Fashion adalah salah satu cara paling nyata bagi manusia untuk menghadirkan diri di hadapan orang lain. Apa yang dikenakan seseorang bukan hanya soal selera pribadi, tetapi juga cerminan nilai, latar sosial, dan posisi identitasnya. Pakaian berfungsi sebagai “komunikasi nonverbal” yang menyampaikan pesan tentang status, gender, atau keanggotaan kelompok tertentu. Dengan kata lain, fashion menjadi bahasa simbolik yang memungkinkan individu berbicara tanpa harus mengucap sepatah kata pun.
Konsep “wajah identitas” dapat dipahami sebagai metafora dari fashion sebagai cermin sosial. Melalui pakaian, seseorang menunjukkan siapa dirinya, nilai apa yang ia pegang, dan bagaimana ia ingin dilihat oleh masyarakat. Gaya berpakaian bukan hanya ekspresi pribadi yang spontan, tetapi hasil negosiasi antara diri dan lingkungan sosial.
Contohnya dapat dilihat pada fenomena modest fashion di kalangan perempuan muda Muslim. Gaya berpakaian ini menggabungkan nilai religius dengan estetika modern, menunjukkan bahwa identitas keagamaan dapat tampil elegan dan trendi sekaligus. Bagi sebagian orang, hijab bukan hanya simbol kesalehan, tetapi juga cara menegaskan posisi identitas dalam dunia global yang sering mendikte standar kecantikan Barat.
Di sisi lain, fashion juga menjadi sarana bagi kaum muda untuk menegaskan keunikan mereka. Tren streetwear misalnya, muncul sebagai ekspresi identitas urban yang menolak formalitas dan menonjolkan kebebasan diri. Pakaian menjadi “kulit sosial” (Barnard, 1996) yang menempel di tubuh, menandai siapa kita dalam jaringan makna sosial yang luas. Melalui pilihan warna, bentuk, dan merek, seseorang menampilkan versi dirinya yang ingin diakui entah sebagai kreatif, profesional, religius, atau bebas.
Dengan demikian, fashion sebagai wajah identitas menegaskan bahwa pakaian bukan sekadar benda konsumsi. Ia adalah medium simbolik yang memediasi hubungan antara diri dan dunia sosial. Dalam setiap pilihan gaya, terselip usaha untuk menjawab pertanyaan mendasar: “Siapa aku, dan bagaimana aku ingin dikenali?”
Jika pada satu sisi fashion berfungsi sebagai cermin identitas, pada sisi lain ia juga menjadi arena perlawanan. Melalui pakaian, manusia tidak hanya menunjukkan siapa dirinya, tetapi juga apa yang ia tolak. fashion dapat menjadi medium resistensi simbolik terhadap kekuasaan, norma sosial, dan sistem nilai yang menindas. Dalam pandangan Foucault (1979), tubuh selalu menjadi medan kuasa dan fashion adalah salah satu cara tubuh melawan disiplin yang dipaksakan oleh masyarakat.
Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai gerakan budaya. Misalnya, gaya punk pada 1970-an yang lahir dari ketidakpuasan kelas pekerja di Inggris. Dengan rambut berdiri, jaket kulit, dan rantai besi, para punk bukan hanya berpakaian “aneh”, tetapi sedang menolak logika tatanan sosial yang menuntut kerapian, kesopanan, dan kepatuhan. Hebdige (1979) menyebut fenomena ini sebagai bentuk “semiotik perlawanan,” di mana gaya menjadi bahasa tandingan terhadap arus utama budaya.
Fashion, dengan demikian, berfungsi sebagai bahasa politik tubuh. Ia memungkinkan seseorang menolak tanpa harus berteriak. Setiap potongan pakaian, warna, atau gaya bisa menjadi “pernyataan” kadang lembut, kadang frontal bahwa identitas tidak bisa diatur oleh norma dominan. Seperti ditegaskan oleh Polhemus dan Procter (1978), pakaian memiliki kekuatan “anti-fashion”: kekuatan untuk melawan arus, mendefinisikan ulang makna, dan mengklaim ruang kebebasan.
Fashion, pada akhirnya, adalah cermin dari kontradiksi manusia modern: antara keinginan untuk menegaskan keunikan diri dan kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Ia menjadi arena tempat identitas dan resistensi bertemu, beradu, dan bernegosiasi. Dalam setiap pilihan pakaian, seseorang bukan hanya menampilkan citra diri, tetapi juga menafsirkan ulang makna kebebasan, kekuasaan, dan kebersamaan.
Makna dalam fashion selalu bersifat dinamis ia dibentuk melalui konteks sosial dan budaya yang terus berubah. Karena itu, tidak ada satu pun gaya yang benar-benar netral. Bahkan dalam upaya “menjadi diri sendiri,” seseorang sering kali beroperasi dalam sistem tanda dan nilai yang telah terstruktur oleh industri dan media.
Namun demikian, kesadaran terhadap kondisi ini justru membuka ruang baru bagi refleksi kritis. fashion tidak harus dilihat sebagai penjara identitas, melainkan sebagai bahasa yang bisa digunakan secara sadar untuk membangun narasi alternatif. Dengan memahami bagaimana fashion bekerja baik sebagai instrumen pembeda maupun alat resistensi kita dapat lebih peka terhadap cara-cara halus kekuasaan beroperasi dalam kehidupan sehari-hari.
Maka, berpakaian bukan lagi sekadar soal penampilan, tetapi juga tindakan berpikir dan memilih. Di balik setiap busana yang tampak, selalu ada pernyataan tentang siapa kita, apa yang kita lawan, dan dunia seperti apa yang ingin kita ciptakan. Dalam pengertian ini, fashion adalah praktik budaya yang sarat makna sebuah percakapan terus-menerus antara diri, masyarakat, dan kekuasaan.(*)
Oleh Aleta Bintang Fatikhah