Pada zaman dahulu kala, di daeerah Boyolali, berdirilah Kerajaan Pengging. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja bijaksana Bernama Prabu Pengging Sewu. Rakyar hidup makamur dan Sejahtera di bawah pemerintahannya. Raja dikenal adil, mencintai rakyatnya, serta berusaha keseimbangan antara kekuasaan dan kehidupan spiritual.
Prabu Pengging Sewu memiliki seorang putra bernama Raden Bandung Bondowoso, seorang pemuda tampan dan gagah perkasa. Sejal muda, Raden Bandung telam menunjukkan kecerdasan dan kekuatan luar biasa. Ia juga dikenal memiliki hati yang tenang dan gemar bertapa untuk mencari pencerahan batin.
Namun, meskipun Kerajaan berada dalam masa kejayaan, Raden Bandung merasa bahwa kebahagiaan dunia tidaklah kekal. Ia ingin mencari makna kehidupan sejati dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itu, ia memutuskan untuk meninggalkan istana dan melakukan tapa brata di sebuah hutan sunyi tak jauh dari kerajaan.
Selama masa pertapaannya, Raden Bndung hidup sederhana. Ia bersemadi di bawah pohon besar, memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk tentang jalan kebenaran. Pada suatu hari, ditengah keheningan, ia mendengar suara gemercik air. Ia pun mencari sumber suara itu dan menemukan sebuah mata air yang sangat jernih keluar dari sela-sela batu besar.
Air itu mengalir dengan tenang, bening seperti kaca, dan terasa sangat sejuk. Raden Bandung kemudian membasuh wajahnya, dan seketika tubuhnya terasa segar dan hatinya damai. Ia merasakan energi spiritual yang begitu kuat, seolah air itu memiliki kekuatan suci. Ia yakin bahwa sumber air tersebut adalah anugerah dari para dewa karena ketulusan hatinya dalam bertapa.
Sejak hari itu Raden Bandung setiap hari mandi dan berwudu dengan air dari sumber itu. Ia menamai tempat itu dengan sebutan “Umbul”, yang dalam Bahasa Jawa berarti mata air.
Tak lama kemudian, kabar tentang sumber air ajaib itu sampai ke telinga rakyat Pengging. Mereka pun datang berbondong-bondong untuk melihatnya. Banyak di antara mereka yang mandi di Umbul itu dan merasakan kesembuhan dari berbagai penyakit. Sejak saat itu, Masyarakat percaya bahwa Umbul tersebut memiliki kekuatan penyembuhan dan dapat mendatangkan keberkahan.
Ketika mendengar kabar mengenai sumber air yang luar biasa itu, Prabu Pengging Sewu sangat terkejut sekaligus gembira/ ia kemudian datang sendiri untuk melihat keajaiban tersebut. Setelah membuktikan sendiri keindahan dan kesegaran airnya, sang Raja memutuskan untuk membangun tempat pemandian Kerajaan di sekitar Umbul.
Pemandian itu dihiasi taman-taman indah, pohon-pohon rindang, dan batu-batu besar yang disusun rapi. Tempat itu dijadikan sebagai tempat peristirahatan raja dan keluarganya, serta tempat mandi para bangsawan. Namun, Prabu Pengging Sewu juga memberi kesempatan kepada rakyat untuk mandi di sana pada hari-hari tertentu, terutama pada saat upacara hari besar keagamaan.
Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal sebagai Umbul Pengging, yang berarti “sumber air milik Kerajaan Pengging”.
Selain sebagai tempat pemandian, Umbul Pengging diyakini memiliki nilai spiritual yang tinggi. Masyarakat sekitar percaya bahwa Umbul ini adalah simbol pertemuan antara kekuatan alam dan kekuatan doa manusia. Air yang tidak pernah kering dianggap sebagai wujud restu dari Tuhan terhadap tanah Pengging yang subur.
Hingga kini, air Umbul Pengging tetap jernih dan sejuk, meskipun sudah ratusan tahun berlalu. Banyak orang datang untuk mandi, berziarah, atau sekedar mencari ketenangan batin. Beberapa orang percaya bahwa jika mandi di Umbul Pengging dengan niat tulus, mereka akan mendapatkan keberkahan, Kesehatan, dan ketenangan hidup.
Masyarakat sekitar juga menjaga Umbul ini dengan penuh rasa hormat. Mereka melestarikan tradisi bersih desa dan upacara adat sebagai bentuk rasa Syukur atas anugerah sumber air yang tiada habisnya.(*)
Oleh Putri Dwi Lestari