Jejak yang Tersisa di Kota yang Tak Pernah Sepi

Oleh Lunetta Kirana Humairah

Jakarta, bagi banyak orang, hanya dikenal sebagai kota untuk meraih harapan dan memperjuangkan kehidupan. Tapi tidak bagiku. Jakarta bukan hanya sekadar tempat tujuan untukku, melainkan asal, tempat di mana semua tentang diriku bermula. Di kota ini aku dilahirkan dan tumbuh, di kelilingi kasih sayang keluargaku yang membentuk diriku hingga saat ini aku merantau jauh darinya.  Jakarta bukan hanya tentang hiruk-pikuk atau deretan gedung tinggi pencakar langit, tetapi juga tentang kenangan yang tersimpan di setiap sudut kotanya.

 Dari sanalah aku mulai melihat Jakarta dengan sudut pandang yang berbeda. Aku pun mencoba untuk menyelusuri sisi lain dari kota ini, tempat kelahiranku, hingga akhirnya aku mengunjungi Kota Tua (Batavia Lama) yang terletak di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kawasan yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi ini menyimpan banyak sejarah tentang perjuangan negara ini. Di tempat ini, suasanya sangat jauh berbeda dengan Jakarta yang selama ini kukenal, dengan bangunan tua bergaya Eropa serta nuansa masa lalu yang masih terasa hingga kini. 

Aku pun mengunjungi Museum Fatahillah, sebuah bangunan bersejarah yang dibangun pada tahun 1710 oleh pemerintah kolonial Belanda yang awalnya digunakan sebagai balai kota atau pusat administrasi pemerintahan. Di tempat inilah berbagai kebijakan penting dirumuskan dan dijalankan. Begitu aku memasuki setiap ruangan yang ada di dalamnya, suasana terasa sunyi dan berbeda, penuh kesan yang mendalam. Aku berjalan perlahan sambil mengamati setiap sudut dari ruangan yang menyimpan banyak sejarah, mulai dari ruang sidang hingga penjara bawah tanah yang menurutku kondisinya tidak manusiawi.

Penjara bawah tanah itu ruangannya begitu pengap dengan udara yang berat dan minim sirkulasi. Cahaya saja hampir tidak ada. Yang ada hanyalah bayangan samar yang membuat suasana terasa menakutkan. Dinding yang basah dan dingin seolah menyerap suara, menciptakan kesunyian yang mencekam. Jujur saja, aku takut aku tidak terbayang bagaimana rasanya menjadi tahanan yang hidup di dalamnya, terkurung dalam ruangan sempit tanpa ada kepastian kapan mereka bisa keluar dari sana, atau mungkin yang mereka pikirkan hanya menunggu takdir kapan mereka akan meninggal di dalamnya. Tanpa kenyamanan, bahkan tanpa cahaya yang cukup untuk melihat kapan itu siang dan malam dengan jelas.

Bayangan itu semakin kuat ketika aku menyadari bahwa para tahanan dahulu tidak hanya menghadapi keterbatasan fisik, tetapi juga tekanan mental yang luar biasa. Mereka harus bertahan dalam kondisi yang tidak manusiawi, berdesakan, kekurangan udara, dan hidup dengan penuh ketakutan akan hukuman yang akan mereka jalankan. Pengalaman itu membuatku merenung bahwa di dalamnya bukan hanya sekadar penahanan, melainkan sebuah simbol penderitaan dan ketidakadilan di masa lalu. 

Perjalanku berlanjut ke Museum Bank Indonesia, yang dahulu merupakan De Javasche Bank, bank sentral pada masa kolonial. Begitu aku masuk ke dalamnya, suasana yang megah dan tenang langsung terasa. Bangunan dengan langit-langit tinggi dengan pencahayaan yang bagus menghadirkan suasana yang elegan yang seolah membawaku kembali ke masa di mana tempat ini masih dikenal dengan De Javasche Bank. Aku berjalan menyelusuri ruangan yang memperlihatkan koleksi yang dipamerkan. Di sana ditampilkan perjalanan panjang tentang sistem keuangan di Indonesia mulai dari masa kerajaan hingga era perdagangan VOC, hingga akhirnya menjadi Bank Indonesia sebagaimana yang saat ini aku ketahui sebagai bank sentral setelah masa kemerdekaan.

Di sana aku melihat uang kuno, alat transaksi lama, dan arsip bersejarah yang membuatku semakin memahami bahwa kekuasaan pada masa itu tidak hanya soal wilayah ataupun kekuasaan, tetapi juga kendali terhadap perekonomian. Rasanya seperti aku menyaksikan langsung bagaimana sistem keuangan berkembang dan memengaruhi perjalanan bangsa Indonesia.

Dari sana, aku melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Saat pertama kali aku menginjakkan kaki, suasanya sangat berbeda dari tempat-tempat sebelumnya. Hembusan angin laut yang lembut, dengan membawa aroma asin khas pesisir, serta deretan kapal kayu pinisi yang berjajar di dermaga memberikan pemandangan yang begitu kuat akan nuansa masa lalu.

Sejak abad ke-16, pelabuhan ini telah menjadi pusat aktivitas ekonomi yang strategis, bahkan sebelum kedatangan Belanda ke Tanah Air. Di sinilah berbagai komoditas seperti rempah-rempah diperdagangkan, menjadikan wilayah ini incaran bangsa-bangsa Eropa karena letaknya yang strategis. Ketika aku melihat kapal-kapal kayu itu, aku membayangkan bagaimana dulu kapal asing datang dengan membawa ambisi dan kepentingan, mengubah arah sejarah bangsaku. Kapal-kapal itu juga seolah menjadi simbol penghubung antara masa lalu dan masa kini, simbol bahwa tradisi maritim Indonesia tetap hidup di tengah perkembangan zaman yang modern ini. Dari sinilah aku mulai memahami bahwa Jakarta tidak hanya tumbuh sebagai kota daratan, tetapi juga sebagai kota pelabuhan yang sejak awal menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa dengan budaya yang berbeda dan kepentingannya.

Pada akhirnya aku pulang dengan sudut pandang yang berbeda. Jakarta yang dahulu hanya kupandang sebagai kota yang padat dan melelahkan, kini terasa berubah menjadi kota yang penuh cerita bersejarah. Kota ini tidak hanya berjalan ke masa depan. Tetapi juga ada masa lalu yang seolah masih tersimpan dengan jelas di setiap sudutnya. Aku pun menyadari bahwa aku bukan sekadar seseorang yang tumbuh di sana, melainkan bagian dari perjalanan kota ini. Dari riuhnya jalanan, bangunan-bangunan tua yang tetap berdiri dengan kokoh, hingga pelabuhan yang tak pernah berhenti hingga kini, semua menjadi bagian dari ingatan yang melekat dalam diriku.

Mungkin bagi sebagian orang Jakarta hanyalah tempat untuk mengadu nasib. Namun bagiku, Jakarta adalah rumah. Tempat di mana setiap langkahku memiliki arti, sekaligus saksi dari perjalanan panjang yang terus berlanjut. Dan di balik segala kesibukannya, aku sangat mempercayai akan ada sisi Jakarta yang tenang, yang menyimpan cerita, dan yang suatu saat akan selalu memanggilku untuk kembali ke sana.(*)