Trend Video Editing Velocity  Di Sosmed: Implikasinya terhadap Layanan BK di Sekolah

Panindya Saafa Ashari1, Ernest Ceti Septyanti2

12 Universitas Negeri Semarang

Pernahkah kalian mencermati trend anak-anak atau siswa sekolah dasar (SD) yang berjoget ria melalui video hasil editing velocity (perubahan kecepatan klip video di bagian tertentu) yang biasanya digunakan untuk membuat transisi dinamis-misalnya gerakan cepat yang tiba-tiba berubah menjadi slow-motion di momen tertentu, berbicara dengan gaya remaja terkadang dewasa, atau meniru audio viral, yang bahkan tidak sesuai dengan usia mereka? Tahukah kalian, dibalik tingkah mereka yang mungkin dianggap lucu oleh sebagian orang, dengan kemungkinan bahwa hal ini akan berkembang lebih jauh menjadi suatu budaya visual, namun efek velocity ini justru akan mempengaruhi anak-anak kita dalam mewujudkan cara mengekspresikan diri. Adakah dampak negatif dari fenomena di dunia digital yang sedang trend ini terhadap perkembangan sosio-emosional anak-anak? Apakah trend ini bisa dianggap sebagai sarana ekspresi diri kreatif? atau justru membawa tantangan psikologis bagi anak-anak yang perlu untuk lebih diperhatikan?

Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini, mari kita pahami lebih dahulu  mengenai situasi sebenarnya yang tengah terjadi saat ini. Generasi yang kini duduk di bangku sekolah dasar adalah bagian dari Generasi Alpha, yakni anak-anak yang lahir mulai tahun 2010 – 2025. Menurut McCrindle (2020) dalam laporannya Understanding Generation Alpha, generasi ini memiliki salah satu sebutan yaitu “The Great Screen-Age”, karena sejak usia dini sudah diperkenalkan pada teknologi informasi komunikasi yang sangat marak, yang mencerminkan bagaimana dunia digital terus berevolusi dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan-terutama pendidikan, komunikasi dan gaya hidup. Kehidupan generasi alpha dibentuk oleh berbagai kecepatan informasi, media sosial, dan trend digital yang terus bergerak tanpa henti. Fenomena ini tentu memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan psikologi-sosial emosional anak-anak di usia dini, yang bahkan melebihi dibandingkan generasi sebelumnya.

Sayangnya di Indonesia, terutama di sekolah-sekolah pada jenjang pendidikan usia dini dan pendidikan dasar (SD-PAUD), layanan bimbingan dan konseling (BK) belum mendapatkan perhatian secara lebih memadai seiring dengan perkembangan tantangan dan kompleksitas dunia pendidikan bagi siswa-siswa pendidikan saat ini. Layanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang semestinya menjadi bagian integral pada sistem pendidikan dasar di Indonesia ini sesungguhnya memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara holistik—baik secara emosional, sosial, maupun akademik. Dengan pola strategi dan pendekatan yang berbeda, jika dibandingkan dengan layanan BK pada jenjang SMP atau SMA, layanan BK pada pendidikan dasar dan di usia dini justru menjadi fondasi pembentukan karakter dan keterampilan hidup.

Sebagaimana dijelaskan oleh Haryati (2019) dalam Jurnal Al-Taujih, kegiatan BK di sekolah asar belum dilaksanakan oleh tenaga profesional yang khusus menangani konseling sebagaimana pola layanan BK di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Tanggung jawab dan fungsi layanan BK ini justru dilimpahkan sepenuhnya kepada guru wali kelas, yang pada kenyataanya sudah memiliki beban tugas yang cukup banyak. Akibatnya, pelaksanaan layanan BK seringkali tdiak berjalan secara optimal dan belum mampu menjawab berbagai tantangan dan kompleksitas perkembangan anak secara menyeluruh, terutama di era digital ini.

Salah satu wujud nyata dari The Green Secret-Age, yaitu era perkembangan digital yang ditandai oleh ekspresi visual tersembunyi, pencarian identitas digital, dan dinamika sosial yang berlangsung cepat—terutama di kalangan generasi Alpha atau dengan kata lain merupakan era yang melibatkan transformasi psikososial, estetika, dan budaya teknologi yang memengaruhi pola interaksi, harga diri, serta citra diri anak-anak dan remaja, ekspresi kreatif anak berkembang melalui berbagai media sosial, seperti platform Tiktok dan sejenisnya. Ironisnya, anak-anak di generasi alpha ini bukan hanya sebagai penonton pasif, tetapi juga pelaku aktif dalam mengikuti trend tersebut, mulai dari tantangan tarian, penggunaan audio viral, hingga meniru gaya berpakaian dan berbicara yang belum sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. Trend yang viral dan instan ini tak jarang memuat konten implisit dewasa (termasuk audio yang digunakan), manipulatif secara emosional, atau menampilkan standar kecantikan yang tidak realistis (penggunaan filter).

