Setiap orang memilih jalan hidup dan takdirnya masing-masing. Dan di dalam perjalanannya pasti terdapat dua pilihan, yaitu mereka memilih tetap berada di dalam zona nyaman yang tentram atau memilih perubahan untuk meraih kehidupan yang diimpikan.
Saya adalah salah satu yang harus memilih. Enam tahun hidup saya dihabiskan di sebuah pondok pesantren, sejak SMP hingga SMK. Lingkungan ini bukan hanya sekolah, melainkan sebuah dunia tersendiri yang membentuk pribadi saya. Bagi yang belum akrab, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan agama islam yang menyelenggarakan pendidikan diniyah, serta membentuk karakter & akhlak melalui dakwah atau ajaran yang disampaikan sehari-hari di dalamnya. santri adalah orang yang mendalami ilmu agama di pondok pesantren. Umumnya mereka wajib tinggal di pondok atau asrama yang disediakan.
Orang tua saya memiliki alasan kuat untuk menitipkan saya di sana. Selain untuk menuntut ilmu agama dan sekolah, mereka ingin saya terlindungi dari kekhawatiran akan pergaulan remaja masa kini. Harapannya, sebagai anak perempuan saya tumbuh menjadi pribadi yang taat beragama dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Di balik tembok pesantren, saya belajar banyak hal berharga, ilmu yang diajarkan akan menjadi bekal untuk hidup bermasyarakat. Kami diajarkan bagaimana menjadi pribadi yang bisa membedakan antara baik dan buruk, belajar tetap taat agama di tengah zaman yang terus berubah, serta meraih kesuksesan di dunia maupun akhirat.
Secara tidak langsung kami juga diajarkan tentang peran ideal perempuan yang telah membudaya, pola pikir yang ditanamkan seringkali mengarah pada satu jalan: setelah lulus, fokuslah mengurus rumah tangga, tidak perlu berkarir. Pasca lulus SMK, para santri biasanya diajak mengaji dan mengabdi, hingga sekiranya kita sudah cukup bekal ilmunya untuk terjun ke masyarakat.
Hidup dipondok itu terasa aman dan teratur. Segala sesuatunya sudah ditata. Bahkan, masa depan pun seolah telah dipetakan. Bagi para santri yang lanjut mengaji dan mengabdi, telah disiapkan pekerjaan bagi yang membutuhkan, misalnya menjadi guru ngaji di pondok. Dan bagi santri yang terkendala biaya untuk mondok, akan dibantu oleh pihak yayasan. inilah yang saya sebut sebagai zona nyaman.
Dalam zona nyaman itu, kami dapat terbebas dari risiko gagal dalam pergaulan, juga dari tantangan mencari kerja di dunia luar, kami hanya perlu menjalani alur yang sudah ditetapkan. Semuanya serba pasti dan minim gejolak.
Memasuki kelas 2 SMK, pikiran saya mulai dihantui pertanyaan besar. Apa benar ini yang saya mau? Saya pun mulai merencanakan masa depan dengan dua opsi yang sangat berbeda. Opsi pertama adalah lanjut mondok secara salaf: hidup tenang, tanpa tugas kuliah atau kesulitan mencari kerja.
Opsi kedua adalah keluar dari pondok, mendaftar SNBP, kuliah dan mengejar cita-cita sebagai wanita karier. Pilihan ini berarti saya harus siap menghadapi segala tantangan, mulai dari persaingan akademis hingga kerasnya dunia kerja. Saya juga harus pandai-pandai menjaga diri dari pergaulan yang lebih luas.
Proses pertimbangan ini membuat saya terus bergulat dengan diri sendiri. Di satu sisi, ada kenyamanan dan keamanan. Di sisi lain, ada cita-cita dan keinginan untuk merasakan pengalaman berbeda yang mungkin tak akan terulang.
Akhirnya, di kelas 3 SMK, saya pun memutuskan. memantapkan hati untuk memilih perubahan. Saya mendaftar kuliah melalui SNBP dan mempersiapkan diri untuk merantau. Orang tua saya mendukung dan melihat ini sebagai langkah positif, di mana saya kelak dapat mandiri secara finansial dan membantu keluarga. Mereka juga berharap saya, sebagai perempuan tidak perlu bergantung sepenuhnya pada laki-laki atau pasangan dimasa depan.
Keluar zona nyaman bukan berarti meninggalkan semua pelajaran dan nilai-nilai baik dari pesantren. Justru, bekal itulah yang menjadi fondasi bagi saya. Memilih perubahan ibarat melompat dari tebing, dengan keyakinan bahwa sayap kita akan tumbuh sebelum mendarat. Biarlah proses dan pengalaman membuktikan, sayap itu memang tumbuh saat kita berani melompat.(*)
Oleh Tazkia Halwa Muhayya