Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau sehingga terdapat banyak ras dan suku bangsa yang mempunyai budaya tersendiri. Perbedaan budaya inilah yang menyebabkan Indonesia kaya akan kebudayaan. Khususnya pada kebudayaan Jawa, banyak sekali kebudayaan Jawa yang masih dilestarikan secara turun temurun, salah satunya kebudayaan yang berasal dari daerah Kabupaten Brebes, tepatnya di desa Pandansari, Desa Pandansari sendiri merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Paguyangan, Kab. Brebes bagian selatan, Desa tersebut memiliki satu kebudayaan yang unik dan masih terjaga hingga sekarang, yakni tradisi Ratiban.
Di era zaman sekarang, tradisi ratiban rawan sekali mengalami kepunahan, karena tidak dapat dipungkiri lagi, generasi sekarang lebih mementingkan dunia mayanya dibandingkan dunia nyatanya, dan konsekuensinya banyak anak zaman sekarang tidak mengetahui makna filosofis dari tradisi ratiban dan prosesi yang dilakukan selama tradisi ratiban berjalan.
Ratiban merupakan tradisi yang diabadikan oleh masyarakat desa Pandansari sebagai wujud ungkapan syukur kepada Allah SWT atas kelimpahan dan keberkahan di Desa Pandansari, dan juga sebagai bentuk permohonan agar dijauhkan dari segala musibah. Tradisi ini meliputi beberapa prosesi yang dilakukan, dan setiap prosesi yang dilakukan ada maknanya tersendiri, maka dari itu, orang yang terlibat harus mempersiapkan segala prosesi tradisi dengan benar dan teliti.
Beberapa prosesi yang dilakukan oleh Masyarakat Pandansari acara Ratiban 2024, antara lain:
- Pra-Acara Ratiban
Pra acara diisi oleh berbagai penampilan kesenian tradisional lokal asli Pandansari, dan kesenian tersebut dilakukan sekelompok warga lokal yang sudah ahli dalam bidang kesenian, seperti tari ronggeng, grup calung, dan karawitan, semuanya Pra acara diisi oleh berbagai penampilan kesenian tradisional lokal asli Pandansari, dan kesenian tersebut dilakukan oleh sekelompok warga lokal yang sudah ahli dalam bidang kesenian, seperti tari ronggeng, grup calung, dan karawitan, semuanya.
- Kirab Tumpeng
Kirab tumpeng dalam tradisi Ratiban adalah bentuk dari wujud rasa syukur Masyarakat Desa Pandansari atas limpahan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Prosesi ini dilakukan setelah pra acara selesai, ritual kirab tumpeng menjadi ritual inti dari rangkaian acara ratiban. Setiap RT di Desa Pandansari membuat satu tumpeng untuk diarak dari kantor balai Desa Pandansari menuju halaman Telaga Ranjeng dengan perkiraan jarak sejauh 1 km. Ratusan masyarakat Pandansari berbondong-bondong mengarak tumpeng melewati keindahan lereng Gunung Slamet. Tidak hanya tumpeng saja yang diarak, tetapi ada hasil bumi lain seperti: Buah-buahan dan sayur-sayuran yang dibentuk gunungan juga darak oleh masyarakat Pandansari.
- Pembacaan Doa
Setelah sambutan selesai dilanjut dengan pembacaan doa, pembacaan doa bertujuan sebagai permohonan supaya hajatnya bisa terkabulkan, dilimpahkan rezekinya, dan dijauhi dari marabahaya.
- Pelarungan Sesaji dan Bunga
Ketika doa sudah selesai dibacakan dengan khitmat, prosesi selanjutnya ialah pelarungan sesajen dan bunga yang dilakukan oleh sang juru kunci Telaga Ranjeng. Sesajen dan bunga sudah dipersiapkan dari masing-masing perwakilan RT. Pelarungan sesajen dan bunga mempunyai arti sebagai bentuk masyarakat Pandansari untuk mendoakan roh nenek moyangnya yang sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka.
- Tumpengan/Makan Bersama/Penutup
Setelah melalui serangkaian prosesi acara Ratiban, makan tumpeng secara bersama-sama merupakan prosesi terakhir dalam acara Ratiban. Masyarakat Pandansari menyebutnya dengan sebutan makan takiran. Makan secara bersama-sama mempunyai manfaat tersendiri, yaitu menambah solidaritas masyarakat Pandansari, dan menambah rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Ratibaan merupkan tradisi yang sudah dilakukan turun temurun oleh masyarakaat setempat, tradisi Ratiban dilakukan melalui beberapa prosesi, prosesi tersebut dilakukan secara khidmat oleh masyarakat setempat, karena disetiap prosesi yang dilakukan, terrdapat nilai nilai yang terkandung didalamnya, seperti nilai sosial, nilai ekonomi, dan nilai religious.
Penulis berharap, pembaca, bisa menyeimbangkan antara dunia mayanya dengan dunia nyatanya, sehingga apabila didaerahnya terdapat tradisi yang serupa, dapat memahami seluruh makna filosofisnya, serta dapat ikut serta melestarikan supaya tradisinya tidak hilang termakan oleh kemajuan zaman.(*)
Oleh Ahmad Marsel Ramadlani