Pagi itu, kabut menyelimuti pepohonan yang diam, seolah alam enggan beranjak dari mimpinya. Aku berjalan sendirian menyusuri jalan setapak di antara semak dan akar, menuju telaga yang katanya pernah menjadi tempat pertapaan seorang resi sakti. Udara dingin menyentuh kulit seperti bisikan lama yang tertinggal di udara. Daun-daun berguguran perlahan, dan embun membasahi sepatuku yang sudah mulai lusuh.
Aku tidak tahu kenapa kakiku membawaku ke sini. Mungkin hanya ingin diam. Atau mungkin aku ingin tahu, seperti apa tempat yang katanya terbentuk dari air mata seorang resi yang patah hati oleh pengkhianatan.
Saat angin berhembus pelan, dedaunan bergemerisik seperti suara langkah yang bukan berasal dariku. Aku berhenti. Hening. Tapi seolah alam tidak ingin aku pergi. Dan di sanalah aku melihatnya. Seorang lelaki tua berjubah putih duduk di batu besar, menatap telaga yang nyaris tidak beriak. Tatapannya kosong, tapi dari tubuhnya mengalir sesuatu yang lebih dalam dari kata-kata: kesedihan yang tak bertepi.
Aku mencoba bersuara, namun sebelum sempat berkata apa pun, dunia sekitarku bergoyang. Kabut menjadi lebih tebal, dan udara berdesir. Angin yang kencang menerpaku, membuatku mengerjap beberapa kali. Pada kedipan aku tersadar, pohon-pohon telah lenyap, digantikan oleh dunia yang asing dan sunyi.
Aku tidak lagi di dunia dan waktu yang kukenal. Hutan yang tadinya hijau dan sunyi kini dipenuhi warna keemasan. Udara mengandung wangi bunga yang tak pernah kutahu namanya. Dan suara… ya, suara gamelan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, mengiringi langkah-langkah yang tak kasatmata.
Di hadapanku, sang resi masih duduk. Tapi kali ini ia menoleh padaku. Mata tuanya menyimpan segala yang tak pernah bisa dikatakan manusia: pengabdian, luka, dan cinta yang tak sampai.
“Engkau telah datang terlalu dekat dengan kenangan yang tak seharusnya dibuka,” katanya, suaranya seperti desir dedaunan kering. “Namun, mungkin memang waktunya kisah ini dikenang kembali, agar air mata tak menguap sia-sia.”
Seketika itu pula, dunia di sekeliling kami bergetar lagi dan aku merasa seperti ditarik ke suatu tempat lain. Benar saja, sekarang aku berdiri di tengah istana tua, dengan pilar-pilar batu yang menjulang di antara taman-taman teratai. Di kejauhan, seorang perempuan berpakaian serba putih menari, senyumnya tenang. Entah bagaimana tetapi aku langsung tahu siapa dia, seolah-olah aku mengenalnya sejak lama.
Dia adalah Raras, murid kesayangan sang resi, dan satu-satunya yang ia percaya sepenuh jiwa.
Namun kepercayaan adalah pisau yang tajam. Raras jatuh hati pada seorang pangeran dari kerajaan seberang, yang diam-diam mencuri ajian sang resi untuk menaklukkan daerah ini. Di malam bulan purnama, ketika sang resi tengah bertapa, Raras melangkah pelan ke gua pertapaan, membawa bunga yang telah dicampur racun lembut.
Aku menyaksikan semuanya, tanpa bisa menghentikan. Setiap langkah pengkhianatan, setiap isak tangis tertahan, dan akhirnya tubuh sang resi yang rebah di pinggir telaga, tak mati, tapi hancur dalam diam.
Dan dari matanya, air itu keluar. Tak deras, hanya setetes. Tapi setetes yang menyimpan seluruh kepedihan jiwanya. Tanah membelah, dan air memenuhi cekungan besar di kaki bukit. Telaga itu lahir dari cinta dan kehancuran yang seharusnya tidak saling menyapa. Air mata sang resi mengalir abadi, karena tidak ada kata maaf yang sempat terucap, dan tidak ada pelukan terakhir yang bisa menghangatkan luka.
Aku terbangun dengan napas memburu, duduk di tepi telaga yang kini kembali sunyi. Tidak ada istana, tidak ada resi, tidak ada Raras. Hanya embun pagi yang menempel di rumput, dan suara burung kecil yang memanggil mentari dari balik kabut. Tanganku menggenggam sesuatu—sehelai kelopak bunga teratai, basah oleh embun atau mungkin… air mata.
Aku menatap permukaan telaga yang tenang. Di sana, bayanganku mengambang bersama kenangan yang bukan milikku, tapi kini seolah tinggal di dalam dadaku. Ada perasaan asing yang membekas, seperti kesedihan yang ditinggalkan oleh seseorang yang pernah sangat mencintai.
Mungkin memang benar, beberapa rasa tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya mengendap, menunggu waktu untuk ditemukan kembali oleh jiwa-jiwa yang cukup mengerti untuk mendengarkannya.
Saat aku melangkah pulang, daun-daun menyambut langkahku seperti tahu aku telah berubah. Bukan karena waktu yang kulewati, tapi karena sesuatu dalam diriku kini lebih tenang, lebih memahami kehilangan, dan lebih menghargai air mata yang jatuh tanpa suara.
Dan ketika aku menoleh untuk terakhir kalinya, kulihat bayangan sang resi berdiri di antara pepohonan, mengangguk pelan—seolah berkata: Terima kasih telah mendengar kisahku.(*)
Oleh Jihan Lathifa Maharani