Meskipun tidak seluruh dampak trend perilaku video editing velocity melalui sosial media pada anak-anak usia dini ini cenderung negatif, dampak secara positif di antaranya adalah : (a) Ekspresi diri dan kreativitas, yang merupakan penyaluran emosi dan identitas anak yang diwujudkan melalui gerakan visual dan musik, (b) Perkembangan motorik dan kognitif, yang terlatih melalui pembelajaran teknologi dan logika visual sehingga siswa mampu mengkoordinasikan tubuh dan konsentrasi, (c) Interaksi sosial-digital, di mana anak belajar berkolaborasi, menghadapi tantangan bersama teman sebaya dengan membangun komunikasi kreatif. Namun untuk mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan sebagai akibat semakin maraknya trend perilaku video editing velocity di medsos ini, para guru atau pendidik perlu mengenali berbagai dampak negatif, di antaranya adalah: (a) Citra diri yang tidak realistis, dimana efek visual yang dianggap ‘sempurna’ ini justru memicu rasa tidak puas terhadap penampilan diri dan menganggap bahwa penampilan menarik menjadi syarat untuk diterima secara sosial, (b) Validasi sosial berbasis algoritma, karena adanya ketergantungan pada ‘likes’ dan ‘views’ yang justru mempengaruhi harga diri dan motivasi, (c) Adanya tekanan performatif, karena dorongan mengikuti trend justru membuat anak merasa terpaksa dan stres, kehilangan spontanitas dan keaslian dalam berekspresi, dan (d) Distorsi persepsi emosi dan waktu, karena efekvelocity yang ekstrim justru mengaburkan pemahaman anak tentang ritme alami kehidupan. Lebih lanjut hal ini berpotensi menganggu regulasi emosi pada diri anak, akibat kecenderungan anak mencari stimulasi visual yang cepat dan intens.

Di tengah derasnya arus teknologi informasi komunikasi dan pengaruhnya terhadap perkembangan sosio-emosional anak di usia pendidikan dini dan sekolah dasar, kehadiran layanan BK semestinya menjadi bagian yang sangat penting dan mendesak dalam sistem pendidikan. Kenyataan di sekolah, peran atau kegiatan BK dilimpahkan kepada guru wali kelas yang juga memegang tanggung jawab penuh dalam menyampaikan materi pelajaran. Dalam praktiknya, fungsi layanan BK ini tidak mampu berjalan secara optimal. Guru wali kelas sangat diharapkan menjadi pengajar, evaluator, sekaligus konselor bagi seluruh siswa. Hal ini berakibat pada beban para guru walikelas yang terlalu besar dan cenderung kurang realistis untuk dilakukan sendiri. Kekosongan ‘ruang’ akibat tidak optimalnya interaksi antara peran konselor sekolah dan siswa ini pada perkembangannya akan menjadi ‘ruang’ yang justru diisi oleh ‘pemahaman siswa’ tentang dunia digital dengan berbagai konten, dinamika dan kecepatan perubahan serta risikonya, tanpa adanya pengawasan dan deteksi dini secara memadai yang semestinya terselenggara melalui sistem pendidikan formal yang ada.

Dunia anak-anak sekolah dasar hari ini sudah tidak sama lagi dengan satu dekade lalu. Mereka hidup dalam laju trend yang nyaris tanpa jeda, dengan paparan konten yang seringkali melampaui batas kemampuan dan tahap perkembangan mereka. Ketika keluarga dan sekolah belum sepenuhnya siap menjadi pendamping, kehadiran layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini atau Sekolah Dasar bukan lagi sekedar kebutuhan tambahan, melainkan keharusan yang sangat mendesak. Pemerintah perlu mempertimbangkan formasi guru Bimbingan dan Konseling (BK) bagi para guru wali kelas yang selama ini memikul beban ganda. Sekolah pun harus berperan aktif dalam membangun kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa dalam menghadapi tantangan di era digital. Jika tidak ada figur orang dewasa yang hadir secara sadar dan terlatih untuk menemani proses tumbuh kembang mereka, maka jangan heran jika anak-anak belajar lebih banyak dari algoritma TikTok atau media sosial sejenis lainnya ketimbang dari guru dan keluarganya sendiri.

Referensi:

Haryatri, H. (2019, June). Urgensi bimbingan dan konseling di sekolah dasar. Jurnal Al-Taujih, 5(1). https://doi.org/10.15548/atj.v5i1.758

McCrindle Research. (n.d.). Generation Alpha: Understanding Generation Alpha. McCrindle. Retrieved June 25, 2025, from https://mccrindle.com.au/article/topic/generation- alpha/generation-alpha-defined/

Zulfa, I. K. (2023, May 25). Perlukah guru BK di sekolah dasar? Media Mahasiswa Indonesia. https://mahasiswaindonesia.id/perlukah-guru-bk-di-sekolah-dasar/

Nur Ashikin, B. A. L. (2024, May 3). Urgensi bimbingan konseling bagi siswa sekolah dasar. Kompasiana.https://www.kompasiana.com/bintialfilailanurashikin6696/6634da1e14709352a 779a314/urgensi-bimbingan-konseling-bagi-siswa-sekolah-dasars