Dahulu kala di wilayah pengunungan tinggi yang sejuk dan sunyi hiduplah seorang petapa sakti mandraguna bersama putrinya yang cantik jelita. Sang petapa terkenal karena kesaktian yang luar biasa, sementara sang putri dikenal karena parasnya yang ayu, tingkah laku sopan santun, serta kemampuannya dalam berbagai bidang.
Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan yang berasal dari Kerajaan Masaran. Ia merupakan putra dari seorang raja yang kaya raya, sangat terpandang, dan memiliki pengaruh yang besar. Meskipun hidup dengan bergelimang kemewahan, ia memiliki keinginan untuk mempunyai kesaktian. Ia pun memutuskan untuk berguru kepada sang petapa tersebut, berharap dapat memperdalam ilmu spiritual dan kebatinan.
Hari demi hari berlalu. Sang pemuda tekun berguru dan selalu bertemu dengan gadis yang merupakan putri dari seorang petapa. Lambat laut, benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya. Mereka saling jatuh cinta tanpa memandang kasta dan latar belakang. Cinta yang mereka miliki murni, tulus dan penuh harapan.
Namun, hubungan mereka menemui hambatan yang besar. Orang tua dari pihak sang pemuda terutama ayahnya menolak keras hubungan tersebut. Bagi mereka, perbedaan kasta dan status sosial adalah tembok yang tidak bisa dilewati.
“Ingatlah, anakku.” ujar sang ayah dengan sangat lantang, ”Keluarga kita adalah keluarga bangsawan yang terpandang. Tidak mungkin langit bersatu dengan bumi. Jika kau menikah dengan gadis miskin itu, aku tidak akan pernah merestui.”
Sang pemuda menahan amarahnya.
“Tapi ayah, aku sangat mencintainya. Apakah ayah tega jika nantinya aku menikah dengan gadis yang sama sekali tidak aku cintai?” tanyanya dengan nada bergetar.
“Tentu saja. Aku akan menjodohkanmu dengan putri dari kerajaan seberang. Dia cantik, terhormat dan sepadan dengan status keluarga kita. Dia jauh lebih baik dari pada gadis miskin itu,” tegas sang ayah.
Bagaikan disambar petir, sang pemuda merasa amat kecewa dan terkhianati. Ia pun memilih pergi meninggalkan istana secara diam-diam, menuju pegunungan untuk menemui kekasihnya.
Setibanya di sana, ia menceritakan semua yang terjadi terkait perjodohannya dengan putri dari kerajaan seberang kepada sang kekasih. Gadis itu hanya diam, merenung, lalu menatap sang pemuda dengan mata berkaca-kaca.
“Kakanda, aku tahu sedari awal bahwa cinta kita tidak akan mudah. Aku sadar, kita berasal dari dunia yang berbeda.,” ucap sang gadis dengan lirih.
“Tapi aku mencintaimu, Adinda. Dan aku tak akan bisa hidup tanpa dirimu,” jawab sang pemuda sembari menggenggam tangan kekasihnya.
“Aku pun mencintaimu, Kakanda. Namun, dunia tidak berpihak kepada kita. Mungkin ini saatnya kita menyerah,” kata sang gadis dengan suara yang parau.
Dengan berat hati sang gadis memutuskan untuk melarikan diri dari rumah. Ia tidak ingin menjadi beban bagi kekasihnya. Namun, sang pemuda yang mengetahui itu segera pergi mengejarnya.
Namun sayangnya, ayah dari sang pemuda mengetahui hubungan mereka dan menjadi sangat murka. Dengan penuh kemarahan, ia mengutuk mereka berdua mejadi batu.
“Kurang ajar! Kalian telah mempermalukan keluargaku. Akan aku kutuk kalian menjadi batu besar, agar cinta kalian terkubur selamanya,” teriak sang ayah dengan murka.
Sebelum kutukan itu benar-benar terjadi, sang gadis telah sampai di wilayah Masaran. Dia berseru dengan suara yang lantang, ”Jika takdirku menjadi batu, maka jadikan aku batu yang berguna untuk sesama.”
Tak lama kemudian, sang pemuda yang masih berada di bukit mendengar suara kekasihnya. Ia pun berlari meuruni bukit dan memeluk sang kekasih.
“Adinda, sebelum kutukan ini menjadi kenyataan, izinkan aku menikahimu. Aku ingin kita tetap bersama selamanya, dalam bentuk apa pun.”
Sang gadis hanya tersenyum dan menjawab, “Aku setuju, Kakanda. Tapi, bolehkah aku mengajukan satu permintaan?”
“Tentu saja, Adinda. Katakanlah!”
“Buatkan aku sebuah selendang panjang yang mempunyai warna kuning, merah dan hijau sepanjang Pulau Jawa,” pinta sang gadis.
“Aku akan membuatkannya untukmu,” janji sang pemuda kepada kekasihnya.
Namun, sebelum selendang itu selesai dibuat, kutukan sang ayah terjadi. Sang pemuda yang sedang mengumpulkan bahan di daerah Pagedongan perlahan berubah menjadi batu. Di sisi lain, sang gadis yang kelelahan menunggu di Masaran, ia tertidur dan bermimpi menjadi gunung besar. Dan mimpi gadis pun menjadi kenyataan di mana ia benar-benar telah menjelma menjadi sebuah gunung.
Gunung tempat sang gadis menanti dinamakan Gunung Tampomas, dan tempat sang pemuda berubah menjadi batu diberi nama Gunung Lanang. Meski telah menjadi batu, masyarakat sekitar percaya bahwa mereka masih dapat berkomunikasi, jiwa mereka tetap bersatu.
Permintaan sang gadis pun dikabulkan oleh alam. Selendang yang ia impikan berubah menjadi sebuah sungai panjang yang mengalir dari gunung ke lembah, menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.
Bertahun-tahun kemudian, pemerintah memutuskan untuk meledakkan sebagian Gunung Tampomas guna mengambil batu-batunya sebagai bahan utama pembangunan PLTA Jenderal Soedirman yang lebih dikenal sebagai Waduk Mrica.
Proses peledakan memakan waktu selama lima tahun dan menghasilkan batu-batu besar yang kemudian dibawa ke lokasi pembangunan waduk. Sisa batu-batu kecil dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pertambangan batu tradisional. Namun, akibat dari peledakan itu, puncak Gunung Tampomas rusak, dan lubang besar yang tercipta menembus sumber mata air sehingga membentuk sebuah danau alami.
Danau tersebut kini menjadi objek wisata yang indah, saksi bisu dari kisah cinta dua insan yang berbeda kasta namun bersatu dalam keabadian. Masyarakat sekitar meyakini bahwa sepasang kekasih yang mengunjungi objek wisata ini hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Dan siapa pun yang berenang atau menyelam di danau tersebut tidak akan bisa selamat.(*)
Oleh Alifia Putri Azzahra