Ada Sesuatu pada Malam Pelantikan Bantara

Oleh Aya Rima Fabian 

Pada hari Jumat di tahun 2023, sekolahku tepatnya sekolah yang berada di Purbalingga, Jawa Tengah, mengadakan acara pelantikan Penegak Bantara untuk para siswa kelas X. Kegiatan pelantikan tersebut merupakan kegiatan wajib yang dilakukan setelah para siswa menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum (SKU). Kebetulan aku bertugas menjadi panitia, sehingga aku harus tetap standby untuk segala keperluan acaranya. Mulai dari persiapan upacara, mencari jejak, api unggun, dan lain sebagainya.

Kegiatan api unggun menjadi hal yang menyenangkan bagi para siswa kelas X, dan tentunya bagi para panitia. Sebelum kegiatan dimulai, para siswa melakukan isama (istirahat, salat, dan makan), dikarenakan kegiatan api unggun mulai dilaksanakan sekitar pukul 20.30 WIB. Banyak siswa yang memilih untuk berkeliling sekolah, bermain dengan teman, dan juga ada yang memilih untuk tidur.

Pada saat kegiatan api unggun akan dimulai, panitia akan mengarahkan para siswa untuk menuju ke lapangan. Ada temanku, yang bertugas mengecek apakah seluruh siswa kelas X sudah pergi ke lapangan. Pada saat dia berada di area kelas XC, di mana area tersebut dekat dengan gerbang belakang, parkiran motor, dan kantin yang sudah kosong. Dia melihat sosok dengan rambut panjang yang terbang menuju parkiran lantai atas. Dia langsung berlari menuju lapangan tengah. Melihat dia yang berlari dengan wajah ketakutan, aku dan beberapa teman-teman pun menghampirinya. “Kenang ngapa, Nay, mlayu-mlayu deneng?” (Kenapa, Nay, kok lari-lari?), ucap salah satu temanku. “Kae miki nyong weruh ana sing mabur maring parkiran nduwur, nganggo klambi putih rambute dawa, trus nyong dadi langsung mlayu” (Itu tadi aku lihat ada yang terbang ke parkiran atas, pakai baju putih rambutnya panjang, terus aku jadi langsung lari), ucap Naya dengan nada terengah-engah. “Yawis, Nay, ora papa, njagong disit” (Ya udah, Nay, tak apa-apa, duduk dulu), ucap temanku yang lainnya.

Setelah kejadian itu ada salah satu temanku bernama Dayat yang memang anaknya cukup penasaran dan memang bisa merasakan hal-hal yang gaib, dia akhirnya berjalan menuju ke area kelas XC. Setelah dia kembali ke lapangan, dia berkata “Ning ngono watek ana, wis ora papa anu ora nganggu ikih” (di situ emang ada, sudah tak apa-apa. Tidak nganggu kok), kata Dayat. Akhirnya kejadian tersebut berlalu dan dilanjutkan dengan kegiatan api unggun.

Saat acara api unggun berlangsung, Dayat temanku berkata sambil berbisik, “Kae ning nduwur kelas XII IPS ana wong wadon nggo klambi ijo agi ndeleng maring arah lapangan, tapi aja ndelengna maring ngana ya” (Itu di atas kelas XII IPS ada perempuan pakai baju hijau lagi lihat ke arah lapangan, tapi jangan lihat ke arah sana ya). Di situ badanku langsung merinding tapi sebisa mungkin aku tidak memikirkan perkataan Dayat. 

Ternyata tidak hanya Dayat yang melihat sosok di atas kelas XII IPS. Ada temanku yang lain yang juga melihatnya. Bahkan katanya sosok itu sudah ada dari sebelum acara api unggun dimulai. Namun sosok itu hanya melihat saja tanpa berniat menggangu, yang terpenting kita tetap bersikap biasa saja. Kondisi lantai atas kelas XII IPS memang gelap, karena lantai atas tersebut akan dibangun bangunan kembali.

