Sekarang kita telah berada di era dimana industri game digital yang telah bertransformasi dari yang awalnya hanya untuk hiburan anak-anak, sekarang telah menjadi budaya popular. Dulu para remaja akan menghabiskan waktu di warnet, kini kita melihat adanya diversifikasi pemain yang sangat luas, mulai dari generasi Z hingga generasi millennial.
Dalam keragaman ini, terdapat pergeseran preferensi genre game yang tampak seiring bertambahnya usia seorang pemain. Anak remaja mungkin sangat terikat dengan dunia multiplayer online yang kompetitif dan penuh interaksi sosial, sementara orang dewasa yang telah bekerja justru lebih memilih untuk bermain singleplaayer yang memiliki banyak narassi cerita. Apa yang mendorong pergeseran genre ini? Apakah ada faktor-faktor psikologis dan sosiologis yang lebih dalam?
Studi yang dilakukan oleh MIDiA Research pada 2023-2024 menunjukkan bahwa 53 persen pemain dari kelompok usia yang lebih tua cenderung memilih game dengan format singleplayer Adapun kelompok gamer usia muda lebih menyukai game yang bisa dimainkan kompetitif berbasis multiplayer online.
Pemain yang lebih muda lebih menyukai PvP karena menarik banyak perhatian dan keterlibatan antar manusia. Dengan bermain game multilayer online, menjadikan kegiatan tersebut sebagai wadah untuk bersosialisasi dengan teman dengan fitur obrolan. Hal inilah yang membedakan game singleplayer dengan game multiplayer.
Pemain yang sudah bekerja cenderung lebih menyukai game singleplayer daripada multiplayer yang cenderung harus bermain dengan kompetitif. Pemain yang telah lelah bekerja merasa lebih leluasa dan tidak ada tekanan dalam bermain singleplayer dan tidak ada tuntutan untuk bemain secara sempurna oleh orang lain.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pergeseran Genre Game.
Banyak sekali faktor yang menyebabkan orang dewasa lebih memilih untuk beralih genre game yang ingin dimainkan untuk melepas stress mereka. Faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran genre game tersebung cenderung disebabkan oleh faktor psikologis dalam menghadapi situasi di dunia nyata. Faktor psikologis tersebut meliputi, berikut ini.
- Kondisi batin yang mengalami perubahan dari remaja menuju ke siklus dunia dewasa. Para remaja memiliki banyak sekali waktu untuk bermain tanpa memerhatikan tekanan sosial. Anak-anak remajaa juga cenderung lebih suka memperluas aktivitas sosisal mereka. Tidak seperti orang dewasa yang telah bekerja, mereka telah mengalami banyak tekanan di dunia kerja. Bagi orang dewasa yang telah bekerja, pekerjaan adalah permainan multiplayer yang sesungguhnya yang harus mereka jalani di dunia nyata.
- Kebahagiaan dan kepuasan hanya bergantung pada satu pihak. Ketika bermain singleplayer tidak akan ada yang bisa menggangu anda dalam bermain. Anda bisa melakukan appa saja tanpa memedulikan orang lain. Anda bisa melakukan apa saja yang anda inginkan di dunia tersebut.
- Permainan multiplayer sulit untuk dimenangkan. Permainan multiplayer menuntut pemainnya untuk bermain dengan performa terbaik agar tidak menyulitkanorang lain. Kita sebagai player mungkin telah melakukan segalanya dengan baik, tetapi pasti akan selalu ada yang lebih baik dari apa yang telah kita berikan.
Selain dari faktor psikologis ada banyak lagi alasan yang menyebabkan orang dewasa lebih menyukai game singleplayer.
- Orang dewasa lebih suka menikmati game dengan jalan cerita yang jelas. Game multiplayer biasanya memiliki jalan cerita yang berbelit-belit dan cenderung panjang. Bahkan beberapa orang menyebutkan bahwa, “Jika cerita tamat, perusahaan akan rugi”. Hal inilah yang membuat perbedaan orang dewasa ingin beralih ke game singleplayer yang cenderung memiliki akhir cerita.
- Bebas dari mikrotransaksi. Kebanyakan game singleplayer biasanya berbayar dengan harga yang cukup mahal. Tetapi dengan harga ratusan ribu rupiah, pemain bisa langsung menikmati alur cerita gamenya. Berbeda dengan game multiplayer online yang biasanya dapat diunduh secara gratis tetapi perusahaan memberikan sebuah item yang dapat dibeli dengan harga bisa sampai jutaan dan dapat mengubah cara bermain.
- Game singleplayer bisa di-pause. Orang dewasa yang telah memiliki pekerjaan biasa disibukkan denhan pekerjaan mereka. Fitur pause ini tentu sangat berguna bagi mereka karea mereka dapat melanjutkan permainan setelah selesai dengan pekerjaan mereka.
Itulah beberapa alasan dan faktor yang menyebabkan mengapa permainan singleplayer mampu mengubah preferensi seeorang bergantung dari usia dan kondisi lingkungan dalam memilih permainan utuk menghibur diri setelah bekerja.(*)
oleh Adi Laksono