Kampung Pecinan Semarang adalah sebuah kawasan tua yang menyimpan kekayaan budaya dan tradisi turun-temurun. Terletak di dekat pusat kota, kawasan ini telah menjadi rumah bagi komunitas Tionghoa sejak abad ke-17. Melangkah ke dalamnya, suasana berbeda langsung terasa deretan rumah-rumah tua berarsitektur campuran. Tionghoa dan kolonial Belanda berdiri berdampingan, hidup masyarakat yang masih menjaga tradisi leluhur mereka dengan penuh cinta dengan jalan-jalan sempit yang dipenuhi aroma dupa dan masakan khas.
Kelenteng menjadi pusat kegiatan spiritual saat perayaan tiba. Kampung Pecinan juga terkenal dengan kelenteng-kelenteng bersejarah, seperti Kelenteng Tay Kak Sie dan Siu Hok Bio. Kelenteng-kelenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan budaya. Setiap tanggal-tanggal penting dalam kalender lunar, warga Pecinan melakukan sembahyang bersama, membakar dupa, dan menyajikan sesaji kepada dewa-dewi sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan.
Salah satu tradisi terbesar di Kampung Pecinan adalah perayaan Tahun Baru Imlek. Setiap tahun, jalan-jalan dihiasi ribuan lampion merah yang menyala indah di malam hari. Menikmati makanan khas seperti kue keranjang dan lontong cap go meh. Pertunjukan barongsai dan liong mewarnai suasana, dipercaya membawa keberuntungan bagi siapa saja yang menyaksikannya. Saat Cap Go Meh(Perayaan ke-15 Imlek yang dirayakan dengan berbagai pertunjukan seni, atraksi, dan pameran budaya) tiba, barongsai dan liong tampil menghiasi jalanan kampung. Suara tambur menggema, petasan meletup, dan anak-anak bersorak gembira. Barongsai menari dari toko ke toko, dipercaya membawa keberuntungan.
Tari Barongsai dan atraksi Liong (naga) juga menjadi bagian penting dari tradisi. Anak-anak muda yang tergabung dalam sanggar seni akan menampilkan pertunjukan keliling kampung, menari mengikuti irama tambur dan simbal. Setiap toko atau rumah yang dikunjungi barongsai dipercaya akan mendapat berkah dan rezeki. Selain perayaan keagamaan, kampung ini juga kaya akan kuliner khas.
Di tengah perayaan, kuliner menjadi bagian tak terpisahkan. Lumpia Semarang yang terkenal, tahu pong, kue mochi, dan nasi campur peranakan menjadi sajian utama. Makanan ini bukan hanya pengisi perut, tapi juga pengingat akan akulturasi yang telah lama terjadi antara budaya Tionghoa dan Jawa. Banyak kedai yang masih dikelola turun-temurun, dan resep-resep kuno masih dipertahankan seperti warisan emas.
Kini, Kampung Pecinan Semarang tidak hanya merupakan pusat budaya Tionghoa, tetapi juga cerminan dari keberagaman dan akulturasi budaya di kota ini. Perayaan, tradisi, dan bangunan yang ada di kawasan ini menjadi bukti penting akan sejarah dan kekayaan budaya Semarang.(*)
Oleh Rafinsha Aji