Di tengah hamparan Kecamatan Ambal yang sangat luas, berdirilah sebuah desa yang kini dikenal dengan nama Desa Sinungrejo. Letaknya yang sangat strategis di jantung kecamatan menjadikanya pusat pertemuan berbagai aktivitas dan budaya masyarakat sekitar. Namum, jauh sebelum menjadi desa yang makmur seperti sekarang, wilayahnya ini dulunya hanyalah hutan belantara yang lebat, gelap, dan sunyi. Penduduknya sekitar menyebutnya dengan nama Jrakah tempat yang belum tersentuh peradaban manusia.
Hutan Jrakah adalah wilayah yang penuh misteri. Konon, hanya suara angin yang menyelinap di antara daun – daun raksasa yang terdengar disana. Pepohonan menjulang tinggi, akar – akar merambat seperti ular yang membelit bumi, dan kabut tebal sering turun menutupi pandangan, bahkan di siang hari. Tak ada yang berani tinggal terlalu lama di sana, karena cerita – cerita tua menyebutkan bahwa hutan itu dijaga oleh makhluk halus dan roh leluhur yang tidak boleh diganggu. Namun, di balik kegelapan dan kesunyian itu, tersembunyi potensi besar yang belum tersentuh tangan manusia.
Suatu hari, datanglah seorang pengembara bernama Mbah Wirarana. Ia bukanlah orang sembarangan. Tubuhnya kurus karena bertahun – tahun bertapa dan mengembara, namun sorot matanya menyimpan keteguhan hati dan semangat baja. Ia adalah orang yang telah menjelajahi berbagai tempat gunung, sungai, hutan, pantai bahkan gua – gua keramat untuk menimba ilmu dan pengalaman hidup. Dalam perjalanan panjangnya ia merasa tertarik pada suatu tempat yaitu hutan Jrakah.
Saat pertama kali menginjakan kakinya di hutan Jrakah, Mbah Wirarana merasakan sesuatu yang berbeda. Tidak ada rasa takut dalam dirinya, melainkan ketenangan yang dalam. Seolah – olah tanah itu memanggilnya, mengundangnya untuk tinggal dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih besar. Ia pun memutuskanya untuk menetap, membangun gubuk kecil dari batang bambu dan daun kelapa sebagai tempat berteduh. Malam pertama ia bermalam di sana, langit bersih dan bintang bertaburan seolah memberi restu.
Hari demi hari, Mbah Wirarana mulai membuka hutan. Dengan alat sederhana dan semanagat pantang menyerah, ia menebang pohon, meratakan tanah, dan menanam berbagai tanaman. Tidak jarang ian harus berhadapan dengan binatang buas, cuaca ekstrem, bahkan gangguan gaib yang menguji keyakinannya. Tapi ia tidak pernah gentar. Dalam setiap tantangan, ia selalu mengandalkan ilmu dan kebijakan yang didapatkan selama bertahun – tahun mengembara. Di malam hari, ia bermeditasi dan berdoa, memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa dan pada roh – roh leluhur yang mendiami tanah itu.
Lambat laun, perubahan pun mulai terlihat. Tanah yang dahulu tertutup semak kini terbuka. Burung – burung mulai datang, mata air mulai muncul dari bakik bebatuan, dan udara menjadi lebih sejuk. Cerita tentang seorang leleaki sakti yang merubah hutan Jrakah menjadi tanah yang subur mulai menyebar dari mulut ke mulut. Orang – orang dari desa sekitarnya pun mulai berdatangan, awalnya hanya untuk melihat, tetapi kemudian memutuskan untuk menetap dan ikut membangun.
Melihat perubahan yang luar biasa itu, wilayah tersebut kemudian diberi nama “Sinungrejo”. Nama ini berasal dari kata “Sinung” yang berarti dataran atau wilayah, dan “Rejo” yang bermakna anugerah dan kemakmuran. Nama iitu bukan sekedar sebutan, tetapi doa dan harapan agar desa ini selalu diberkahi kesejahteraan bagi siapa pun yang tinggal di dalamnya.(*)
Oleh Febby Berliana Ayuningtyas