Perempuan Juga Berhak Sarjana

Di tengah ramainya percakapan teman-temanku sore itu, aku hanya terdiam menahan tangis. “Kamu mau lanjut ke mana?” tanya salah satu temanku, yang berhasil membuat tangisku pecah. Membuat ketiga puan di depanku bingung, kenapa aku tiba-tiba menangis begitu saja? Mereka tak paham alasannya—lebih tepatnya belum. Tuhan, aku sungguh ingin kuliah.

Lahir dari keluarga yang kurang mampu dan masih mengandung pemikiran patriarkisme, tentu saja aku mendapat larangan untuk melanjutkan pendidikan. Bagi mereka, kuliah itu percuma bagi perempuan, toh akhirnya bakal di dapur juga. Hal ini sempat membuat tekadku menciut, tapi aku tidak menyerah sama sekali.

Aku mencoba menjelaskan kepada orang-orang di sekitarku bahwa ada yang namanya beasiswa. Tapi mereka tetap tidak yakin dengan pilihanku. Alhasil, aku mendaftar ke perguruan tinggi tanpa izin restu dari orang tua. Dan mungkin memang benar, doa orang tua adalah kuncinya, aku ternyata gagal pada tes UTBK. Namun aku masih belum puas, aku mencoba lagi dengan jalur mandiri, menggunakan uang yang aku tabung sendiri. Tapi hasilnya juga sama, kegagalan menjemputku untuk kedua kalinya.

Kegagalan tersebut terus menghantui pikiranku, aku sering menyalahkan diri sendiri. Mengapa aku tidak belajar lebih giat lagi? Mengapa aku tak sepintar teman-temanku? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan akses pendidikan yang sama seperti mereka? Tempat les mahal dan buku-buku tebal. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini berkecamuk tanpa henti. Aku sempat mengalami depresi karena ditolak oleh universitas yang aku inginkan. Bukan universitas ‘itu’ kok, aku ditolak Universitas Negeri Semarang dulu. Aku pun mencoba menenangkan diri dan ikhlas, mungkin memang belum takdirnya.

Setelah tertolak dua kali, aku memutuskan untuk mencoba lagi tahun depan. Aku akhirnya mulai masuk ke dunia kerja. Pengalaman kerja pertamaku sungguh melelahkan, masuk jam 7 pagi dan pulang jam 7 malam. Gaji yang tak seberapa, akhir pekan yang tak ada liburnya, membuatku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut.

Aku mencoba pekerjaan lain, sambil menabung sedikit demi sedikit untuk modal mendaftar kuliah. Namun aku sepertinya memang belum cocok untuk langsung terjun ke dunia kerja, mengingat aku hanyalah lulusan SMA. Aku memutuskan untuk memfokuskan diri belajar sambil bekerja sampingan di media sosial. Walau hasilnya tak seberapa, setidaknya hasil dari jerih payahku dapat sedikit meringankan beban orang tua.

Banyak dari teman-temanku yang mendukung niatku untuk berkuliah. Bahkan beberapa temanku pun ada yang membantu prosesku belajar, seperti mengajarkan materi yang tak aku pahami, bahkan sampai membayarkan uang untuk mengikuti kelas daring. Hal inilah yang menjadi motivasiku untuk terus belajar.

Waktu tes UTBK pun makin dekat. Makin banyak tekanan yang kudapatkan karena tak kunjung menguasai beberapa materi. Ditambah larangan dari kakakku sendiri untuk tidak mengikuti tes pendaftaran lagi. Semua lelahku bercampur jadi mimpi, aku terbangun dengan pipi berlinang air mata.

Tidak ada yang mendukung pilihanku. Aku merasa egois karena tetap ingin melanjutkan pendidikanku ke tingkat yang lebih tinggi.

Hari pendaftaran pun telah tiba, namun jari-jemariku masih meragu, “Kalau aku daftar, nggak apa-apa kan?” tanyaku dalam hati untuk diriku sendiri. Setelah hembusan napas panjang yang keenam, aku mengisi data diri. Mendaftar tes tanpa sepengetahuan keluargaku. Memberitahu mereka saat waktu tes sudah dekat sambil meminta restu. Nenek yang melihatku tetap teguh ingin berkuliah pun akhirnya luluh, memberikan doa restu semoga aku mendapatkan tujuan yang aku mau. Hal ini membuatku lebih lega karena setidaknya ada seseorang yang mendukungku. Kali ini aku berangkat dibekali doa.

Tes kukerjakan dengan sungguh-sungguh, namun tetap saja masih ada beberapa soal yang aku tidak bisa. Sedikit khawatir tentang hasilnya, takut akan lebih buruk dari tahun lalu. Dan benar saja, total keseluruhan dari skorku lebih kecil dari tahun lalu. Tapi kali ini aku mendapatkan ucapan selamat. Aku langsung berteriak dan menuju kamar nenek, memberi kabar bahwa doa beliau dikabulkan.

Jika kalian berpikir cerita ini terhenti di sini, kalian salah besar. Karena tak ada yang senang aku akhirnya berhasil masuk ke perguruan tinggi. Percakapan tentang biaya masih sering keluar dari mulut-mulut anggota keluarga dan tetangga. Aku berusaha menguatkan diri, karena aku hanya punya diriku sendiri. Aku berusaha tegar, mengurus berbagai dokumen untuk keperluan daftar ulang, hingga aku akhirnya resmi dinyatakan jadi bagian dari kalian.

Sekarang semuanya telah melunak. Tiap seseorang bertanya tentang pekerjaan dan aku menjawab sedang kuliah, mereka merasa bangga. “Wah, keren juga ya, perempuan bisa kuliah,” ucap salah satu dari mereka. Tuhan, apa sih yang lebih membanggakan dari berpendidikan tinggi?(*)

Oleh Anindita Puspa Wulandari