Misteri Stasiun Ganefo

Dulu, sekitar 15 tahun yang lalu. Ayah memutuskan untuk pindah dari asrama TNI yang bertempat di Kecamatan Srondol ke asrama yang bertempat di koramil Mranggen. Kebetulan di belakang asrama itu tidak jauh dari keberadaan salah satu stasiun tertua di Indonesia. Masyarakat sekitarnya memanggil stasiun ini dengan stasiun Ganefo.

Kala itu, setiap hari Minggu aku bersama keluargaku pergi ke stasiun Ganefo untuk sekedar mencari nasi pecel dan jajanan. Suasana stasiun Ganefo setiap hari Minggu kala itu sangat hangat dan ramai. Tetapi ternyata ketika aku sekeluarga telah pindah ke rumah baru kami, kenyataan yang aku dengar mengenai stasiun Ganefo tak seindah itu.

Baru ketika aku memasuki sekolah dasar, banyak sekali gosip mengenai stasiun Ganefo serta lintasan penyeberangan didekatnya. Kebetulan juga SD tempatku belajar berada kurang dari 50 meter dari lintasan penyeberangan itu. Bertahun-tahun aku sering mendengar misteri perlintasan kereta itu, dan aku sudah bosan kalau harus mendengarnya lagi.

Aku punya satu pengalaman yang terus melekat di ingatanku saat pulang sekolah waktu itu. Aku lupa hari atau jam berapa, tapi yang aku ingat pada siang itu aku tengah dalam perjalanan pulang sekolah dengan jalan kaki. Aku dan teman-temanku yang sedang bercanda tiba-tiba merasa lelah, kami pun memutuskan untuk istirahat sebentar di pinggir jembatan dekat jalan besar yang mengarah ke lintasan penyeberangan kereta.

Sekitar 5 menit kami duduk, lalu dari jalan besar kami melihat orang-orang yang melihat ke satu arah, yaitu arah perlintasan kereta. Aku dan teman-temanku awalnya tidak memikirkan apa-apa, wajarlah waktu itu kami masih kecil dan polos. Lalu kami saling lihat satu sama lain, “Eh, ramai-ramai apaan tuh?” kata Dhita temanku.

“Lihat yuk!” Ajak temanku yang lain, Shealsy.

Kami bertiga sama-sama penasaran, akhirnya kami memutuskan untuk lanjut jalan. Sepanjang jalan orang-orang rupanya juga penasaran, sama seperti aku dan teman-temanku. Ku lihat di depan sana orang-orang berkumpul lebih ramai, kami melempar pandang satu sama lain tetapi tetap melanjutkan perjalanan karena memang sehari-hari kami pulang lewat sini.

Singkatnya, hari itu terjadi kecelakaan dimana sebuah minibus tertabrak kereta. Tetapi yang menjadi pembicaraan hangat selama beberapa hari justru adalah misteri perlintasan kereta stasiun Ganefo. Orang-orang desa ku menyebutnya ‘Setan Budeg’, nama yang tentu sudah kondang di seluruh penjuru Indonesia. 

Orang-orang desa sering mengaitkan setiap kejadian kemalangan dengan keberadaan sosok ini, sampai waktu itu ada salah satu program televisi yang meliput mengenai misteri desaku. Tetapi daripada misteri desa, liputan itu lebih seperti mengulas misteri perlintasan kereta Stasiun Ganefo. 

Terlepas dari itu semua, orang-orang di desaku sekarang sudah bisa berpikir lebih rasional. Sejak banyaknya kecelakaan yang terjadi, kini perlintasan yang ada sudah diberi palang, dijaga, dan dibangun jalan layang. Hal-hal itu dilakukan demi menjaga keselamatan orang-orang.

Orang-orang di desaku sekarang lebih memikirkan alasan logis mengenai kejadian-kejadian disekitar. Sampai sekarang ini, pamor ‘Setan Budeg’ itu terus menurun. Orang-orang sudah tidak pernah membicarakan misteri perlintasan kereta stasiun Ganefo lagi, dan kejadian kemalangan yang dulu sering terjadi sudah tidak pernah terjadi lagi karena penjagaan perlintasan ditingkatkan.(*)

Oleh Najwa Salwa Sabrina