Oleh Yasti Aura Hapsari
Pantai Sodong bukan sekadar tempat, melainkan sebuah ruang waktu yang pernah begitu hidup. Dulu, garis pantainya terbentang bersih dan asri, seolah setiap sudutnya dijaga oleh tangan-tangan yang tak terlihat. Pasirnya halus dan berwarna gelap, khas pantai selatan, dan lautnya membiru luas dengan ombak yang datang silih berganti. Angin membawa aroma asin yang akrab, sementara langit selalu terasa lebih dekat, seakan ikut menaungi setiap langkah yang berpijak di sana.
Keramaian menjadi nyawa utama Pantai Sodong kala itu. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, orang tua duduk santai menikmati waktu, dan suara percakapan bercampur dengan debur ombak menciptakan harmoni yang sulit dilupakan. Tak ada kesunyian yang terasa asing, karena setiap sudut dipenuhi kehidupan yang riuh, hangat, dan penuh kebersamaan.
Di sepanjang tepian pantai, para pedagang pun seperti bagian dari cerita yang tak terpisahkan. Mereka menjajakan berbagai makanan yang menggoda selera, seperti hasil laut yang segar, mendoan khas Cilacap yang hangat dan gurih, mie cup yang praktis, serta minuman hangat yang menemani di antara riuhnya angin. Asap tipis dari gorengan dan bakaran naik perlahan, menyatu dengan angin laut, menciptakan aroma khas yang selalu membuat rindu.
Memasuki sore hari, suasana berubah menjadi lebih indah. Langit berangsur jingga, dan angin mulai membawa sesuatu yang lain, yaitu layang-layang. Banyak sekali layang-layang beterbangan, beragam bentuk dan warna. Ada yang kecil sederhana, ada pula yang panjang menjulur seperti naga, meliuk-liuk mengikuti arah angin. Langit sore seakan menjadi kanvas raksasa, dan layang-layang itu adalah lukisan yang terus bergerak.
Di tengah semua itu, ada aku, seorang anak kecil berusia enam tahun, yang menganggap Pantai Sodong sebagai dunia kecil paling sempurna. Bersama dua sepupuku, Syifa dan Eci, setiap kunjungan ke sana selalu terasa seperti petualangan baru yang tak pernah membosankan. Kami menghabiskan waktu di aliran-aliran sungai kecil yang membelah pasir menuju laut. Airnya dangkal dan tenang, cukup aman untuk kaki-kaki kecil kami yang belum berani menghadapi ombak besar. Kami berlari menyusuri aliran itu, bermain air, saling memercikkan tawa, seolah sungai kecil itu adalah taman bermain yang dibuat khusus untuk kami.
Sesekali, kami berpindah ke kolam renang buatan yang tak jauh dari pantai, atau duduk di pasir membangun istana yang tak pernah benar-benar bertahan lama. Namun bagi kami, runtuhnya istana pasir bukanlah akhir, melainkan awal untuk membangun kembali dengan imajinasi yang lebih besar. Di situlah letak kebahagiaan sederhana yang saat itu terasa begitu cukup.
Orang tua kami selalu mengingatkan untuk tidak mendekati laut. Ombak Pantai Selatan terkenal besar dan tak bisa ditebak, dan kami pun cukup mengerti untuk menahan diri. Dari kejauhan, kami sering memandangi ombak yang datang dengan suara bergemuruh, kadang menakutkan, kadang justru membuat kami terpukau. Rasa takut dan kagum itu bercampur, menciptakan perasaan yang sulit dijelaskan oleh anak-anak seusia kami.
Waktu terus berjalan hingga tiba malam Tahun Baru 2017, saat usiaku menginjak sembilan tahun. Malam itu terasa berbeda, seolah menjadi puncak dari seluruh kenangan indah yang pernah kami kumpulkan di Pantai Sodong. Kami datang bersama keluarga, membawa harapan dan kebahagiaan untuk menyambut tahun yang baru.
Di tepian pantai, kami mendirikan tenda kecil sebagai tempat berkumpul. Malam itu dipenuhi cahaya, kembang api yang meledak di langit, petasan yang bersahutan, serta api kecil dari bakaran jagung dan sosis yang kami nikmati bersama. Tawa kami bercampur dengan suara ombak, menciptakan suasana hangat yang terasa begitu utuh.
Namun, ketika waktu semakin mendekati tengah malam, hujan turun perlahan, lalu berubah menjadi deras. Kami berlarian mencari tempat berteduh, berdesakan sambil tertawa di bawah perlindungan seadanya. Anehnya, hujan itu tidak merusak suasana; justru membuat malam itu terasa lebih hidup, lebih jujur, dan lebih berkesan.
Waktu terus berjalan tanpa benar-benar kami sadari. Segalanya mulai berubah. Pantai Sodong pun perlahan kehilangan tempatnya dalam rutinitas kami. Kabar tentang pantai yang semakin tidak terawat, ombak yang terasa lebih ganas, hingga isu tsunami yang beredar membuat kami dan banyak orang lainnya mulai menjauh.
Hingga akhirnya, pada usia lima belas tahun, aku kembali mengunjungi Pantai Sodong bersama Syifa dan Eci. Untuk pertama kalinya, kami datang tanpa orang tua, bukan lagi sebagai anak kecil, melainkan sebagai remaja yang membawa kenangan. Namun yang kami temui bukanlah Sodong yang kami kenal dulu.
Pantai itu terasa lebih sepi, lebih sunyi, dan entah mengapa, lebih dingin. Tak ada lagi deretan pedagang yang ramai, tak banyak anak-anak yang berlarian, dan langit pun tampak kosong tanpa layang-layang yang menari. Kami berdiri di sana, saling diam, seolah mencoba mencocokkan kenyataan dengan ingatan.
Dan di saat itulah kami menyadari bahwa yang benar-benar berubah bukan hanya pantainya, tetapi juga waktu serta kami yang tak lagi sama seperti dulu.(*)