Oleh Nurida Mufidatuzzahra
Malam itu terasa berbeda karena aku tidak pergi sendirian. Aku datang ke Tugu Titik Nol Kilometer bersama ayah dan ibu, membawa perasaan hangat yang jarang aku rasakan di hari-hari biasa. Dari kejauhan, suasana sudah terlihat ramai: lampu jalan menyala terang, kendaraan berlalu-lalang, dan di sisi jalan tampak deretan pedagang kaki lima yang dikelilingi banyak orang. Kota terasa hidup, seolah malam baru saja dimulai.
Saat kami semakin mendekat, tugu itu terlihat jelas berdiri di tengah persimpangan jalan. Bentuknya benar-benar seperti gerbang besar yang kokoh, dengan desain modern yang mencolok di antara bangunan sekitar. Cahaya kuning keemasan menyelimuti seluruh bagian tugu, sementara angka “0” di tengahnya menyala terang, menjadi pusat perhatian siapa pun yang melihat. Di sekelilingnya, jalan melingkar dengan garis pembatas dan zebra cross membuat tempat ini terlihat tertata rapi.
Kami berjalan perlahan menuju tugu titik nol, melewati trotoar yang ramai oleh orang-orang yang berjalan santai. Di sisi kiri, terlihat pedagang makanan dengan tenda kecil dan lampu terang, sementara di sisi lain orang-orang duduk atau berdiri sambil menikmati suasana malam. Aku berhenti sejenak tepat di depan tugu, memperhatikan detailnya yang terlihat semakin indah dari dekat.
Ayah kemudian mengajak kami berfoto. Aku berdiri di samping ibu, dengan latar belakang tugu yang bercahaya tepat di belakang kami. Ayah mengambil posisi sedikit menjauh agar seluruh bentuk tugu bisa masuk ke dalam frame. Kami berdua tersenyum dan dalam sekejap, momen sederhana itu berhasil diabadikan. Rasanya hangat karena kebersamaan seperti ini tidak selalu bisa terjadi setiap waktu.
Setelah itu, kami memutuskan untuk naik ke dalam tugu. Ternyata, di bagian dalamnya terdapat tangga yang bisa digunakan untuk naik ke atas. Kami melangkah perlahan menaiki tangga tersebut, dikelilingi dinding tugu yang tinggi dan cahaya lampu yang terang. Suasananya terasa sedikit berbeda, lebih tenang dibandingkan dengan keramaian di luar, seolah kami memasuki ruang kecil yang terpisah dari hiruk-pikuk kota.
Semakin ke atas, langkah kami semakin pelan, bukan karena lelah, tetapi karena ingin menikmati pengalaman itu. Cahaya dari luar mulai terlihat dari bagian atas, menandakan kami hampir sampai. Ketika akhirnya tiba di puncak, aku langsung terdiam melihat pemandangan yang terbuka luas di depan mata.
Dari atas tugu, seluruh suasana kota terlihat jelas. Jalanan yang melingkari tugu tampak seperti pola yang rapi, dengan kendaraan yang bergerak membentuk garis cahaya. Orang-orang di bawah terlihat kecil, berjalan dan berkumpul di trotoar. Lampu-lampu kota menciptakan suasana yang hangat dan hidup, namun dari ketinggian ini semuanya terasa lebih tenang.
Di kejauhan, terlihat hamparan laut karena letaknya yang dekat dengan Pantai Teluk Penyu. Air laut tampak gelap, namun dihiasi oleh cahaya kapal-kapal yang berkelip indah. Garis pantai terlihat samar, menyatu dengan langit malam, menciptakan pemandangan yang begitu luas dan menenangkan.
Angin malam berhembus cukup terasa di atas sana, membawa aroma laut yang khas. Aku berdiri di samping ibu, sementara ayah sesekali menunjuk ke arah tertentu, menunjukkan pemandangan yang menarik. Kami tidak banyak berbicara, tapi suasana itu sudah cukup untuk membuat kami merasa dekat satu sama lain.
Kami bertiga menghabiskan waktu cukup lama di atas, menikmati pemandangan tanpa terburu-buru. Dari sana, aku merasa seperti melihat dua sisi sekaligus: keramaian kota dengan lampu jalan yang menerangi membuatnya terasa lebih indah dan ketenangan laut di kejauhan. Perpaduan itu membuat momen ini terasa sangat istimewa.
Setelah puas, kami turun kembali melalui tangga yang sama. Begitu keluar, suasana ramai langsung terasa lagi. Kami berjalan santai ke pinggir jalan, lalu membeli minuman dari pedagang. Sambil duduk, aku kembali melihat tugu dengan angka “0” yang bersinar terang. Kini, tempat itu bukan hanya terlihat indah, tetapi juga menyimpan kenangan bersama Ayah dan Ibu yang akan selalu aku ingat.(*)