Tentang Monumen Susu Tumpah di Boyolali

Oleh Muhammad Ardafa

Di Kabupaten Boyolali, berdiri satu ikon yang namanya menurutku unik banget, yaitu “Monumen Susu Tumpah”. Kalau kamu baru pertama kali denger, pasti mikir, “Hah? Susu tumpah di monumenin?” Tapi tau ga sih? Justru itu yang bikin tempat ini beda dari yang lain.

Monumen Susu Tumpah Boyolali merupakan salah satu landmark ikonik yang sekaligus menjadi simbol keberhasilan pengembangan peternakan sapi perah di Kabupaten Boyolali. Diresmikan pada tahun 2018.

Monumen Susu Tumpah hadir menggantikan Tugu Jam yang sebelumnya berdiri di lokasi tersebut dan dijadikan sebagai ikon Kota Boyolali sebagai salah satu sentra terbesar penghasil susu segar di Jawa Tengah. Secara resmi, nama bangunan ini adalah Monumen Susu Murni. Namun, masyarakat lebih akrab menyebutnya Tugu Susu Tumpah.

Bentuk monumennya juga nyentrik. Ada sebuah patung botol besar yang lagi menuang susu, terus susunya kayak lagi tumpah gitu. Bukan tumpah karena ceroboh, tapi lebih ke simbol melimpahnya hasil susu dari Boyolali. Jadi bukan “ups ketumpahan”, tapi “saking banyaknya sampai luber”.

Aku sempat mikir kenapa sih monumennya digambarkan dengan bentuk susu, kenapa ga berbentuk hewan sapi aja ,kan yang menghasilkan susunya itu kan sapi ya? Eits, jangan salah, di Kabupaten Boyolali juga ada patung hewan sapi besar lho, tapi meskipun ada patung hewan sapi, patung susu dipilih untuk merepresentasikan hasil utama ekonomi lokal secara visual dan unik, sekaligus memperkuat julukan “Kota Susu”.

Selain menjadi simbol kebanggaan lokal, kawasan sekitar monumen juga berfungsi sebagai ruang publik. Warga kerap menjadikannya tempat untuk nongkrong, bersantai, maupun beraktivitas bersama sambil menikmati ramainya Kota Boyolali.

Terkadang area ini sering digunakan untuk kegiatan Car Free Day, yang semakin memperkuat peran monumen sebagai pusat interaksi sosial dan kegiatan masyarakat. Aku dan kawan-kawan juga pernah datang untuk menikmati keindahan monumen tersebut.

Ada sekolah juga yang ngajak murid-muridnya mampir ke sini. Biar mereka sadar, segelas susu yang mereka minum tiap pagi itu ada cerita panjang di baliknya. Ada tangan-tangan peternak yang kerja keras tanpa banyak drama.

Kalau malem, lampu-lampu di sekitar monumen nyala dan bikin suasana makin estetik. Susu yang “tumpah” itu kelihatan bagus dengan warna putih bagaikan susu sapi segar, jadi cocok banget buat kamu yang doyan foto dengan vibes urban tapi tetap ada sentuhan lokalnya.

Yang bikin aku bangga, monumen ini nggak cuma pajangan doang. Dia jadi pengingat kalau sektor peternakan tuh penting banget buat ekonomi daerah. Dari susu, bisa jadi keju, yoghurt, sampai es krim. Bahkan produk-produk susu dari Boyolali udah nyampe ke berbagai kota besar.

Buat para perantau asli Boyolali seperti saya, monumen ini kayak simbol “pulang”. Tiap mudik, kayak bilang ke diri sendiri, “Aku balik, Bro. Ke tanah kelahiran yang penuh susu dan kenangan.”Ini juga menjadi salah satu alasan kenapa aku pilih monumen susu tumpah, bukan monumen sapi, karena setiap aku pergi atau pulang ke Boyolali aku selalu melewatinya.

Jadi kalau kamu lagi main ke Boyolali, jangan cuma lewat doang. Sempetin mampir ke Monumen Susu Tumpah. Biar kamu ngerti, di balik nama yang kedengerannya simpel dan agak nyeleneh, ada cerita perjuangan, kebanggaan, dan identitas satu daerah yang nggak bisa dipandang sebelah mata.(*)