Oleh Muhammad Irsyad Arifullah
Menjadi bagian dari panitia Jambore Genre Samarinda merupakan pengalaman yang benar-benar membekas bagi saya sebagai seorang pemuda yang lahir dan tumbuh di tanah Borneo, tepatnya di Samarinda, Kalimantan Timur. Sejak kecil, saya sudah akrab dengan keberagaman budaya yang ada di sekitar saya, mulai dari tradisi suku Dayak yang sarat makna hingga nuansa Melayu yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kota. Keterikatan ini membuat saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga dan melestarikannya. Maka ketika kesempatan untuk bergabung sebagai panitia Jambore Genre hadir, saya tidak ragu untuk mengambil peran tersebut dengan penuh semangat.
Kegiatan Jambore Genre sendiri bukan sekadar acara biasa, melainkan sebuah ruang ekspresi bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mengembangkan budaya lokal. Dalam kepanitiaan ini, saya mendapatkan tugas yang cukup menantang, mulai dari mengoordinasikan peserta, menyusun jadwal kegiatan, hingga memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana. Tanggung jawab tersebut tentu membutuhkan ketelitian, kerja sama tim, dan kemampuan komunikasi yang baik agar tidak terjadi kesalahan selama acara berlangsung.
Setiap hari sebelum acara dimulai, saya dan teman-teman panitia selalu datang lebih awal untuk melakukan pengecekan akhir. Kami memastikan semua kebutuhan teknis seperti panggung, dekorasi, hingga sound system sudah siap digunakan. Meskipun terkadang terasa melelahkan karena harus bangun pagi dan bekerja dalam tekanan waktu, suasana kebersamaan dan semangat gotong royong membuat semua terasa lebih ringan. Justru di situlah saya merasakan nilai kebersamaan yang kuat di antara kami sebagai panitia.
Dari seluruh rangkaian kegiatan, salah satu momen yang paling berkesan bagi saya adalah saat lomba tari Enggang berlangsung. Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga representasi dari filosofi hidup masyarakat Dayak yang menjunjung tinggi keberanian dan kebijaksanaan. Gerakan para penari yang luwes dan penuh energi benar-benar mampu menghidupkan suasana, apalagi dengan iringan musik tradisional yang khas dan mendalam. Saya merasa seperti sedang menyaksikan cerita budaya yang diwujudkan dalam bentuk gerak dan irama.
Keunikan setiap peserta dalam menampilkan tari Enggang juga menjadi daya tarik tersendiri. Ada yang menampilkan interpretasi yang lembut dan elegan, ada pula yang lebih dinamis dan penuh kekuatan. Kostum yang digunakan pun tidak kalah menarik, dengan detail ornamen khas Dayak yang memperkuat nuansa tradisional. Beberapa bahkan menggunakan aksesori yang menyerupai bulu enggang, sehingga menambah kesan autentik pada penampilan mereka. Momen pengumuman pemenang pun menjadi sangat emosional, baik bagi peserta maupun bagi kami sebagai panitia yang ikut menyaksikan perjuangan mereka.
Melalui pengalaman ini, saya menyadari bahwa menjadi panitia bukan hanya soal menjalankan tugas teknis, tetapi juga tentang merasakan makna yang lebih dalam dari setiap kegiatan yang dilaksanakan. Saya merasa lebih dekat dengan budaya daerah saya sendiri dan semakin bangga menjadi bagian dari generasi muda Kalimantan Timur. Pengalaman ini tidak hanya memberikan kenangan indah, tetapi juga pelajaran berharga tentang tanggung jawab, kerja sama, dan pentingnya melestarikan warisan budaya untuk masa depan.(*)