik dari Gunung Kawi. Dewi Anjarwati, begitulah bagaimana masyarakat memanggilnya. Konon kecantikannya bak lautan yang memancarkan sinar rembulan di kala malam—tenang, lembut, dan penuh pesona di dalamnya. Dengan niat yang mantap dan rasa suka yang semakin membuncah, Raden Baron pergi menemui Dewi Anjarwati untuk menunjukkan ketertarikannya. Lambat laun, tumbuh rasa aneh dalam diri Dewi Anjarwati. Ia tidak menyangka rasa ketertarikan membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Ia menjadi gemar bersikap manis selayaknya anak kecil supaya Raden Baron membantunya, berpoles diri supaya pria itu memujanya, membungkuskan makanan setiap pagi padahal ia tidak tahu apakah di hari itu Raden Baron akan menemuinya, dan hal konyol lain yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Cinta Raden Baron terbalas. Mereka pun memutuskan untuk menikah di saat rasa cinta mereka kian merekah.
Sebagaimana pasangan muda lainnya, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi gelak dan tawa. Seakan semuanya layak untuk ditertawakan. Saat usia pernikahan baru mencapai beberapa hari, Dewi Anjarwati meminta kepada Raden Baron untuk melakukan perjalanan berdua ke Gunung Anjasmoro, tempat tinggal orang tua Raden Baron. Karena tidak ingin mengecewakan Dewi Anjarwati, Raden Baron menyetujui ajakan tersebut. Mereka pun meminta izin ke orang tua Dewi Anjarwati. Namun, orang tua Dewi Anjarwati berpikir bahwa perjalanan tersebut adalah ide yang amat buruk. Mereka memercayai aturan yang berkembang di tengah masyarakat, bahwa pasangan yang usia pernikahannya belum mencapai ‘selapan’ atau 36 hari maka mereka tidak boleh melakukan perjalanan. ‘Pamali’, begitulah mereka menyebutnya. Mendengar hal itu, Dewi Anjarwati justru berpikir bahwa aturan itu hanya sebuah bualan konyol yang dianut para orang tua saja. Ia tetap berpegang teguh dengan keinginannya. Rasa cinta terkadang—atau mungkin sering—dapat mengalahkan segalanya, Raden Baron memilih untuk tidak mengecewakan keinginan istrinya dan mengesampingkan aturan yang dituturkan oleh mertuanya. Mereka pun memulai perjalanan di keesokan harinya.
Selama perjalanan, tidak ada sama sekali rasa gundah di tengah mereka. Hanya ada rasa bahagia, semangat, dan cinta yang amat besar. Raden Baron menunjukkan bagaimana ia amat bahagia dapat menikmati segala pesona yang ada pada Dewi Anjarwati di setiap waktunya. Namun, tanpa ia sadari, ada orang lain yang juga diam-diam ikut menikmati kecantikan dari istrinya tersebut. Ia adalah Joko Lelono, seorang pengembara muda yang tidak sengaja melihat mereka. Ia menghentikan langkahnya sejenak untuk menatap kecantikan yang ada di sana. Joko Lelono pun jatuh hati, ia mendekat untuk menyapa mereka, tentunya dengan maksud lain yakni untuk mendekatkan diri dengan Dewi Anjarwati. Raden Baron tentu merasa tidak senang dengan keberadaan Joko Lelono di antara mereka. Apalagi ketika pria asing tadi terang-terangan memuja Dewi Anjarwati di depan dirinya.
“Bersyukur aku memilih jalan ini di tengah pengembaraanku, jika aku memilih jalan lain mungkin hanya rusa lagi yang aku temui, bukan seorang dewi yang begitu elok seperti dirimu…” Tutur Joko Lelono dengan begitu manisnya, meski si penerima menelan kalimat itu dengan pahit. Dewi Anjarwati sungguh merasa tidak senang mendengarnya.
“Aku seorang pengembara, aku tidak pernah memiliki rasa takut, aku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Begitu pun dengan dirimu, jika aku harus melawan 100 pengawalmu pun aku akan tetap maju.”
