Di balik sunyinya perbatasan antara Kabupaten Pati dan Jepara, berdirilah sebuah desa yang menyimpan legenda kelam: Desa Sirahan. Kini dikenal sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi ratusan tahun silam, tempat ini menyaksikan pertarungan hidup-mati yang menjadi asal-usul namanya.
Zaman dahulu, ketika hutan masih lebat dan hewan buas berkeliaran, Kadipaten Pati mengutus seorang punggawa tangguh, Ki Jiwonolo, untuk membuka wilayah hutan di barat Tayu. Bersama para pengikut setianya dan seorang murid muda bernama Joyodrono, mereka mulai membabat belantara demi membuka lahan kehidupan.
Namun kesetiaan Joyodrono hanyalah topeng. Dalam hatinya tumbuh iri terhadap pusaka sang guru yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Suatu malam, saat hutan sunyi dan Ki Jiwonolo tertidur di bawah pohon besar, Joyodrono mendekat dengan langkah pelan.
“Maafkan aku, Guru… pusaka ini seharusnya jadi milikku,” bisiknya lirih sambil mengulurkan tangan ke ikat pinggang gurunya.
Namun Ki Jiwonolo terbangun. Dengan sigap, ia meloncat dan mengayunkan tombaknya.
“Joyodrono! Kau berani mengkhianatiku?!”
“Aku lebih pantas mewarisi pusaka itu!” teriak Joyodrono, mencabut keris dari pinggangnya. Pertarungan sengit tak terelakkan. Dentingan senjata, benturan tenaga dalam, dan teriakan menggetarkan malam.
Dengan satu tebasan cepat, tombak Ki Jiwonolo memutus kepala Joyodrono. Kepala itu jatuh menggelinding, namun tubuhnya tetap berdiri, bahkan berjalan berkeliling seperti kehilangan arah.
“Astaga… ilmu Pancasona!” seru salah satu pengikut Ki Jiwonolo. “Dia belum mati!”
Tubuh tanpa kepala itu mondar-mandir di dalam hutan. Masyarakat setempat menyebutnya dengan ungkapan: “Clula-clulu kari awak“—berjalan tanpa kepala. Dari ungkapan itu lahirlah nama “Cluwak,” kini dikenal sebagai desa tersendiri.
Karena tubuh Joyodrono tak kunjung mati, para pengikut Ki Jiwonolo akhirnya membakar tubuh itu hingga hangus. Lokasi pembakaran itu dikenal sebagai Punden Kobar, tempat yang dianggap angker hingga hari ini.
Sementara itu, kepala Joyodrono dibuang ke timur, ditancapkan di ujung tombak dan dipajang di pinggir jalan.
“Biarlah kepala ini jadi peringatan,” ujar Ki Jiwonolo. “Siapa yang membangkang, akan bernasib sama.”
Tempat itu kemudian dinamai “Sirahan,” dari kata sirah yang berarti kepala. Nama itu melekat, menandai tempat kejadian tragis tersebut.
Tak hanya melawan muridnya, Ki Jiwonolo juga harus menghadapi Ki Gede Tayu, penguasa lokal yang merasa terusik. Namun kekuatan dan wibawa Jiwonolo membuatnya tetap berdiri kokoh di tanah itu. Namanya pun diabadikan menjadi nama jalan dan desa: Juwanalan.
Tahun demi tahun berlalu. Setelah kemerdekaan, Desa Sirahan mencatat kepala desa pertamanya: Mbah Sareman, seorang bekas prajurit Mataram. Ia pernah bertempur di Batavia melawan Belanda tahun 1628. Berdasarkan hitungan umur, ia diperkirakan diangkat sebagai kepala desa sekitar tahun 1638.
Kini, cerita itu hanya tinggal kisah yang dibisikkan para tetua. Tapi bagi warga Sirahan, legenda itu hidup dalam setiap sudut desa, setiap desir angin, dan setiap doa yang mereka panjatkan. Sebab dari pengkhianatan dan keberanian, lahirlah sebuah nama yang abadi.
Amanat dari kisah ini adalah bahwa kesetiaan dan kejujuran merupakan fondasi dari kehormatan. Pengkhianatan, seberapa pun disembunyikan, akan membawa kehancuran. Dari sejarah kelam, kita belajar bahwa orang besar adalah mereka yang tetap teguh menjaga nilai, bukan mereka yang menginginkannya dengan jalan licik. Kisah Ki Jiwonolo dan Joyodrono menjadi cermin bahwa kebaikan selalu akan menemukan jalannya untuk dikenang dan dijadikan pelajaran oleh generasi setelahnya.(*)
Oleh Rifki Fauzi