Hubungan Kafein dan Kecemasan pada Generasi Muda

Kopi sekarang sudah jadi “teman setia” banyak anak muda. Dari nugas di kafe, begadang mengejar deadline (tenggat), sampai nongkrong santai sore hari, kafein kayak bahan bakar biar otak tetap melek. Tapi pernah tidak sih kamu merasa jantung berdebar, tangan gemetar, atau tiba-tiba gelisah setelah ngopi? Nah, itu bisa jadi bukan cuma perasaan, tapi tanda bahwa kafein mulai kebanyakan.

Menurut penelitian di PubMed (2024), konsumsi kafein dalam dosis tinggi, lebih dari 400 mg per hari atau setara dengan empat cangkir kopi, bisa meningkatkan risiko munculnya gejala kecemasan, terutama pada orang yang sensitif terhadap stimulan. Artinya, makin banyak kafein yang kamu minum, makin besar peluang tubuhmu “overreact” dan bikin perasaan jadi tidak tenang. Riset dari MDPI Nutrients (2024) juga menunjukkan bahwa remaja yang sering minum minuman berkafein tinggi seperti kopi instan, minuman energi, atau es kopi kekinian, cenderung punya tingkat kecemasan lebih tinggi dibanding yang jarang minum.

Kok bisa begitu? Secara sederhana, kafein bekerja dengan memblok zat adenosin, yaitu zat yang bikin kamu mengantuk. Akibatnya, sistem saraf jadi aktif dan kamu merasa lebih fokus. Tapi kalau kebanyakan, sistem tubuh justru “terlalu siaga”: jantung berdebar, otot tegang, pikiran melesat, mirip banget sama gejala cemas. Apalagi kalau kamu sering begadang dan kurang tidur. Studi dari National Institutes of Health (2023) menyebut, gabungan antara kurang tidur dan konsumsi kafein tinggi bisa memperparah kecemasan pada remaja dan mahasiswa. Jadi, kalau kamu merasa makin gelisah padahal cuma mau “biar fokus”, mungkin saatnya mengatur ulang kebiasaan ngopi.

Tenang saja, tidak berarti kamu harus stop minum kopi sama sekali. Yang penting adalah tau batas tubuhmu sendiri. Tiap orang punya tingkat toleransi kafein yang berbeda. Ada yang bisa minum dua gelas sehari tanpa masalah, tapi ada juga yang cuma sekali minum saja sudah terasa jantung berdebar. Coba batasi jumlah kopi yang kamu minum maksimal dua gelas sehari, dan hindari minum kopi setelah sore agar tidurmu tetap nyenyak. Kalau ingin pilihan yang lebih ringan, kamu bisa pilih teh hijau, cokelat hangat, atau air lemon segar yang tidak bikin efek samping berlebihan.

Kafein sebenarnya bisa jadi teman yang baik kalau kamu mengonsumsinya dengan bijak. Tapi kalau mulai terasa cemas, susah tidur, atau gampang panik setelah ngopi, itu pertanda tubuhmu butuh istirahat. Ingat, produktivitas bukan cuma soal seberapa lama kamu bisa melek, tapi juga soal seberapa fokus dan tenang pikiranmu saat bekerja. Jadi, tidak ada salahnya sesekali bilang, “hari ini skip kopi dulu,” supaya kepala tetap jernih dan hati tetap rileks.(*)

Oleh Fandy Herlian Ramadhan