Pada zaman dahulu, ketika tanah Jawa masih berupa hutan lebat dan sungai-sungai mengalir jernih tanpa henti, hiduplah seorang tokoh sakti dan bijaksana dari tanah Pasundan bernama Pangeran Dipati Ukur. Ia adalah seorang pejuang dan pemimpin rakyat yang dikenal karena keberaniannya melawan penjajah dan ketidakadilan.
Setelah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya dalam peperangan dan perjuangan melawan penjajah Belanda, Dipati Ukur merasa lelah dengan pertumpahan darah. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan gelanggang pertempuran dan mencari tempat yang sunyi untuk menyepi, bertapa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam perjalanannya, ia menelusuri aliran Sungai Ciliwung yang membelah hutan belantara.
Di suatu tempat yang tenang, jauh dari pusat kekuasaan, ia menemukan sebidang tanah subur di tepi sungai. Tanah itu dikelilingi oleh bukit-bukit hijau dan suara alam yang menentramkan hati. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Maka ia pun menetap di sana, membuka lahan dan mendirikan sebuah padepokan, yaitu tempat untuk bertapa, mengajarkan ilmu, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan kepada siapa saja yang datang.
Padepokan itu kemudian dikenal oleh para pengikut dan murid-muridnya sebagai Padepokan Dipati Ukur. Dalam keseharian, orang-orang yang tinggal di sekitar mulai menyebut tempat itu secara singkat dengan nama “Depok”, sebuah kata yang diyakini berasal dari singkatan “De” (Dipati) dan “Pok” (Padepokan), atau dari nama Dipati Ukur sendiri.
Namun, ada juga yang percaya bahwa kata “Depok” berasal dari bahasa Sunda kuno yang berarti padepokan atau tempat untuk menuntut ilmu dan melakukan laku spiritual.
Waktu terus berjalan, dan padepokan itu tidak lagi sekadar tempat bertapa. Penduduk mulai berdatangan untuk menetap, membuka ladang, membangun rumah, dan membentuk sebuah komunitas yang hidup damai dan sejahtera. Mereka tidak hanya belajar ilmu kanuragan dan kebatinan dari peninggalan sang Pangeran, tetapi juga belajar bertani, berdagang, dan hidup dalam harmoni dengan alam.
Seiring waktu, nama Depok menjadi sebutan resmi untuk wilayah tersebut. Masyarakat lokal tetap menjaga nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh sang pendiri: kejujuran, gotong-royong, dan cinta damai.
Namun legenda tak berhenti di situ. Pada masa kolonial Belanda, wilayah Depok mengalami perubahan besar. Seorang Belanda keturunan Yahudi bernama Cornelis Chastelein membeli tanah di wilayah Depok pada tahun 1696 dan menjadikannya tanah partikelir, yaitu milik pribadi. Ia memerdekakan budaknya dan memberikan tanah kepada mereka. Komunitas ini kemudian dikenal sebagai Orang Depok Lama, yang memiliki budaya dan silsilah yang unik karena pengaruh budaya Belanda, Melayu, dan lokal yang berbaur.
Meski zaman berganti dan peradaban modern mulai berkembang, masyarakat Depok tak pernah melupakan asal-usul kotanya. Dalam hati mereka, nama Depok bukan sekadar nama kota, melainkan warisan dari sebuah padepokan suci, tempat ilmu dan kedamaian bermula.
Dan hingga kini, setiap tetes air Sungai Ciliwung yang mengalir di jantung kota, seolah masih membisikkan kisah Pangeran Dipati Ukur — sang pertapa yang meninggalkan peperangan demi kedamaian. Kota Depok berdiri sebagai bukti bahwa dari kesunyian dan ilmu, bisa tumbuh peradaban yang besar.(*)
Oleh At Thahirah Ansyar