Perang Obor di Tegalsambi

Pada malam sura, angin laut berhembus lembut di Desa Tegalsambi. Langit tampak lebih gelap dari biasanya, seolah memberi panggung pada cahaya obor yang sebentar lagi akan menyala dari tangan-tangan warga desa, di tengah riuh canda anak-anak dan gemuruh suara cuap-cuap warga berbincang, satu per satu warga mulai berkumpul di lapangan desa untuk menyambut malam yang luar biasa.
Setahun sekali, desa ini menjadi perbincangan warga sekitar, Tradisi yang mereka Jalani secara turun temurun, Perang Obor adalah sebuah ritual yang memadukan keberanian, semangat gotong royong, dan doa-doa untuk kesuburan tanah, tak memandang usia, semua warga ikut terlibat, entah berperan sebagai peserta, penonton, atau pedagang.
Obor-obor besar telah disiapkan sejak sore hari yang terbuat dari daun pisang yang sudah kering dan di bentuk menyerupai pedang besar, Para laki-laki terlihat tenang dalam menjalankan prosesinya, Saat obor pertama dinyalakan, sorak sorai penonton bergemuruh saat sijago merah menyala terang, membakar daun pisang yang kering, dan menerangi wajah-wajah penuh semangat peserta dan penonton, Lalu satu persatu peserta maju ke tengah jalan arena perang obor, dengan Langkah penuh percaya diri, mereka saling berhadapan, memegang obor masing-masing seperti senjata.
Kemudian diberi aba-aba, mereka mulai saling menyabetkan obor ke tubuh lawan, sijago merah memercik ke udara, sesekali mengenai kulit, namun tak ada yang mundur dan takut, mereka menari dan bersenang-senang di Tengah kobaran api, seolah tubuh mereka telah kebal terhadap api, tidak ada rasa sakit dan kelelahan di wajah mereka yang ada hanya rasa keteguhan dan rasa hormat pada tradisi yang telah di laksanakan secara turun temurun.
Seketika jalanan arena perang berubah menjadi lingkaran cahaya yang membara, Penonton bersorak sorai dan bertepuk tangan, dan para tetua dan petinggi desa hanya tersenyum menyaksikan prosesii adat tersebut, Mereka menyadari, perang obor bukan tentang siapa yang menang atau kalah tetapi tentang menjaga keseimbangan dan melestarikan tradisi budaya leluhur.
Tak sedikit yang mengalami luka ringan kulit melepuh, rambut sedikit terbakar namun semua menerima dengan ikhlas, mereka percaya, luka-luka itu adalah bagian dari pengorbanan dan ikut andil dalam melestarikan tradiasi, Sebuah persembahan adat untuk meminta kehidupan yang lebih baik, Untuk sawah yang subur, hasil laut yang melimpah, dan Untuk desa yang aman tentram gemah ripah lojinawi.
Usai “pertempuran”, para peserta istirahat, saling tersenyum bangga, dan memberi tepuk tangan memberi apresiasi, Obor mereka yang telah padam di malam sunyi namun semangatnya masih menyala, di panggung utama acara tercium aroma jenang, ketan dan makan-makanan pertanda prosesi telah berakhir.
Para peserta dan warga membagikan makanan, anak-anak mencicipi jajanan sambil meniru gerakan perang obor dengan ranting. Sementara itu, musik gamelan mengalun lembut mengiringi suasana dan menciptakan suasana hangat yang menyatu dengan suara debur ombak dari kejauhan.
Tua dan muda berkumpul dalam tempat yang sangat sakral, tapi sangat terasa kebersamaan dan kehangaatannya, Semua kembali diingatkan, bahwa di balik nyala api, ada semangat yang harus terus dijaga dalam menjaga tradisi. Tradisi ini bukan beban, melainkan harta, Dan harta itu harus terus diwariskan ke generasi selanjutnya.
Perang Obor di Tegalsambi bukan sekadar atraksi, Ia adalah kisah warisan leluhur yang telah dilaksanakan secara turun temurun, dan hidup di dalam Tengah-tengah lingkungan warganya, Malam itu, seperti malam-malam Sura di tahun-tahun sebelumnya, desa kecil itu bersinar lebih terang daripada kota, dan Ketika selesai semua kembali sunyi, hanya sisa bara yang menghangatkan tanah dan jalanan, warga percaya selama obor masih bisa menyala, selama tanah dan laut masih memberi kehidupan, dan selama manusia mau menjaga warisan leluhurnya, tradisi ini akan terus hidup dan tidak akan padam.(*)

Oleh Rafli Bakhtiar