Saat upacara persembahan Labuhan Merapi suasana khidmat menyelimuti lereng gunung Merapi. Acara ini merupakan wujud syukur dan persembahan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya kepada sang penjaga gunung, yang dipercaya sebagai penguasa Merapi. Ribuan warga dari berbagai penjuru berdatangan termasuk para abdi dalem keraton Yogyakarta, berkumpul untuk mengikuti prosesi ini.
Upacara Labuhan Merapi dilaksanakan pagi hari dengan berbagai ritual di beberapa titik sekitar gunung. Abdi dalem Keraton Yogyakarta dengan mengenakan pakaian adat Jawa, membawa ubarampe atau sesaji yang akan dijadikan persembahan. Sesaji ini terdiri dari hasil bumi contohnya seperti lauk pauk, buah-buahan, nasi tumpeng, bunga, kain batik dan berbagai artefak tradisional.
Setiap ubarampe yang disajikan dalam upacara Labuhan Merapi memiliki makna yang mendalam. Bukan sekadar hasil bumi, hal ini merupakan representasi dari doa dan rasa syukur dari Masyarakat kepda sang penjaga gunung. Makna ini semakin memperkaya nilai spiritual tradisi Labuhan Merapi.
Salah satu sesaji utama ialah nasi tumpeng. Bentuknya melambangkan gunung seperti mengerucut. Nasi yang berwarna kuning melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Lauk pauk yang menjadi pelengkap tumpeng memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan kesuburan-kehidupan.
Udara dipenuhi aroma dupa dan harum bunga-bunga yang telah dirangkai menjadi sesajian indah. Kain-kain batik dengan motif klasik, dibentangkan dengan hati-hati. Berbagai hasil bumi, mulai dari padi yang menguning, buah-buahan segar, hingga hewan ternak, telah disiapkan sebagai persembahan. Bunga, bunga tujuh rupa melambangkan keindahan dan harapan. Aroma bunga dipercaya mengundang roh-roh baik dan menciptakan suasana khidmat. Kain batik, merepresentasikan identitas Masyarakat jawa dan kekayaan budaya. Buah-buahan, melambangkan hasil bumi yang melimpah. Persembahan ini adalah wujud syukur atas karunia alam yang telah diberikan oleh sang pencipta. Artefak tradisional, contohnya seperti selendang, kemben, dan benda pusaka, memiliki nilai spiritual dan Sejarah. Benda ini merupakan symbol penghormatan kepada leluhur dan menjaga tradisi.
Diawali prosesi dimulai dengan arak-arakan dari beberapa titik kumpul menuju labuhan di Srimanganti yang terletak di lereng Merapi. Barisan depan diisi oleh para abdi yang membawa ubarampe, kemudian diikuti oleh perwakilan pemerintah daerah, tokoh Masyarakat, dan warga yang menyaksikan jalannya upacara. Pembacaan doa dan kidung jawa mengiringi Langkah mereka, yang kemudian menciptakan suasana khidmat dan spiritual yang mendalam.
Sesampainya di Srimanganti ubarampe ditata di atas altar sederhana. Seorang sesepuh adat akan memimpin jalannya upacara inti. Para sesepuh kembali memanjatkan doa, memohon keselamatan, kesuburan tanah, dan kedamaian bagi seluruh Masyarakat. Asap dari dupa membawa harum bunga dan wangi tradisional.
“Upacara Labuhan adalah tradisi turun-menurun yang sangat dijaga. Acara ini adalah wujud terima kasih kepada sang penjaga gunung atas limpahan rahmat dan memohon agar Merapi memberikan kedamaian dan menjauhkan dari segala bencana,” ujar Ki Juru Kunci Suraksaharga.
Labuhan Merapi bukan sekedar ritual, yaiu pengingat bahwa hidup berdampingan dengan alam adalah warisan yang tidak boleh putus. Beliau mengatakan bahwa esensi labuhan ini adalah menjaga hubungan antara manusia dengan alam.
Setelah pembacaan doa selesai, ubarampe diarak menuju bibir kawah Merapi. Proses ini dilakukan dengan penuh penghormatan. Beberapa abdi terpilih dengan sigap menuruni jalur yang terjal untuk meletakkan sesaji di tempat yang telah ditentukan. Hal tersebut menjadi puncak dari Labuhan Merapi, persembahan secara simbolis diserahkan kepada penjaga gunung.(*)
Oleh Aulia Hafidz