Opini : Healing Sebagai Fenomena Budaya Pop di Kalangan Milenial dan Gen Z

Pendahuluan

Artikel berjudul “Makna Healing dalam Budaya Pop Milenial dan Gen Z” karya Alda Septianti Agustin, Khansa Muthmainna, dan Nazwa Winaya Salsabila membahas fenomena populer yang tengah marak di kalangan generasi muda, yaitu “healing”. Istilah ini awalnya mengacu pada upaya penyembuhan mental dan emosional dari stres atau trauma, namun dalam perkembangannya mengalami pergeseran makna menjadi gaya hidup modern yang identik dengan aktivitas liburan, nongkrong di kafe, hingga self-care. Artikel ini mencoba menggali makna “healing” dalam konteks budaya populer, serta bagaimana Gen Z dan milenial mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Isi/Argumentasi

Artikel ini berhasil menunjukkan bahwa praktik healing kini tidak lagi terbatas pada pendekatan klinis, melainkan telah bertransformasi menjadi aktivitas personal yang fleksibel. Aktivitas healing yang dipilih generasi muda meliputi wisata alam, journaling, olahraga, konsumsi konten media sosial, hingga sekadar menikmati waktu sendiri. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma: dari pemulihan diri berbasis terapi medis ke arah pengalaman rekreasi yang lebih sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan keseharian.

Penulis artikel juga menekankan bahwa media sosial memiliki peran besar dalam mempopulerkan tren ini. TikTok dan Instagram, misalnya, kerap menampilkan konten “healing” yang berhubungan dengan perjalanan, staycation, atau gaya hidup santai. Fenomena ini pada satu sisi berdampak positif karena memberi ruang bagi generasi muda untuk menjaga kesehatan mental, mengurangi stres, dan memperkuat daya tahan psikologis.

Namun, artikel ini juga dengan tepat mengkritisi sisi problematis dari tren healing, terutama dalam hal komersialisasi. Banyak anak muda kemudian memandang healing identik dengan aktivitas mahal dan glamor, sehingga esensi sejatinya yaitu pemulihan diri secara sederhana sering terabaikan. Akibatnya, healing bisa melahirkan ekspektasi tidak realistis, bahkan menambah tekanan sosial bagi mereka yang tidak mampu mengikuti gaya hidup tersebut.

Saya menilai artikel ini menyajikan argumen yang logis dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Fenomena healing bukan sekadar kebiasaan sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari budaya pop yang membentuk pola pikir, konsumsi, dan gaya hidup generasi muda. Dengan mengaitkan penelitian literatur, survei, dan analisis media sosial, artikel ini memberikan gambaran menyeluruh tentang kompleksitas makna healing di era digital.

Kesimpulan dan Saran

Secara keseluruhan, artikel ini memberikan kontribusi penting dalam memahami pergeseran makna healing di kalangan milenial dan Gen Z. Healing bukan lagi sekadar praktik medis atau psikologis, melainkan telah menjadi bagian dari budaya populer yang dipengaruhi digitalisasi. Meski membawa dampak positif bagi kesehatan mental, tren ini juga berpotensi menimbulkan masalah baru ketika dimaknai secara berlebihan atau dikomersialisasi.

Saya berpendapat bahwa healing perlu diletakkan kembali pada esensi awalnya, yaitu pemulihan diri secara autentik dan sederhana. Generasi muda perlu menyadari bahwa healing tidak harus mahal atau mengikuti standar media sosial. Pemerintah, lembaga pendidikan, maupun industri kreatif juga dapat berperan dengan memberikan edukasi terkait bentuk-bentuk healing yang sehat, realistis, dan mudah diakses. Dengan demikian, healing dapat benar-benar menjadi sarana pemulihan mental yang inklusif, bukan sekadar tren konsumtif semata.

NAMA                                   : Andrean Maulana Haikal

NIM                                        : 2502020176

Mata Kuliah                          : Dasar-Dasar Sintaksis