Pada zaman sekarang sikap apatis sudah hampir tidak terlihat , namun bukan berarti sudah tidak ada orang yang memiliki sikap apatis, dan parahnya ada pula generasi muda yang menjadikan sikap apatis tersebut sebagai cerminan, mereka cenderung berfokus pada kepentingan pribadi mereka dan mengabaikan kondisi sekitarnya..Kegiatan kepramukaan hadir sebagai salah satu sarana Pendidikan karakter yang cukup efektif untuk menumbuhkan rasa empati para generasi muda terhadap sesama makhluk hidup seperti dasa dharma pramuka nomor dua yang berbunyi “cinta alam dan dan kasih sayang sesama manusia” selain peduli terhadap sesama manusia kita juga harus memiliki rasa peduli terhadap alam, karena dialam juga ada makhluk ciptaan tuhan yang harus kita jaga dan lestarikan.
Awalnya saya bukan tipe orang yang peduli, saya sering berpikir bahwa setiap urusan seseorang adalah tanggung jawab dari orang tersebut. Padahal nyatanya ada beberapa perkara yang bisa berubah menjadi tanggung jawab kita terhadap orang tersebut, seperti menolongnya disaat dia membutuhkan bantuan, tapi jika orang tersebut membuat kesalahan yang disebabkan oleh kecerobohan dirinya sendiri maka kita hanya perlu mengingatkannya agar lebih berhati-hati dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, bagaimanapun juga kita harus bisa membedakan mana orang yang benar- benar membutuhkan bantuan kita dan orang yang memang kurang bertanggungjawab atas dirinya sendiri.
Sebenarnya saya bersikap dingin seperti itu karena saya takut dimanfaatkan orang karena terlalu baik, sifat tersebut muncul sebagai rasa perlindungan saya, karena saya banyak mendengar cerita tentang orang baik yang sering dimanfaatkan orang lain karena terlalu polos dan takut dengan ancaman dari beberapa pihak, sikap-sikap menyebalkan tersebut mulai menempel pada diri saya dan saya sangat susah untuk melepaskannya. Tapi semua berubah ketika saya bergavbung dengan slaah satu organisasi kepramukaan disekolah saya.
Semua bermula dari diri saya yang mengikuti seleksi dewan ambalam tingkat penegak, saya mengikuti seleksi ini awalnya hanya karena saya iseng karena seleksinya berlokasi di pantai, seleksi berlangsung selama dua hari satu malam, didalam kegiatan tersebut banyak hal yang bisa saya ambil salah satunya adalah kebersamaan dan jiwa korsa, saya mengerti apa itu jiwa korsa tapi saya masih sulit untuk menerapkannya dikehidupan saya, saya masih terus-terusan bersikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar saya
bahkan kepada orang terdekat saya yaitu orang tua saya, saya masih bersikap dingin dan belum bisa mengungkapkan rasa peduli dan sayang saya kepada mereka.
Hal yang tak terduga pun datang, saat para dewan ambalan yang masih menjabat telah menempelkan hasil siswa yang lolos seleksi untuk meneruskan tugas mereka, semua siswa berbondong-bondong melihat pengumuman tersebut di mading sekolah, namun saya tidak melihatnya karena saya pikir saya tidak lolos seleksi, sampai ada teman saya yang memberitahu sya bahwa saya lolos seleksi dewan ambalan, setelah saya mendengar kabar tersebut dari teman saya, saya langsung bergegas menuju kemading sekolah dan mengecek kebenaran informasi tersebut, dan ternyata memang benar saya lolos seleksi dewan ambalan, disaat itu pikiran saya bingung dan takut karena saya takut tidak bisa bertanggungjawab atas tugas yang saya emban.
Keluar dari zona nyaman adalah salah satu cara untuk meningkatkan potensi diri, jadi saat saya mengetahui bahwa saya lolos seleksi saya tidak berfikir untuk mengundurkan diri dari organisasi, tetapi saya memilih tetap berada dalam organisasi tersebut agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa bermanfaat bagi orang sekitar, salah satunya dalam bentuk peduli terhadap sesama, saya yakin jika seseorang berusaha maka tidak ada hasil yang sia-sia, meskipun hasil belum tentu datang setelah usaha yang pertama dilakukan. Semua tergantung niat dan usaha kita dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan. Awal saya menjabat sebagai anggota ambalan saya sedikit tidak nyaman karena banyak sekali kegiatan sosial yang dilakukan didalam organisasi tersebut, tapi saya ettap berusaha beradaptasi dengan semua kegiatan yang telah diadakan.
