Mode yang Memengaruhi Moralitas Muslimah

Pada zaman sekarang, banyak orang menormalisasikan pakaian yang tidak sesuai yang diajarkan pada ajaran islam. “Mengapa adab berpakaian tampak terabaikan?” Ini dipengaruhi karena perkembangan zaman, adanya media sosial, yang dimana tekanan untuk tampil ‘trendy’ dapat menyebabkan pengorbanan terhadap nilai-nilai moral dan agama. Sekarang banyak inovasi dan kreasi dalam berpakaian, sehingga banyak orang menormalisasikan berpakaian untuk kebebasan berekpresi. 

Dalam ajaran islam kita tidak diperintahkan untuk mengenakan jenis dan model pakaian tertentu, islam memberikan kebebasan untuk kita merancang mode pakaian atau mengenakan sebuah pakaian dengan selera masing-masing. Hanya saja terdapat kriteria yang harus diperhatikan oleh perempuan muslimah dalam berpakaian. Seperti yang sudah Rasulullah sabdakan dalam hadistnya, busana dapat menutup seluruh aurat yang wajib ditutup, busana tidak tipis dan busana yang tidak sempit atau ketat. Pakaian bagi perempuan muslim tidak sekedar tata krama atau fasion, melainkan juga mencerminkan keyakinan dan akidah. Menjaga aurat bukan hanya ketaan agama, tetapi juga memperkuat iman sebagai muslimah. 

Nah, busana memang memiliki peran dalam mencerminkan moral dan menjaga kehormatan seorang muslimah. Tapi penting juga diingat pakaian bukan satu-satunya tolak ukur moral seorang muslimah. Tidak menutup kemungkinan juga seorang muslimah yang masih berproses dalam menutup auratnya itu bahkan muslimah yang masih membuka tutup auratnya memiliki perilaku yang tidak baik. Moral sejatinya tetap berakar dari hati dan perilaku seseorang. Ada orang yang pakaiannya tertutup tapi perilakunya tidak sesuai dengan ajaran islam, dan ada juga yang belum sempurna dalam berpakaian tapi memiliki adab yang baik. Hal tersebut mejadi pilihan bagaimana pakaian bisa mempengaruhi wawasan diri kita dan penerimaan didalam masyarakat terhadap muslimah yang berpakaian modis namun tetap syariat. Serta, sejauh mana kita menjaga intregitas identitas keislamannya dalam ruang publik.

Pakaian bisa jadi ekspresi ketaatan dan identitas diri, karena islam menganjurkan berpaikan yang sopan, menutup aurat dan tidak begitu berlebih-lebihan. Dengan begitu, busana bisa membantu seorang muslimah menjaga pandangan orang lain dan juga dirinya sendiri dari hal-hal yang tidak pantas. Apalagi islam sudah menempatkan perempuan sebagai makhluk yang sangat mulia. Sebagai seorang muslimah kita juga harus tahu malu jika kita melanggar apa yang sudah disyariatkan. Dalam permasalahan ini pengaruh mode di era modern terhadap peran dan identitas muslimah ini didasari dengan perubahan tren mode yang cepat dan inovatif. 

Peran media sosial dan teknologi dalam membentuk standar kecantikan serta model busana menjadi poin penting. Melalui platform digital, pengguna media sosial membentuk standar kecantikan tersebut dan gaya berbusana yang kemudian banyak yang mengikutinya. Hal ini menimbulkan permasalahan yang dimana kenyamanan, kreativitas, dan ekpresi diri menjadi aspek dalam memilih busana, sekaligus menimbulkan tuntunan trend yang terus maju. Tak jarang hal ini menimbulkan perdebatan terkait norma agama dan etika busana. Dalam hal ini, konten digital sering mengalami kesulitan kepercayaan, kepatuhan syariat dan kebebasan berekspresi. Dengan demikian, pengaruh media sosial dan teknologi tidak hanya merubah pola konsumsi dan produksi mode muslimah, tetapi juga genter, etnis, kelas sosial serta menantang batas tradisional dalam ruang publik dan pribadi.

