Tentang Waduk Sermo

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya daerah Kulon Progo terdapat sebuah waduk yang Bernama Waduk Sermo. Waduk ini dibangun pada tahun 1994 dan diresmikan pada tanggal 20 November 1996 oleh Presiden Soeharto yang merupakan Presiden ke-2 Republik Indonesia kala itu. Waduk sermo dibangun untuk menjamin pasokan air ke daerah irigasi kalibawang dan sebagai obyek wisata karena pemandangan alamnya yang indah.

Konon dahulunya, Waduk Sermo adalah sebuah permukiman warga desa yang memiliki 100 kepala keluarga yang bedhol desa ke luar kota untuk memperlancar Pemerintah dalam pembuatan waduk ini. Ada beberapa masyarakat desa yang tidak setuju dengan bedol desa ini, namun Pemerintah berupaya membujuk masyarakat yang tidak mau pindah dari desa tersebut. Dibalik keindahan Waduk Sermo terdapat banyak cerita mistis dan mitos yang beredar di tengah masyarakat tentang Waduk Sermo. Salah satu cerita yang beredar adalah cerita tentang makam Mbah Sermo yang konon awalnya berada di tengah waduk. Menurut orang-orang, di sekitar Waduk Sermo ada makam keramat dan tetua yang sangat di hormati di desa tersebut.

Ada seorang anak SMP yang bernama Eka bersama dengan teman dan para guru berwisata di Waduk saat air di waduk sedang surut atau air di waduk hanya setengah. Ketika Eka sedang berjalan-jalan dan melihat pemandangan di sekitar waduk, mata Eka tertuju pada gundukan tanah di tengah waduk yang airnya setengah tersebut. Anak itu kebingungan, lalu bertanya kepada teman sekelasnya bernama Nael dengan raut penasaran “Eh el, itu gundukan apa di tengah waduk, sangat tidak terlihat jelas dari sini” katanya sambil penasaran. Lalu Nael menjawab sambil membuat vidio alam sekitar waduk, “Oh, iya itu apa ya, Ka, sangat tidak terlihat jelas dari sini, coba kamu tanya orang sekitar sini”.

Di tengah rasa penasaran Eka, ada seorang bapak penjual bakso, Eka dengan perut laparnya ingin membeli semangkok bakso tetapi rasa penasaran dipikiran Eka mengalahkan rasa lapar diperut Eka. Dengan rasa penasaran dan tanpa berfikir panjang Eka bertanya kepada Bapak penjual bakso yang selesai melayani penjual, “Permisi, Pak, saya mau tanya boleh?”

Dengan rasa kaget Bapak penjual bakso pun menjawab “Boleh, Nduk. Mau tanya apa, tapi bapak sambil memanaskan kuah bakso ya?”

Eka dengan muka masih penasaran dan gembira menjawab, “Tidak apa-apa, Pak, Oh iya bapak tahu tidak, di tengah waduk itu ada gundukan apa ya, Pak?”

Sambil mengaduk kuah bakso, Bapak tersebut mulai melihat Eka dengan tatapan lembutnya menjawab, “Gundukan di tengah waduk itu ya? Itu adalah makan Mbah Sermo yang merupakan tetua di desa yang kini dibangun menjadi waduk ini, Nduk”

Lalu dengan muka kaget dan penuh pertanyaan Eka kembali bertanya, “Oh seperti itu ya. Jadi gundukan makam tersebut kelihatan saat air waduk sedang surut, ya?”

Bapak tersebut membalikan badan, “Iya saat air surut gundukan itu terlihat, namun saat air pasang, gundukan tersebut tidak terlihat, Nduk”

Bapak penjual bakso mulai berjalan menuju tempat duduk dan duduk di sebelah Eka. Dengan raut datar Bapak tersebut memperkenalkan diri, ternyata Bapak penjual bakso tersebut bernama Suratmo. Bapak Suratmo adalah salah satu warga di desa yang sekarang berubah menjadi Waduk Sermo, dengan duduk dan membawa sepuntung rokok Pak Suratmo mulai bertanya, “Nduk, kamu sedang wisata ya di waduk ini? Dulu beberapa warga ada yang tidak ingin pindah dari desa, karena mereka menganggap desa ini adalah tanah kelahirannya, dan menurut cerita, arwah mbah Sermo juga tidak setuju dengan bedol desa itu. Katanya orang yang bermain di sekitar waduk atau yang sedang berwisata sering menghilang tanpa jejak menjadi tumbal atas kemarahannya Mbah Sermo”.

Dengan muka tercengang dan kaget setelah mendengar cerita Pak Suratmo, seluruh bulu tangan Eka merinding. Eka mulai merasa cemas dan takut setelah mendengar cerita Pak Suratmo.

Setelah itu, teman-teman Eka menghampiri Eka dan mengajak naik perahu yang ada di Waduk Sermo. Eka Tidak mungkin menolak ajakan teman-temannya, dan juga ingin melihat gundukkan tanah di tengah waduk itu, lalu dengan senyum manisnya Eka berterimakasih kepada pak Suratmo karena sudah menjawab rasa penasaran Eka.

Eka dan teman-teman mulai turun ke bawah untuk naik perahu. Dalam perahu tersebut ada 2 pemuda yang sudah siap mengantar Eka dan teman-temannya untuk berjalan-jalan di waduk. Sebelum naik perahu, Eka dan teman-teman membanyar tiket sebesar Rp.10.000 per orang. Saat perahu mulai berjalan, Eka dapat melihat gundukkan itu dengan jelas, dan benar apa yang dikatakan oleh pak Suratmo, di gundukkan tersebut ada dua buah batu besar, tidak tahu disitu makam mbah Sermo masih ada atau sudah dipindahkan.

Di tengah percikan air di perahu dan suara “cekrekan” foto, salah satu pemuda yang menjalankan perahu mulai berbicara dengan muka yang ditutupi masker. Pemuda tersebut berkata “Di waduk ini ada sebuah mitos tentang ikan mas raksasa yang konon sering meminta tumbal dan setiap malam jumat kliwon ikan mas raksasa itu menampakkan dirinya”.

Teman-teman Eka yang sedang bergembira menaiki perahu tidak percara dengan perkataan pemuda tersebut. Pemuda itu juga bercerita bahwa kata warga empat bulan yang lalu ada yang sedang memancing di waduk sampai magrib, namun katanya si pemancing hilang dan tidak kunjung pulang. Warga sekitar percaya bahwa pemancing tersebut menjadi tumbal ikan mas raksasa.

Maka warga sekitar dan warga yang dulunya tinggal di desa yang sekarang menjadi waduk, setiap sore di jumat kliwon akan berkumpul dan berdoa, dan memberikan sesajen untuk para leluhur. Mereka berdoa karena mereka percaya dengan berdoa dan memberikan sesajen tidak akan ada lagi tumbal selanjutnya di waduk sermo ini dan berdoa untuk arwa yang tidak setuju dengan pembuatan waduk ini, agar mereka diberikan ketenangan.

“Segala mitos dan cerita yang beredar di masyaratakat hanyalah khanyalan, kalau kebenarannya hanya Tuhan yang tahu.” (*)

Oleh Denia Cantika Sari