Oleh Ahmad Firdaus Nuzula
Beberapa waktu lalu saya pergi ke pusat Kabupaten Demak untuk membuat SIM. Sekalian karena sudah jauh-jauh ke kota, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk berziarah ke makam Sunan Kalijaga dan mengunjungi Masjid Agung Demak. Walaupun saya asli orang Demak, perjalanan menuju tempat-tempat tersebut tetap terasa jauh karena rumah saya berada di daerah ujung Demak yang berbatasan langsung dengan Semarang. Jadi, kalau ingin ke pusat kota atau ke lokasi-lokasi penting, dibutuhkan waktu perjalanan yang cukup lama.
Sejak berangkat, perjalanan terasa menyenangkan karena suasana jalan cukup ramai. Sepanjang perjalanan, banyak kendaraan lalu-lalang, orang beraktivitas, dan pedagang yang membuka lapak di pinggir jalan. Ketika mendekati area makam Sunan Kalijaga, suasananya semakin hidup. Banyak penjual makanan, minuman, jajanan tradisional, buah-buahan, oleh-oleh khas Demak, tasbih, peci, sarung, hingga perlengkapan ibadah lainnya. Para peziarah datang dari berbagai daerah; ada yang bersama keluarga, rombongan, bahkan ada yang datang menggunakan bus besar. Tempat itu terasa ramai tetapi tetap penuh dengan suasana religius.
Sesampainya di makam Sunan Kalijaga, saya merasakan suasana yang tenang dan khidmat. Banyak orang datang untuk berdoa dan mengenang jasa Sunan Kalijaga sebagai salah satu tokoh penting penyebar agama Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali yang berdakwah dengan pendekatan budaya sehingga ajarannya mudah diterima masyarakat pada masa itu. Melihat banyaknya orang yang datang berziarah membuat saya sadar bahwa perjuangan beliau sangat dihormati hingga sekarang.
Setelah selesai berziarah, saya melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Demak yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini dibangun pada abad ke-15 Masehi oleh Raden Patah dari Kerajaan Demak bersama para Wali Songo. Lokasinya berada di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, tepat di dekat Alun-alun Demak sehingga sangat mudah ditemukan dan menjadi tujuan banyak wisatawan maupun peziarah.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Masjid Agung Demak dahulu dijadikan tempat berkumpul para Wali Songo untuk berdiskusi dan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Karena peran sejarah itulah, Kabupaten Demak mendapat julukan sebagai Kota Wali. Sebagai orang Demak, saya merasa bangga karena daerah saya memiliki sejarah Islam yang sangat besar.
Masjid Agung Demak juga memiliki banyak keunikan yang menarik. Salah satunya adalah simbol bulus yang menjadi penanda tahun berdirinya masjid, yaitu 1401 Saka. Kepala bulus melambangkan angka satu, empat kaki melambangkan angka empat, badan bulus yang bulat melambangkan angka nol, dan ekornya melambangkan angka satu. Simbol bulus ini bisa ditemukan pada beberapa ornamen dinding masjid dan menjadi ciri khas tersendiri.
Dari sisi bangunan, Masjid Agung Demak memiliki arsitektur tradisional Indonesia yang sangat indah. Atapnya berbentuk limas bersusun tiga yang melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Di dalam masjid terdapat empat tiang utama atau saka guru yang dibuat oleh para Wali Songo. Tiang-tiang tersebut memiliki nilai sejarah tinggi dan menjadi bagian penting dari bangunan masjid.
Suasana di sekitar masjid juga sangat ramai. Banyak pedagang menjual makanan, minuman, aneka jajanan, mainan anak, dan cenderamata. Ada juga masyarakat yang duduk santai di sekitar alun-alun sambil menikmati suasana sore. Tempat ini tidak hanya menjadi lokasi ibadah, tetapi juga pusat kegiatan masyarakat dan wisata religi.
Perjalanan kali ini sangat berkesan bagi saya. Selain bisa mengurus pembuatan SIM, saya juga mendapat kesempatan berziarah dan melihat langsung peninggalan sejarah yang sangat berharga. Saya merasa senang dan bangga karena meskipun berasal dari Demak, masih banyak hal menarik di daerah sendiri yang bisa dipelajari dan dikunjungi.(*)