Sekilas tentang Desa Kesesi

Kali pertama saya datang ke Desa Kesesi adalah ketika saya berumur 4 tahun. Namun, saya akan menceritakan pengalaman pribadi saya ketika saya mudik ke Desa Kesesi saat berumur 16 tahun. Desa ini berada di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Desa Kesesi terkenal dengan masyarakatnya yang ramah serta budayanya yang masih kental. Sebagai seseorang yang terbiasa tinggal di kota, kampung halaman bisa menjadi salah satu tempat rekreasi yang menyenangkan, dengan panorama alamnya yang melimpah.

Menurut cerita kakek dan ayah saya, nama ”Kesesi” berasal dari seorang tokoh yang bernama Ki Sesi, yang dulu dipercaya sebagai penjaga hutan di wilayah tersebut. Ki Sesi dikenal bijak dan sakti, dan dipercaya mampu menenangkan binatang buas serta menyembuhkan orang sakit. Hingga kini, nama Kesesi dijadikan nama desa untuk menghormati jasa jasanya.

Masyarakat Kesesi sangat menjaga tradsi. Salah satu acara yang masih rutin dilaksanakan adalah sedekah bumi, di mana warga berkumpul membawa hasil bumi dan berdoa bersama sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diperoleh. Acara ini juga menjadi momen silaturahmi dan hiburan karena biasanya disertai pergelaran wayang kulit. Selain itu, sedekah bumi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antargenerasi, karena nilai-nilai budaya dan kearifan lokal diwariskan kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan tradisional. Kanak-kanak dan remaja diajak  terlibat, baik dalam persiapan maupun pelaksanaan acara, sehingga tumbuh rasa cinta terhadap budaya sendiri. Tradisi ini pun menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Kesesi yang terus dijaga hingga kini.

Ada satu cerita yang pernah saya dengar dari kakek saya tentang mitos sumur tua. Di tengah desa, ada sebuah sumur tua yang sudah ada sejak zaman kolonial. Konon, sumur itu dulu sering digunakan oleh Ki Sesi untuk bersemadi. Banyak warga percaya bahwa air dari sumur ini bisa membawa berkah jika digunakan untuk mandi atau mencuci muka. Namun, tidak sembarang orang bisa mengambil air dari sana, harus dengan niat yang baik dan hati yang bersih.

Dan ada satu cerita lagi yang saya dengar, yaitu tentang makam keramat. Di bagian selatan desa, terdapat makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Ki Sesi. Makam itu selalu bersih dan terawat, meskipun tidak ada yang terlihat merawatnya. Setiap malam Jumat Kliwon, beberapa orang datang untuk berziarah atau berdoa, berharap mendapatkan petunjuk atau kelancaran usaha. Konon, makam tersebut memancarkan aura ketenangan yang khas, dan banyak warga percaya bahwa Ki Sesi adalah sosok bijaksana yang masih menjaga desa dalam wujud tak kasat mata.

Saya pernah merasakan kejadian mistis juga ketika saya hendak pergi menginap ke rumah saudara saya yang berbeda daerah. Malam itu suasananya sangat sunyi, didukung oleh jalanan yang kanan-kirinya masih hutan. Malam itu saya dan adik saya pergi ke rumah saudara saya menaiki motor. Di pertengahan jalan, saya melihat ada sesosok perempuan yang memakai gaun putih dan rambut panjang yang tergerai. Saya tidak melihat terlalu jelas karena saya langsung mengebut ketika melihatnya sekilas. Saya tidak tahu apakah itu halusinasi saya atau memang makhluk gaib.

Warga Desa Kesesi hidup dengan sederhana, tapi penuh kebijaksanaan. Mereka masih memegang teguh nilai gotong-royong. Saat musim panen, hampir seluruh warga saling membantu tanpa pamrih. Ini mengajarkan saya arti kebersamaan yang sesungguhnya. Mereka tidak hanya bekerja sama, tapi juga tertawa, berbagi cerita, dan menikmati hasil panen dengan penuh syukur. Suasana hangat terasa di setiap sudut desa, seolah setiap rumah adalah bagian dari satu keluarga besar. Anak-anak berlarian di antara tumpukan padi, sementara para orang tua duduk di teras sambil menyeduh teh dan membicarakan masa muda mereka.

Mayoritas warga menggantungkan hidup dari bertani. Padi merupakan sesuatu yang mereka tanam. Setiap pagi, deru cangkul dan gemerisik dedaunan menjadi pertanda dimulainya hari. Para petani, dengan topi caping dan semangat mereka, menyusuri sawah yang luas. Tak hanya bekerja untuk perut sendiri, para petani sadar bahwa hasil kerja mereka turut menghidupi banyak orang. Anak-anak bisa sekolah dan jalan desa bisa diperbaiki.

Setiap tahun, Kesesi mengadakan pesta rakyat yang menampilkan kesenian daerah seperti kuda lumping, tarian tarian, dan wayang. Di sela-sela pertunjukkan, orang tua biasanya bercerita tentang legenda-legenda setempat, termasuk cerita tentang siluman ular yang konon menjaga perbatasan desa dari marabahaya. Legenda itu diwariskan dari generasi ke generasi, tidak tertulis dalam buku, tapi hidup dalam cerita. Bagi warga Desa Kesesi, ini bukan sekadar dongeng, melainkan salah satu bagian dari identitas mereka.

Pagi hari di Desa Kesesi adalah waktu yang paling saya sukai. Kokokan ayam dan kicauan burung saling bersahutan. Pemandangan matahari terbit dari balik pegunungan benar benar indah. Di Kesesi, waktu terasa berjalan sangat lambat, memberi ruang bagi setiap orang untuk saling mengenal dan menghargai. Tidak ada yang merasa sendiri, karena di sini, tangan selalu terulur saat dibutuhkan. Dari mereka, saya belajar bahwa kebahagiaan tak harus datang dari kemewahan, tapi dari hubungan yang tulus antarsesama. Desa kecil ini, dengan segala kesederhanaannya, telah meninggalkan jejak yang dalam di hati.

Tinggal beberapa minggu di Kesesi mengubah cara pandang saya terhadap hidup. Saya belajar untuk lebih menghargai alam dan menjunjung tinggi kebersamaan. Meski kecil, desa ini menyimpan banyak nilai besar yang patut diteladani. Saya belajar bahwa hidup tidak harus selalu untuk mengejar sesuatu. Kadang, kita justru menemukan makna ketika memilih untuk berhenti sejenak, diam, dan mendengarkan. Mendengarkan cerita-cerita lama, suara alam, dan yang terpenting suara hati sendiri.(*)

Oleh Harun Fakhry Rahman