Judul buku : Jam Segini
Penulis : Ahmad Farid
Penerbit / Kota : Pustakaki Press
Tahun Terbit : 2023
Jumlah Halaman : 61 Halaman
Isi Resensi
Buku Jam Segini merupakan antologi puisi yang ditulis oleh Ahmad Farid. Ia menulis karya ini dalam masa pandemi Covid -19 untuk menghindari pikiran-pikiran buruk yang timbul akibat wabah tersebut. Judul Jam Segini terasa unik, seolah penulis mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan merenungi kehidupan yang berlangsung pada “Jam Segini”.
Dalam buku ini, Ahmad Farid menggunakan bahasa yang indah dan sederhana. Gaya bahasa yang digunakannya mampu menghadirkan kedekatan emosional dengan pembaca. Melalui gaya bahasa khasnya, Ahmad Farid menuliskan pengalaman-pengalaman kecil, seperti kesunyian di tengah malam, percakapan dengan diri sendiri, kerinduan yang datang tiba-tiba, atau perasaan asing yang menyelinap tanpa sebab.
Tema besar yang muncul dalam buku ini cukup universal, yakni cinta, kesendirian, kehilangan, dan eksistensi manusia. Hampir semua puisinya menyentuh aspek yang dialami banyak orang, sehingga mudah bagi pembaca untuk merasa terhubung dengan apa yang dituliskan. Misalnya, saat membaca puisi tentang kerinduan, pembaca akan teringat pada seseorang yang pernah hadir lalu pergi.
Selain itu, buku ini juga menyajikan nuansa perenungan yang cukup kuat bagi pembaca. Secara tersirat, Ahmad Farid menunjukkan bahwa puisi merupakan cara untuk memahami diri dan dunia. Dalam banyak puisinya, ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kesibukan dunia, lalu menatap ke dalam batin.
Kelebihan
Kelebihan buku “Jam Segini” karya Ahmad Farid terletak pada penggunaan bahasa yang sederhana namun mengena, diksi yang mudah dicerna, dan tidak bertele-tele. Selain itu, puisi-puisinya mampu menghadirkan kedekatan emosional karena pengalaman yang digambarkan terasa mirip dengan apa yang dialami sebagian besar pembaca, sehingga puisinya tampak hidup. Tema yang diangkat juga bersifat universal, seperti cinta, kesendirian, kehilangan, dan eksistensi manusia, sehingga relevan untuk dinikmati siapa saja. Ditambah lagi, gaya penulisan yang reflektif memberikan pengalaman membaca yang menenangkan sekaligus menggugah perenungan.
Kekurangan
Kekurangan buku “Jam Segini” terletak pada beberapa puisinya yang terlalu singkat sehingga terasa kurang memberi ruang bagi pembaca untuk berimajinasi lebih luas. Selain itu, bagi pembaca yang terbiasa menikmati puisi dengan gaya rumit dan penuh kiasan, kesederhanaan bahasa yang digunakan Ahmad Farid mungkin akan terasa terlalu ringan dan kurang menantang. Kekurangan lainnya terdapat pada desain setiap lembar bukunya. Akan lebih menarik apabila pada beberapa halaman atau di antara sajak-sajaknya disertakan sedikit visual atau ilustrasi yang menggambarkan isi puisi, sehingga mampu memperkuat pesan yang ingin disampaikan.
Simpulan
Secara keseluruhan, buku antologi puisi “Jam Segini” karya Ahmad Farid adalah kumpulan puisi yang menyajikan keindahan kata disertai makna dan pesan kehidupan yang ada. Setiap baitnya terasa nyata dengan kehidupan sehari-hari dan dapat membuat pembaca ikut merasakan emosi yang terkandung di dalamnya. Buku ini cocok bagi siapa saja yang ingin menikmati puisi sebagai teman renungan, pengingat akan momen-momen kecil yang sering terlewat, atau sekadar mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk kesibukan dunia.
Dengan membaca buku “Jam Segini”, pembaca seakan diajak untuk menyadari bahwa setiap momen dalam hidup bahkan yang paling sepele sekalipun, dapat menyimpan makna jika kita mau menatap sejenak dan merenungkannya.
Alya Qothrun Nada (2502020108)