Suatu hari ada sekelompok orang yang sedang melakukan perjalanan ke daerah Kajen. Sekelompok orang tersebut dipimpin oleh Ki Suto Pranggono dan Ki Bedagas. Ki Bedagas memiliki seorang istri yang bernama Ni Sekar Tanjung. Mereka dikaruniai seorang putri yang bernama Roro Kemuning atau Warga setempat memanggil nya Putri Tanjung. Setelah melakukan perjalanan yang panjang, mereka memilih untuk beristirahat di bawah pohon. Sambil memakan bekal yang dibawa, mereka pun saling bercengkrama satu sama lain.
“Teman-teman ini kita di daerah mana? Aku merasa asing dengan daerah ini,” ujar Ki Bedagas dengan penuh tanya.
“Ini kita sedang berada di daerah Kajen,” ujar Ki Suto Pranggono.
Mereka pun melanjutkan makan bekal tersebut.
Pagi pun berganti malam. Mereka memutuskan untuk bermalam di tempat tersebut sebelum melakukan babat Alas Tanjung.
“Teman-teman ayo kita buat tenda sementara untuk kita bermalam di sini, sebelum besok kita babat alas ini,” ujar Ki Bedagas dengan penuh semangat.
“Ayo kita kerjakan,” ujar teman-teman dengan penuh semangat.
Para laki-laki saling bekerja sama satu sama lain dalam membuat tenda sementara tersebut. Sedangkan para perempuan saling membantu untuk membuat hidangan makan malam ini.
“Kita akan membuat hidangan yang lezat untuk malam ini,” ujar Ni Sekar Tanjung kepada para perempuan dengan riang gembira sambil mengambil bahan bahan yang akan dimasak.
Tenda dan makanan pun sudah siap. “Teman-teman, ayo kita santap hidangan malam ini.” ujar Putri Tanjung dengan ceria.
Mereka memakan hidangan tersebut dengan lahap dan sampai tidak tersisa.
“Karena tenda sudah siap dan hari sudah menunjukkan malam, waktunya kita istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk besok melaksanakan babat alas tanjung,” ujar Ki Suto Pranggono.
“Baiklah, ayo kita istirahat.” ujar Ki Bedagas.
Mereka pun bergegas untuk tidur.
Keesokan harinya Ki Bedagas dan Ki Suto Pranggono bersama dengan teman teman nya akan memulai babat Alas Tanjung.
“Ki Bedagas kamu membabat di wilayah Utara, sedangkan aku membabat di wilayah Selatan,” ujar Ki Suto Pranggono dengan wajah riang.
”Baiklah,” ujar ki Bedagas dengan semangat sembari meraih cangkul untuk membabat.
“Ayo teman teman, kita mulai babat alas ini,” ujar ki suto Pranggono dengan semangat yang menggebu-gebu.
Dengan penuh semangat mereka saling bergotong royong untuk melakukan babat alas tersebut.
Babat Alas Tanjung pun telah selesai dan siap dibuat permukiman. Ki Bedagas dan teman-temannya tengah beristirahat sembari memakan jajanan.
Ki Bedagas menghampiri Ki Suto Pranggono yang sedang berteduh di bawah pohon. “Ki Suto Pranggono, karena kamu membabat di bagian selatan maka tempat tersebut dinamakan Kemranggon sedangkan wilayah utara diberi nama Tanjung karena terdapat pohon tanjung.” ujar Ki Bedagas dengan semangat. Kemudian tempat tersebut digabung menjadi satu desa yaitu Desa Tanjungkulon.
Beberapa tahun kemudian, Desa Tanjung Kulon berkembang menjadi desa yang maju. Para petani mulai mengolah tanah dengan teratur, menghasilkan padi yang melimpah. Jalan-jalan setapak diperlebar agar memudahkan perjalanan. Warga desa hidup dengan rukun.
Putri Tanjung yang merupakan anak dari Ki Bedagas dan Ni Sekar Tanjung sudah tumbuh besar. Ia diperintahkan oleh ibunya untuk pergi ke pasar. Saat putri tanjung berjalan, banyak pasang mata yang tertuju pada nya. Rambut yang bergelombang, kulit bening yang tampak bersinar di bawah sinar matahari, tatapan lembut dan bersinar membuat setiap orang terpesona dengan rupanya.
“Lihat itu, ada bidadari yang turun dari kayangan,” ujar pedagang sayur dengan senang dan mata yang berbinar.
“Aku terpesona dengan parasnya,” ujar pedagang ikan dengan senang.
Putri Tanjung terkenal seantero jagat raya. Tak heran banyak Adipati yang ingin melamar berharap bisa mempersunting nya menjadi istri. Salah satu adipati yang ingin mempersunting putri tanjung adalah Adipati Luwuk.
“Pelayan, esok aku akan mempersunting Putri Tanjung untuk menjadi istriku, tolong siapkan perhiasan dan emas untuk dijadikan mahar lamaran.” ujar Adipati Luwuk dengan tegas.
“Baik, Tuan,” ujar pelayan dengan mengangguk-angguk.
“Aku tidak sabar untuk acara lamaran esok,” ujar Adipati Luwuk dengan bergembira.
Tapi lamaran sang adipati ditolak. Adipati Luwuk marah. Beserta rombongannya ia pergi meninggalkan kediaman Putri Tanjung. Dalam perjalanan pulang, emas perhiasan dan makanan untuk lamaran dibuang ke sawah dan ladang. Terkadang masih ada masyarakat yang menemukan emas di sawah atau ladang.
Waktu telah berlalu. Banyak yang melamar Putri Tanjung tetapi tidak ada satupun lamaran yang diterima olehnya. Putri Tanjung semakin gelisah, hati nya sepertinya seperti dililit kabut. Setelah bergelut dengan pikirannya, Putri Tanjung memutuskan pergi meninggalkan kediaman nya. Putri Tanjung pergi menuju Pantai Utara Pekalongan.
Menyusuri jalan sepi akhirnya sampai di Pantai Utara Pekalongan. Di sana ia duduk diam memandangi laut yang luas. Angin berembus kencang menggoyangkan rambutnya.
Tiba-tiba ombak besar bergulung dan muncullah penguasa laut untuk Pekalongan. “Wahai putri yang hati dan wajahnya sama indahnya, aku mendengar gelisah mu. jangan bersedih,” ujar penguasa Pantai Utara Pekalongan dengan nada lembut.
“Kamu siapa?” tanya Putri Tanjung.
“Aku adalah penjaga laut ini. aku telah lama mencari penerus yang berhati murni. Jadilah anak angkatku. Kamu akan menjadi penjaga baru Laut Utara,” ujar penguasa Pantai Utara Pekalongan dengan lembut.
“Jika ini takdirku, maka aku menerimanya.” ujar Putri Tanjung dengan semangat.
Sejak saat itu, Putri Tanjung menjadi penguasa Laut Utara Pekalongan dan dikenal dengan nama Dewi Lanjar. Lanjar memiliki arti wanita janda dan belum memiliki anak. Sebelum menghilang dari dunia manusia, Putri Tanjung kembali ke desanya dan bersumpah. “Cantik seperti apa pun pasti ada cacatnya.” ujar Putri Tanjung dengan suara menggema. (*)
Oleh Widya Yusnita Maharani