Acara api unggun selesai dan akhirnya para siswa kembali ke ruangan masing-masing untuk tidur. Di lapangan tersisa panitia yang membereskan sisa api unggun dan panitia yang lain sedang mempersiapkan untuk acara yang lainnya. Aku kebetulan bertugas membereskan alat-alat api unggun karena aku masuk dalam sie perkap. Setelah itu, aku dan beberapa temanku memutuskan untuk tidak langsung tidur dan akhinya kami memilih untuk duduk duduk di area kelas XF. Areanya cukup dekat dengan area kelas XC, tetapi lebih terang karena dekat GOR yang lampunya semua menyala. Kami bercerita mulai cerita tentang mata pelajaran dan cerita hal-hal lucu.

Saat sedang bercerita ada satu temanku namanya Ega yang bergabung dan kemudian dia masuk ke GOR untuk tidur, dia memilih tidur di GOR karena tempatnya lebih luas dan ada kipasnya. Kami yang tersisa di luar tetap melanjutkan cerita lucu, tiba-tiba dayat menerima telfon dari temannya. Aku merekan Dayat sambil berkata, “Cie Yat, telponan mbari ayange” (Cie Yat, teleponan sama Ayang). Dayat hanya tersenyum, sedangkan kami tertawa meledek.

Setelah itu, datang lagi dua temanku untuk bergabung. Aku menunjukkan video tadi kepada mereka, kemudian kami tertawa. Namun, ada yang aneh dari video tersebut. Bukan gambar yang ada di videonya, tetapi suara yang ada di videonya. Berulang kali aku mendengar suara di video tersebut aku menyadari, bahwa ada yang memanggil namaku tiga kali secara berbisik. Aku mencoba berpikir positif, siapa tahu itu suara Ega temanku yang tadi tidur di GOR, karena suara itu mirip suara Ega, Namun kalau itu suara dia, tidak mungkin dia memanggil dengan nada yang berbisik. Kalaupun dia memanggil dengan suara seperti itu, suara itu tidak akan terdengar di video, meskipun jarak GOR-nya cukup dekat.

Akhirnya aku bertanya lagi kepada dayat, “Yat jal rungokna, kaya ana sing nyeluk arane nyong ya” (Yat coba dengerin, kayak ada yang panggil namaku ya). Setelah Dayat mendengarkan video itu, dia juga mendengar suara itu. Aku pun meminta temanku untuk ikut mendengarkan suara di video itu. Ternyata temanku juga mendengarnya. Salah satu temanku juga berpikir sama seperti ku, bahwa itu suara Ega yang ada di GOR. Aku dan salah satu temanku akhirnya pergi ke GOR untuk melihat apakah Ega sudah tidur atau belum. Dan ya, Ega sudah tertidur lelap.

Aku dan temanku kembali ke tempat semula, dan berkata ke yang lain bahwa Ega sudah tertidur lelap. Aku tidak menghapus video itu karena akan kutunjukkan pada teman-temanku yang lain. Kemudian aku memilih tidak memikirkan hal itu dan memilih tidur sebentar, sebelum kegiatan selanjutnya. Saat tidur pun sebenarnya lumayan merinding, karena samping kelas XF terdapat tangga untuk kelas yang di atas, sedangkan kelas atas tidak digunakan dalam acara ini. Kenapa kami memutuskan untuk tetap berada di area kelas XF, selain karena terang area ini juga dekat dengan GOR, karena kegiatan selanjutnya akan dilaksanakan di GOR jadi kami tetap di area XF.

Pada pagi hari, setelah acara senam pagi dan sarapan, aku menceritakan kejadian tadi malam dan menunjukkan video itu kepada teman-temanku. Mereka juga mendengar apa yang aku dengar. Aku kembali merinding saat aku mendengar suara di video itu lagi. Namun kejadian itu menjadi pengalaman cukup menyenangkan dan mengerikan tentunya, yang masih aku ingat hingga sekarang.(*)