Asal Mula Hajat Sasih di Kampung Naga

Asal mula Hajat Sasih di Kampung Naga terjalin erat dengan sejarah pembentukan kampung itu sendiri dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya. Menurut cerita yang dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi, Kampung Naga didirikan oleh seorang utusan dari Kerajaan Pajajaran yang bernama Singaparana. Dalam perjalanannya mencari tempat yang sunyi untuk bertapa, Singaparana menemukan sebuah lokasi yang dianggap suci dan memiliki energi spiritual yang kuat, yaitu lembah di tepi Sungai Ciwulan.

Di tempat inilah Singaparana kemudian menetap dan membangun permukiman yang kemudian dikenal sebagai Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga meyakini bahwa Singaparana adalah cikal bakal leluhur mereka dan memiliki peran penting dalam memberikan tatanan kehidupan serta aturan adat yang hingga kini mereka patuhi.

Tradisi Hajat Sasih di Kampung Naga diyakini berakar dari praktik penghormatan kepada roh leluhur, khususnya Singaparana, dan ungkapan syukur atas berkah alam yang mereka terima.

Yang membentuk asal usul Hajat Sasih di Kampung Naga, antara lain:

1. Penghormatan kepada Singaparana dan Leluhur: Masyarakat Kampung Naga memiliki ikatan spiritual yang kuat dengan Singaparana sebagai pendiri kampung dan para leluhur lainnya. Hajat Sasih menjadi salah satu cara untuk mengenang jasa-jasa mereka, memohon keberkahan, dan menjaga hubungan baik dengan alam gaib yang diyakini melindungi kampung. Persembahan dan doa-doa yang dipanjatkan dalam Hajat Sasih seringkali ditujukan kepada para leluhur sebagai perantara kepada Sang Hyang Kersa (Tuhan Yang Maha Esa).

2. Ungkapan Syukur atas Hasil Bumi dan Kehidupan: Meskipun masyarakat Kampung Naga tidak sepenuhnya bergantung pada pertanian seperti masyarakat agraris lainnya, mereka tetap memiliki keterikatan dengan alam dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Hajat Sasih menjadi momentum untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan, baik berupa hasil bumi dari kebun dan hutan sekitar, maupun kesehatan dan kedamaian hidup di kampung.

3. Ketaatan pada Adat dan Warisan Leluhur: Pelaksanaan Hajat Sasih di Kampung Naga sangat terikat dengan aturan adat yang telah ditetapkan oleh para leluhur. Setiap tahapan acara, jenis sesajen, hingga waktu pelaksanaannya memiliki ketentuan tersendiri yang harus dipatuhi. Ketaatan ini merupakan wujud penghormatan terhadap warisan leluhur dan upaya untuk menjaga keharmonisan tatanan sosial serta alam di sekitar kampung.

4. Mempererat Kebersamaan dan Solidaritas: Hajat Sasih di Kampung Naga juga memiliki fungsi sosial yang penting. Persiapan dan pelaksanaan acara melibatkan seluruh warga kampung. Gotong royong dalam menyiapkan makanan, membersihkan lingkungan, dan melaksanakan ritual mempererat tali persaudaraan dan rasa kebersamaan antarwarga. Ini menjadi momen penting untuk memperkuat identitas kolektif sebagai masyarakat adat Kampung Naga.

Dalam pelaksanaannya, Hajat Sasih di Kampung Naga melibatkan serangkaian ritual yang khas, seperti:

1. Nyekar k\ Makam Karuhun: Ziarah ke makam leluhur, khususnya makam Singaparana, untuk menyampaikan doa dan permohonan.

2. Ngalaksa: Membuat dan menyajikan nasi laksa, hidangan khas yang menjadi bagian penting dalam upacara adat di Kampung Naga.

3. Pertunjukan Seni Tradisional: Menampilkan berbagai seni tradisional seperti tari-tarian dan musik gamelan sebagai bentuk hiburan dan ungkapan budaya.

4. Doa Bersama: Memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi seluruh warga kampung.

Hajat Sasih dilaksanakan 6 kali dalam setahun, bertepatan dengan hari-hari besar Islam, yaitu: Bulan Muharram, Maulud (Rabiul Awal), Jumadil Akhir, Ruwah (Syaban), Syawal, Rayagung (Dzulhijjah), dan terdapat tanggal alternatif dari pelaksanaan upacara ini.

Oleh Najri Adlani Rahman