Kerusakan lingkungan merupakan salah satu tantangan global yang semakin mendesak di era modern. Fenomena ini meliputi deforestasi, polusi udara dan air, perubahan iklim, serta degradasi lahan, yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industrialisasi, urbanisasi, dan penggunaan sumber daya yang berlebihan. Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), kerusakan lingkungan tidak hanya mengancam keberlangsungan ekosistem bumi, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati. Artikel ini akan membahas secara mendalam dampak tersebut, dengan fokus pada aspek kesehatan manusia, ekonomi, serta hilangnya biodiversitas, untuk menekankan pentingnya upaya konservasi segera.
Kerusakan lingkungan memiliki efek domino yang merugikan bagi manusia, mencakup dimensi kesehatan, ekonomi, dan sosial. Pertama, dari segi kesehatan, polusi udara dari emisi industri dan kendaraan menyebabkan peningkatan penyakit pernapasan seperti asma dan kanker paru-paru. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa polusi udara menyebabkan sekitar 7 juta kematian prematur setiap tahunnya di seluruh dunia. Selain itu, polusi air akibat limbah industri dan pertanian mengkontaminasi sumber air minum, yang berujung pada penyakit seperti kolera dan diare, terutama di negara berkembang.
Kedua, dampak ekonomi sangat signifikan. Kerusakan lingkungan menyebabkan hilangnya sumber daya alam, seperti erosi tanah yang mengurangi produktivitas pertanian. Menurut laporan Bank Dunia, kerugian ekonomi global akibat degradasi lingkungan mencapai triliun dolar setiap tahun, termasuk biaya pemulihan bencana alam seperti banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi karena perubahan iklim. Di Indonesia, misalnya, deforestasi di Kalimantan telah mengurangi hasil panen dan mempengaruhi mata pencaharian masyarakat lokal, yang bergantung pada pertanian dan kehutanan.
Terakhir, aspek sosial juga terpengaruh, di mana kerusakan lingkungan memicu migrasi massal. Bencana seperti naiknya permukaan laut dan kekeringan memaksa komunitas pesisir untuk pindah, menciptakan konflik sosial dan ketidakstabilan. Hal ini memperburuk ketimpangan sosial, karena kelompok rentan seperti masyarakat miskin lebih sulit beradaptasi.
Keanekaragaman hayati, atau biodiversitas, adalah fondasi ekosistem yang sehat, mencakup jutaan spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Kerusakan lingkungan mengancam keberadaan ini melalui hilangnya habitat dan gangguan ekosistem. Deforestasi, misalnya, telah menghapus habitat alami di hutan hujan Amazon dan Indonesia, menyebabkan kepunahan massal spesies seperti harimau Sumatera dan orangutan. World Wildlife Fund (WWF) melaporkan bahwa tingkat kepunahan saat ini 1.000 kali lebih cepat daripada tingkat alami, sebagian besar karena aktivitas manusia.
Selain itu, perubahan iklim mengganggu rantai makanan dan siklus reproduksi. Peningkatan suhu global menyebabkan migrasi spesies atau kematian massal, seperti kematian terumbu karang akibat pemanasan lautan. Di Indonesia, kerusakan terumbu karang di perairan Sulawesi telah mengurangi populasi ikan, yang berdampak pada keanekaragaman hayati dan mata pencaharian nelayan. Dampak ini bersifat saling terkait; hilangnya biodiversitas dapat memperburuk masalah lingkungan, seperti erosi tanah yang lebih parah tanpa vegetasi penahan.(*)
Oleh Davina Elfiranisa Nayla