Legenda Desa Telukwetan

Pada zaman dahulu, Desa Telukwetan merupakan sebuah teluk yakni daratan yang menjorok ke lautan. Pada awal abad ke-14, suatu ketika wilayah ini kedatangan rombongan dari saudagar China yang sedang ekspedisi mencari tempat rempah-rempah yang ada di Pulau Jawa.  Rombongan ini bernama rombongan Dampoawang. 

          “Dulu daerah sini memang lautan, yang nemuin daerah sini orang China yang mirip sama yang nemu daerah Sam Poo Kong sana, di  Semarang,” ujar Bapak Dwi, orang desa Telukwetan. Lalu rombongan ini terdampar di pesisir laut utara di daerah Semarang dan perahunya terdampar di kecamatan Welahan, tepatnya di perbatasan Welahan dan Mijen. Daerah tersebut dulunya masih berupa pelabuhan.

           Selanjutnya rombongan ini pun melanjutkan perjalanan entah ke mana karena terdampar hingga menemukan sebuah klenteng tertua di Jepara, yaitu klenteng lahan lalu mereka singgah dan beberapa awak kapal menjadi warga tetap di sana. Daerah Telukwetan yang dulunya masih berupa teluk atau daratan yang menjorok ke laut wilayah pesisirnya semakin mundur semakin menjauh dari kawasan ini karena aktivitas vulkanisme dari Gunung Muria hingga menyebabkan Desa Teluk menjadi daratan seutuhnya Desa Teluk dibagi menjadi dua yaitu Desa Telukwetan yang berada di sisi timur dari laut dan Telukkulon yang berada sisi barat dari laut sebelumnya.

           Desa Teluk Wetan menjadi sentra meubel anyaman rotan di Jepara. Awalnya Pada tahun 1972, petinggi Desa telukwetan bernama H. Noor Ahmad Sidiq mendatangkan rombongan dari Cirebon tepatnya daerah debus Jawa Barat selama 3 bulan. Berkat interaksi selama 3 bulan dengan warga Telukwetan. Maka terjadi pertukaran budaya, pertukaran pikiran, dan kolaborasi antara warga setempat dan warga Cirebon yang dimana warga Desa Telukwetan belajar banyak mengenai cara membuat anyaman rotan.

           “Pas zaman Pak Harto dulu ada warga sini yang dibawa ke luar buat belajar mengenai anyaman rotan, terus disebar ilmunya buat diaplikasikan ke masyarakat setempat,” ucap mantan petinggi (kepala desa) Desa Telukwetan, Bapak Budi Santosa. 

           Selanjutnya pada tahun 1977, pada saat era Orde Baru terdapat tiga orang warga Desa Telukwetan bernama Pak Taskan, Pak Supandi, dan Pak Sutiman mengikuti pelatihan yang dibiayai oleh pemerintah menuju Filipina. Sejak pulang dari Filipina mereka bertiga menyebarkan ilmu yang mereka dapat di sana untuk mengajarkan cara membuat anyaman rotan kepada warga desa Telukwetan. Semenjak saat itulah Desa Telukwetan menjadi sentra kerajinan anyaman rotan terbesar kedua di Jawa Tengah.(*)

Oleh Fahreza Johan Ar Raffi