Kasar, tidak sopan, begitulah kata yang pantas untuk ditorehkan pada Joko Lelono. Rasa murka yang ada pada hati Raden Baron sudah tak terbendung, hingga membawanya untuk mengajak Joko Lelono bertarung. Joko Lelono tentu mengiyakan ajakan tersebut, ia akan berjuang sepenuh tenaga untuk memenangkan hati Dewi Anjarwati dan membawanya pergi dari sana. Sebelum memulai pertarungan, Raden Baron membawa Dewi Anjarwati untuk duduk di sebuah batu di belakang air terjun dan memastikan istrinya aman di sana. Selain itu ia juga tidak ingin istrinya melihatnya bertarung dengan sengit yang mungkin akan membuatnya merasa amat khawatir. Sebelum benar-benar meninggalkan Dewi Anjarwati di sana, Raden Baron berpesan bahwa apapun yang terjadi ia berjanji akan kembali ke sana dan meminta Dewi Anjarwati untuk tidak keluar sebelum ia menjemputnya.
“Aku menunggumu dan akan selalu begitu. Kembalilah dan tepati janjimu. Aku akan menyambutmu dengan senyum terindahku, senyum yang tidak pernah kau lihat”
Selepas kepergian Raden Baron, tangis tak bisa Dewi Anjarwati bendung lagi, pikirannya berkelana memikirkan kemungkinan yang bisa menimpa suaminya. Meski begitu ia tetap berusaha keras untuk menetapkan hatinya bahwa ia hanya perlu percaya kepada suaminya, apapun yang akan terjadi ia akan tetap memegang teguh pesan yang Raden Baron sampaikan, sebesar apapun rasa ia ingin berlari keluar dari balik derasnya luruh air terjun ini.
Pertarungan pun dimulai. Tidak ada rasa kemanusiaan lagi di antara mereka, hanya satu tujuan yang ingin mereka capai yakni memusnahkan musuh masing-masing. Dengan kata lain tidak ada kata berhenti sebelum salah satu dari mereka mati di tempat. Tanpa mereka sadari pertarungan telah berlangsung selama 3 hari. Waktu yang cukup lama untuk pertarungan antara 2 orang. Keadaan mereka sudah amat buruk, stamina mereka sudah terkuras habis, luka dan darah menghiasi sekujur tubuh mereka. Hingga akhirnya mereka tumbang satu persatu. Tidak ada yang selamat di antara mereka berdua. Rasa sedih dan kecewa mengisi relung hati Raden Baron sebelum ia benar-benar menghirup udara untuk yang terakhir kali.
Semua kisah cinta yang baru mereka ukir dalam waktu singkat ini akan sirna begitu saja. Meninggalkan luka mendalam bagi Dewi Anjarwati yang masih setia menunggu di balik air terjun tanpa mengetahui bahwa suaminya sudah mati. Karena rasa cintanya yang begitu besar, semua pesan terakhir yang keluar dari mulut Raden Baron seolah menjadi sebuah mantra sihir yang dapat membuatnya tenang sedikit karena memikirkan bahwa suaminya akan kembali lagi, menjemputnya dengan senyuman lebar yang ia janjikan sebelumnya, tanpa tahu menahu bahwa Raden Baron tidak akan pernah dapat melihatnya. Dewi Anjarwati menunggu di sana hingga dunia merenggut nyawanya. Masih di tempat yang sama, sebuah batu di belakang air terjun yang kini dikenal dengan nama “Air Terjun Coban Rondo”. Sebuah tempat yang menjadi akhir dari kisah cinta, kesetiaan, dan kehilangan Raden Baron dan Dewi Anjarwati.
Kisah Raden Baron Kusuma dan Dewi Anjarwati menjadi sebuah kisah legenda munculnya sebutan “Coban Rondo” yang memiliki makna “Air Terjun Janda”. Sebab di tempat itulah Dewi Anjarwati berubah status dari seorang istri menjadi seorang janda setelah Raden Baron Kusuma meninggal dunia.
Jadi, pemikiran konyol orang dewasa yang menurutku geli—dan masih seperti itu—tak luput dari cerita yang ada pada papan tadi, yang baru saja aku ceritakan. Seolah tempat ini dapat mendatangkan sial kepada pasangan yang hanya ingin menikmati liburan mereka dengan berwisata alam. Padahal menurutku tempat ini justru menjadi bukti di mana rasa cinta dan kesetiaan seseorang dapat ter ekspresikan dengan cara paling sederhana, percaya. (*)
Oleh Nurya Dewi Masfufah