Kesederhanaan di Ponpes Darul Amanah

Perkenalkan saya Fika Aulia Salsabila. Saya ingin membagikan pengalaman saya tentang “kehidupan sederhana di Pondok Pesantren Darul Amanah”

Awal aku melangkahkan kaki di Pondok Pesantren Darul Amanah dengan rasa campur aduk. Udara pagi yang sejuk di pedesaan yang tenang sangat terasa menyambutnya, jauh dari kota. Bangunan gedung yang sederhana, masjid yang kokoh, serta deretan kamar santri yang berjejeran di setiap gedungnya, semua terlihat asing tapi sangat menenangkan. Ini adalah awal dari kehidupan baru, jauh dari keluarga dan jauh dari kenyamanan rumah.

Beberapa hari pertama adalah masa penyesuaian yang cukup berat. Jadwal yang padat, makanan yang sederhana, serba mengantri, dan aturan yang sangat ketat yang membuatku terkejut. Namun, senyum ramah dan bimbingan dari para Ustadz/Ustadzah dan para santri senior perlahan meluluhkan keraguanku. Perlahan aku mulai memahami bahwa kesederhanaan di Darul Amanah itu bukanlah kekurangan dan ancaman yang menakutkan, melainkan sebuah filosofi hidup yang membentuk karakter pada diri kita sendiri.

Pukul 03.10, suara bel yang menginformasikan bahwa seluruh santri untuk persiapan untuk bangun, berwudu, dan persiapan untuk menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid. Pukul 03.30, suara bel yang menginformasikan bahwa seluruh santri untuk berangkat sholat berjamaah ke masjid. Di masjid yang terang, barisan yang rapi, melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan khusuk, mengisi reluh hati yang masih mengantuk.

Setelah Subuh, tidak ada waktu untuk kembali ke kasur. Aku langsung melanjutkan tadarus Al-Qur’an dan setoran mengaji dengan bimbingan para Ustadzah. Matahari mulai terbit dan lanjut pembelajaran kosakata, melanjutkan olahraga seperti senam dan lari-lari dengan semangat supaya badan tetap sehat.

Pagi menjelang siang diisi dengan bersih-bersih pondok. Ada yang membersihkan rumah pemimpin, menyapu kelas, membersihkan kamar, membersihkan lapangan, membersihkan kamar mandi, menyabuti rumput, membantu mempersiapkan makanan di dapur, dll diiringi ocehan dan tawa kecil yang pecah. Keringat yang mengalir menjadi saksi bisu seperti keluarga besar yang saling membantu. Setelah itu, kami melanjutkan sarapan sederhana, namun penuh berkah dan enak bikin kami merasa cukup dan bersyukur. Apalagi sambil diiringi lagu Arab atau Inggris.

Di sini, aku tak hanya belajar ilmu agama saja seperti kitab kuning dan bahasa arab, tetapi juga belajar pelajaran umum, sejarah, berorganisasi dan public speaking. Siang hari,aku melakukan Salat Dhuhur berjamaah di masjid, dan melanjutkan makan siang sederhana di dapur, namun penuh berkah. Kalau ada waktu kosong, kami suka cerita-cerita santai sambil ketawa bareng, bikin suasana nggak tegang dan lebih akrab. Walau jauh dari keluarga, aku merasa pondok itu seperti rumah sendiri. Teman dan ustazah jadi saudara yang selalu suport aku.

Sore hari, kami kembali ke masjid untuk sholat Ashar berjamaah. Setelah itu, aku belajar kosakata lagi, suasana sore biasanya terasa lebih tenang. Biasanya diisi dengan bersih-bersih pondok dijadwal per gedung, misalnya untuk hari Senin itu untuk gedung dzulkarnain dan yaman, selasa itu untuk Gedung Yaman dan Syria, dan seterusnya. Setelah itu aku bersih-bersih dan mempersiapkan diri untuk sholat maghrib berjamaah di masjid dan mempelajari kitab (Al-Fahmu, kitab kuning, dan tajwid).

Magrib adalah waktu kami semua berkumpul di masjid untuk sholat berjamaah, berdzikir, dan membaca wirid bersama-sama, belajar kitab (al-fahmu, kitab kuning, dan tajwid) sampai waktu Isya tiba. Setelah Isya, kami makan malam sederhana di dapur dengan penuh berkah. Setelah makan kami belajar sendiri atau perkelompok di tempat masing-masing yang sudah ditentukan. Kami sering berdiskusi untuk memahami pelajaran lebih dalam. Buku-buku telah menanti, ditemani secangkir teh hangat dan susu.

Tentu saja ada saatnya aku merasa rindu rumah, keluarga dan saat kesulitan belajar. Tapi saat-saat seperti itu, Fika selalu mendapatkan suport/dukungan dari teman- teman dan para ustadzah. Kesederhanaan ini mengajarkan untuk menghargai hal hal kecil. Persahabatan di pondok sangatlah erat. Kami tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, sekolah bersama, ngaji bersama, antri bersama, bahkan di hukum bersama. Kamisudah seperti keluarga, saling mendukung, melindungi, dan mengingatkan dalam kebaikan.

Aku sadar, mondok ini bukan hanya sekedar tempat untuk mencari ilmu, tetapi juga tempat untuk membentuk karakter. Aku belajar tentang kesabaran, kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan ukhuwah islamiyah. Waktu berjalan berlalu, dan aku tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Pondok Pesantren Darul Amanah adalah tempat yang sangat berarti. Kesederhanaan hidup yang dulu terasa berat, kini menjadi dasar yang kuat dalam hidupku.

Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya tentang kemewahan, namun tentang keberkahan, pengalaman, dan rasa syukur. Setiap doa adalah jembatan menuju ketenangan, tetapi disetiap kehidupan kita harus tetap melibatkan ridho orangtua karena, ridhonya Allah adalah rida orang tua juga. Dan setiap persahabatan adalah hadiah yang tak ternilai harganya.

Setiap kali mengingat masa-masa di Pondok Pesantren Darul Amanah, aku selalu tersenyum. Pondok Pesantren Darul A manah itu adalah rumah baagiku, tempat aku menemukan pengalaman, bakat, dan makna hidup yang sederhana tetapi penuh berkah dan harus disyukuri.(*)

Oleh Fika Aulia Salsabila