Beberapa bulan telah berlalu tapi diri saya masih meras tidak nyaman dengan semua kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, ditambah dengan semua orang dengan sifat yang berbeda-beda yang kita harus saling mengerti satu sama lain dan menyesuaikan dengan tempat kita berada, itu membuat saya berpikir beberapa kali untuk tetap bertahan didalam organisasi tersebut, tapi hati dan otak saya tidak pernah bersatu, hati saya berkata “kamu harus sabar dan berusaha lagi agar kamu bisa mencapai apa yang kamu inginkan selama ini yaitu sikap empati” tapi otak saya mengatakan “ keluar aja mengundurkan diri buat apa empati sama orang, mereka hanya akan membuang waktumu dan menghabiskan tenagamu” keadaan ini membuat saya bingug apakah saya harus bertahan atau menyerah begitu saja.
Setelah berpikir beberapa kali saya akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan diposisis ini, sampai pada saat kegiatan perkemahan yang dilaksankan dipertengahan menjelang akhir periode yang berlokasi digunung, saya lumayan menikmati perkemahan
tersebut, tapi ketika rangkaian acara hiking dimulai saya dan teman satu departemen dengan saya, pergi untuk mengawasi jalannya hiking, diakhir perjalanan Ketika para peserta hiking sudah berjalan lebih jauh dari saya dan teman satu departemen saya, teman saya mulai mengeluh kepada saya capek karena berjalan terlalu jauh dan meminta tolong kepada saya agar saya menunggunya untuk beristirahat, tetapi saya malah bersikap dingin kepada teman saya tersebut dan langsung meninggalkannya begitu saja ditengah hutan yang berada digunung, saya langsung pergi menuju lokasi perkemahan, saat itu yang ada dipikiran saya hanya saya harus segera sampai dilokasi perekemahan tepat waktu tanpa memikirkan bahaya yang akan terjadi kepada teman saya tersebut.
Tibalah di lokasi perkemahan, disitu saya masih berpikir tentang diri saya sendiri tanpa perasan bersalah, sudah setengah tahun lebih tapi sikap saya masih belum berubah dan masih bersikap individual, kegiatan demi kegiatan telah berlangsung tapi tetap saja hasilnya tetap sama, saya mulai merasakan ada perubahan sikap pada diri saya ketika sudah mencapai akhir periode, disaat itu saya mulai sadar bahwa semua sikap dingin yang saya berikan keorang-orang membuat dampak negatif yang bisa membahayakan seseorang pada waktu-waktu tertentu, saya sedikit demi sedikit berusaha merubah sikap dingin saya menjadi sikap yang selalu hangat kepada orang-orang. Tapi sikap saya bisa berubah Kembali menjadi dingin bila seseorang tersebut mengecewakan saya, jadi sekarang saya memperlakukan seseorang sesuai dengan bagaimana orang tersebut memperlakukan saya.
Saya sudah bisa mulai berpikir dengan hati yang lembut, setiap saya ingin melakukan suatu tindakan yang sekirannya membuat orang tersebut tidak nyaman atau malah bisa sakit hati saya selalu berpikir bagaimana jika saya yang berada diposisinya, konsep berpikir tersebut membantu saya agar lebih sayang kepada sesama manusia, seperti bunyi dasa dharma pramuka nomor dua dan nomor lima, tetapi seklai lagi saya akan selalu berhati-hati dengan orang yang memang berpura-pura membutuhkan bantuan.
Rasa menyesal memang ada tapi bagaimanakah kita menanggapi penyesalan tersebut apakah kita akan tetap diam dan terus menyesalinya ataukah kita akan merubah rasa menyesal tersebut menjadi pelajaran dan tidak akan mengulanginya lagi, dari kegiatan kepramukaan ini saya banyak mendapatkan pelajaran tidak hanya tentang materi kepramukaan tapi juga tentang pembelajaran bahwa dikehidupan ini kita merupakan makhluk sosial yang sling membutuhkan satu sama lain.(*)
Oleh Rona Rihadatul Ais