Kehadiran mode di era modern memang menunculkan banyak pendapat atas identitas keislaman yang sudah dipelajari secara umum. Banyak muslimah yang kurang kuat dalam mempertahankan keimanannya, mengarahkan antara tuntunan syariat dan keinginannya mengekspresikan diri melauli busana yang mengikuti trend yang ada. Sebagian mengadopsi gaya yang lebih stylish tanpa meninggalkan unsur syar’i. Sementara lainnya tetap menjaga dan mengikuti pendapat dari pedoman agama yang telah diajarkan.

 Tetapi sisi lain pengaruh media sosial ini, perempuan dizaman sekarang berlomba-lomba merendahkan harga diri mereka, mereka berhijab namun bepakain ketat, mereka memperlihatkan diri mereka dimedia sosial tanpa ada rasa takut mengumbar aurat mereka, berjoget-joget dan di perlihatkan dipublik, bahkan banyak sekarang model jilbab yang dikenakan hanya menutup sebagian aurat mereka. Ini terjadi karna kurangnya iman dan terdapat pengaruh yang sangat kuat dari budaya luar yang dimana menampilkan budaya yang lebih terbuka. Yang pasti dapat mempengaruhi keimanan seseorang sebagai perempuan muslimah.

 Sebagian tren pakaian atau yang sekarang menyebutnya OOTD “Outfit of The Day” sudah disesuaikan dengan syari’ah islam. Tapi, kita harus benar-benar bisa untuk memilah sebuah trend yang tidak melanggar ajaran islam bahkan merusak moral seorang perempuan muslimah. Pilihan kita hanya hanya mengikuti standar trend atau ingin tetap mengikuti trend namun tetap dalam syariat islam. Tidak semua trend bisa kita ikuti. Pilih mana yang memiliki manfaat bukan hanya semena-mena mengikutinya. Seorang muslimah sudah harus mengetahui batas-batas dalam publik. Memiliki rasa malu untuk mengumbar apa yang tidak sesuai yang disyariatkan.

Jika seorang muslimah benar-benar mengetahui syariat yang sudah diajarkan. Penampilan yang syar’i tidak memungkinkan untuk kita berbuat yang semena-mena. Walau juga banyak orang yang penampilan begitu syar’i dan bisa dibilang sempurna namun kelakuannya yang dzalim, bahkan perilaku melebihi orang-orang yang belum sempurna dalam berpakaiannya, berarti itu kesalahan pada hatinya bukan pada pakaian yang dikenakan. Padahal jika kita niat untuk menutup aurat, hati kita harusnya juga tergerak untuk melakukan hal-hal yang baik. Malu jika penampilan sudah diperbaiki namun tidak dengan hatinya, tidak dengan akhlak dan adabnya. 

Maka dari semua yang telah dibahas, penampilan hanya penampilan luar namun harus tetap terjaga, dan yang terpenting adalah moral sesorang yang dapat menahan semua hal-hal yang tidak disyariatkan. Pendidikan moral dan pemahaman dalam mengahadapi kemajuan global menjadi kunci untuk membangun kesadaran diri agar tetap istiqamah dalam memegang teguh ajaran islam. Agar tetap berimbang diperlukan dalam memilih busana yang sesuai dengan syariat, tanpa harus mengorbankan rasa percaya diri dan identitas diri. Secara keseluruhan, keberanian dan kekuatan moral diperlukan agar muslimah dapat tetap bergaya sesuai ajaran tanpa kehilangan identitas moral dan spiritualnya.

Menjaga identitas agama islam dalam era modern sangatlah tidak mudah, memperlukan keimanan yang kuat. Karena seorang muslimah harus dihadapkan pada keharusan menjaga identitas keislamannya tanpa mengabaikan aspek estetika, sehingga diperlukan kebijakan dan kebijaksanaan dalam memilih pakaian yang sesuai dengan ajaran agama serta sesuai dengan konteks sosialnya. Agar tidak terjebak dalam dilema antara modernitas dan keimanan. Dengan memahami pedoman moral serta beradaptasi secara cerdas terhadap perubahan, Muslimah dapat menjaga keimanan sekaligus mengekspresikan identitasnya secara elegan dan penuh penuh tanggung jawab.(*)

Oleh Alfina Amalia Fajri