Pada zaman dahulu, hidup seorang kakek tua bernama Eyang Sindhu. Eyang Sindhu adalah seorang musafir yang bijaksana di kampungnya. Beliau dikenal sebagai sosok yang suka menolong, rendah hati, dan sering berpindah kota ke kota lain untuk menyebarkan ilmu serta kebaikan. Suatu hari, di tengah perjalanan panjang dari Kota Solo menuju wilayah timur, ketika matahari mulai condong ke arah barat dan hawa terasa semakin panas, Eyang Sindhu memutuskan untuk mencari tempat beristirahat.
Setelah menempuh perjalanan jauh melewati hutan dan ladang, Eyang Sindhu tiba di sebuah hutan kecil yang rimbun dan sejuk. Di bawah pohon besar yang rindang, beliau meletakkan bungkusan kecil berisi bekal perjalanan. Sambil menghela napas panjang, beliau berkata pelan, “Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan tempat yang nyaman untuk leren sejenak.” Suara Eyang Sindhu terdengar lirih, namun penuh rasa syukur. Ia duduk bersila, memejamkan mata sejenak, menikmati semilir angin yang menyejukkan tubuh lelahnya.
Tak lama kemudian, seorang pemuda desa yang sedang mencari kayu bakar melintas di sekitar tempat itu. Ia terkejut melihat seorang kakek tua duduk sendirian di bawah pohon. Dengan sopan, pemuda itu mendekat dan menyapa, “Kakek dari mana? Apakah membutuhkan bantuan?” Eyang Sindhu membuka mata dan tersenyum ramah, “Aku dari Solo, Nak. Aku hanya singgah sebentar untuk leren. Perjalanan ini cukup melelahkan.” Pemuda itu pun menawarkan air minum yang dibawanya, “Silakan Kakek, minum dulu. Air ini dari sumur desa kami, segar dan bersih.”
Setelah meminum air, Eyang Sindhu merasa segar kembali. Ia pun bertanya kepada pemuda itu, “Desa ini namanya apa, Nak?” Pemuda itu menggeleng pelan, “Belum ada nama, Kek. Warga di sini hanya menyebutnya alas, sebab belum banyak yang tinggal di daerah sini.” Mendengar jawaban itu, Eyang Sindhu tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, biarlah tempat ini menjadi saksi bahwa aku pernah leren di sini. Mungkin suatu saat nanti, tempat ini akan dikenal banyak orang.”
Pemuda itu tampak kagum dan bertanya, “Apa arti leren itu, Kek?” Eyang Sindhu menjelaskan dengan lembut, “Leren dalam bahasa Jawa artinya beristirahat, Nak. Setiap orang butuh waktu untuk leren, agar bisa melanjutkan perjalanan dengan semangat baru.” Pemuda itu mengangguk, merasa mendapatkan pelajaran berharga dari musafir tua itu. Ia pun duduk di samping Eyang Sindhu, mendengarkan kisah-kisah perjalanan beliau yang penuh hikmah.
Hari mulai beranjak sore, dan beberapa warga lain datang menghampiri, penasaran dengan kehadiran Eyang Sindhu. Salah satu di antara mereka bertanya, “Mbah, kenapa memilih leren di sini?” Eyang Sindhu menjawab, “Tempat ini terasa damai dan sejuk. Aku yakin, suatu hari nanti, desa ini akan menjadi tempat yang ramai dan penuh berkah.” Warga yang lain menimpali, “Semoga apa yang Mbah katakan menjadi kenyataan. Kami di sini hidup rukun dan saling membantu, meski desa ini belum punya nama.”
Setelah beberapa lama beristirahat, Eyang Sindhu pun melanjutkan perjalanannya. Namun, sebelum pergi, beliau berpesan kepada warga, “Jagalah tempat ini baik-baik. Siapa tahu, kelak akan menjadi desa yang besar dan dikenal banyak orang. Jangan lupa untuk selalu menjaga kedamaian dan kebersamaan.” Warga pun mengangguk penuh harap dan rasa hormat, merasa terhormat telah kedatangan tamu bijaksana seperti Eyang Sindhu.
Seiring berjalannya waktu, cerita tentang Eyang Sindhu yang pernah leren di tempat itu tersebar dari mulut ke mulut. Warga mulai menyebut tempat tersebut sebagai “Duren”, yang berasal dari gabungan kata “Mbah Sindhu leren”. Nama itu pun melekat di hati masyarakat, dan setiap kali ada orang baru datang, mereka akan menceritakan kisah Eyang Sindhu yang pernah beristirahat di sana.
Lambat laun, desa yang tadinya hanya disebut alas mulai berkembang. Warga yang semakin banyak berdatangan, membangun rumah, ladang, dan tempat ibadah. Nama Duren semakin dikenal, bukan hanya di kalangan warga setempat, tetapi juga di desa-desa sekitar. Setiap orang yang mendengar nama Duren akan teringat pada kisah Eyang Sindhu dan arti pentingnya leren dalam kehidupan.
Di setiap pertemuan desa, para sesepuh selalu mengingatkan generasi muda tentang asal-usul nama Duren. “Jangan pernah melupakan sejarah, anak-anak. Desa kita ini diberi nama Duren karena dulu pernah menjadi tempat leren Eyang Sindhu, seorang musafir bijaksana yang membawa pesan damai dan kebersamaan,” ujar salah satu sesepuh pada suatu malam di balai desa. Anak-anak pun mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu, membayangkan sosok Eyang Sindhu yang sederhana namun penuh wibawa.
Kini, Desa Duren dikenal sebagai desa yang ramah dan damai. Setiap warga selalu mengingat pesan Eyang Sindhu untuk menjaga kedamaian dan kebersamaan. Kisah asal mula nama Desa Duren pun tetap hidup, diceritakan turun-temurun agar generasi selanjutnya tidak melupakan sejarah dan asal-usul desanya. Nama Duren menjadi simbol persinggahan, tempat di mana siapa pun boleh leren dan menemukan kedamaian, seperti yang pernah dirasakan Eyang Sindhu dahulu kala.
Dengan demikian, asal-usul nama Desa Duren bukan hanya sekadar cerita lama, melainkan menjadi pengingat bagi seluruh warga akan pentingnya istirahat, kebersamaan, dan menjaga warisan leluhur. Setiap kali ada musafir yang singgah, warga selalu menyambut dengan ramah, seolah mengenang kembali kehadiran Eyang Sindhu yang telah menginspirasi lahirnya nama desa mereka. Begitulah, kisah sederhana tentang leren di bawah pohon rindang telah menjadi sejarah bagi Desa Duren yang kini tumbuh dan berkembang dengan penuh kebanggaan.(*)
Oleh Finna Nur Rohmah