Smart Grid di Indonesia

Smart grid didefinisikan sebagai konsep modernisasi jaringan listrik menggunakan teknologi canggih digital untuk memantau dan mengelola transportasi listrik dari semua sumber pembangkit untuk memenuhi kebutuhan listrik yang bervariasi dari pengguna akhir. memastikan semua operasi dari sistem bekerja secara efisien, ekonomis, dan aman. Setiap negara akan memiliki konsep smart grid yang berbeda menyesuaikan kasus-kasus yang ada di tiap-tiap negara. Smart grid memiliki dampak yang signifikan terhadap efisiensi konsumsi energi, optimasi distribusi energi, integrasi energi terbarukan, reduksi emisi karbon.

Rasio kebutuhan energi listrik di Indonesia akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya industri, perkantoran, dan perumahan. Pada tahun 2014 rasio elektrifikasi naik mencapai 84,35% naik sebesar 3,84% dari tahun 2013 yang sebesar 80,51%. Target dari Kebijakan Energi Nasional yaitu tercapainya rasio elektrifikasi yang mendekati 100% pada tahun 2025. Diharapkan juga pembangkit listrik pada tahun 2025 mencapai 115 GW dan mencapai 430 GW pada tahun 2050, serta konsumsi energi sekitar 1,4 TOE per kapita pada tahun 2025 dan 3,2 TOE per kapita pada tahun 2050. Selain itu, pemerintah Indonesia juga menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Dengan kebutuhan energi listrik dan target-target yang telah disebutkan maka diperlukan langkah yang tepat dalam hal perencanaan dan manajemen pembangkit, transmisi dan distribusi energi listrik.

Indonesia menargetkan lima sistem smart grid pada tahun 2020 hingga 2024 di Jawa- Bali yang mana dalam 5 tahun ke depan direncanakan ada 25 sistem smart grid baru yang terbangun dan kemudian secara bertahap diterapkan di luar Jawa-Bali. PT PLN (Persero) menetapkan timeline Smart Grid menjadi dua periode, periode pertama pada tahun 2021-2025 memiliki inisiatif utama dalam sistem manajemen distribusi, digitalisasi pembangkit, Electric Vehicle charging, Smart Microgrid dan Advanced Metering Infrastructure. Kemudian pada periode kedua yang rencananya dilaksanakan pada tahun 2026 akan memiliki inisiatif utama dalam peningkatan Supervisory Control And Data Acquisition, Interkoneksi sumber daya energi terdistribusi, penyimpanan energi, dan respon permintaan.

Penerapan smart grid di Indonesia sangat diperlukan, mengingat kondisi geografis Indonesia dengan 17.000 pulau besar dan kecil. Sistem ini juga akan menjadi fondasi penting dalam mendukung transisi menuju net zero emission di masa depan. Dalam penerapannya, tantangan seperti standarisasi harus dapat diselesaikan dengan baik, sehingga nantinya dapat menarik minat investor. Selain itu kebijakan serta sosialisasi terhadap penerimaan masyarakat guna keberlangsungan penerapan smart grid di Indonesia sangat diperlukan. Sistem ini akan menjadi fondasi penting dalam mendukung transisi menuju net zero emission di masa depan.

Kesimpulannya, banyaknya pulau-pulau serta kebutuhan energi listrik yang besar, Indonesia memerlukan sebuah sistem yang dapat memenuhi pasokan energi listrik dan dalam bentuk yang efisien serta ramah lingkungan. Smart grid menjadi salah satu solusi untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam perencanaan dan manajemen pembangkit, transmisi, dan distribusi energi listrik, serta mendukung pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).(*)

Oleh Muhammad Ariq Naufal