Kota Semarang dalam beberapa bulan lalu diramaikan kembali oleh kemunculan permainan lawas yang dahulu sempat tenar yaitu lato-lato. Mainan dengan dua bola kecil yang diikat tali ini digandrungi kalangan anak-anak sampai remaja awal.
Antusias masyarakat terhadap permainan lato-lato sangat meningkat. Di mana-mana dari lingkungan sekolah sampai taman-taman umum yang berada diseluruh kota, anak-anak tampak sangat asyik memainkan lato-lato yang membutuhkan keterampilan dalam bermain. Selain menghibur, lato-lato melatih konsentrasi dan keseimbangan gerakan tangan dan mata pemain. Menurut Fansen Candra dan Zainul Abidin, permainan lato-lato terdiri dari dua fase gerak dalam memainkan yaitu gerak pada fase pendulum biasa dan fase getaraan ganda yang sulit dilakukan.
Fenomena ini menumjukan bahwasannya budaya lama bisa kembali populer, bahkan dapat mempererat jalinan hubungan antar generasi. Ketika anak-anak bermain lato-lato, mereka saling bertukar cara bermain dan mencoba-coba strategi baru. Anak-anak menjadikan lato-lato sebagai sarana berinteraksi yang menyenangkan.
Ada salah seorang warga mengaku merasa senang dengan kemunculan lato-lato karena mengingatkan masa kecilnya, hal itu juga mengajarkan anak-anak untuk menjadi fokus dan sabar dalam kesulitan.
Sementara itu, ibu Siti Nurjanah seorang guru di Sekolah Dasar mengatakan lato-lato itu bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar yang menyenangkan. Sekolah juga berencana akan mengadakan lomba lato-lato untuk menumbuhkan semangat belajar dan memberi refleksi kepada para siswa agar tidak terlalu jenuh terhadap pembelajaran semestinya.
Lato-lato mengajarkan nilai yang positif kepada kita mengenai identitas budaya lokal yang dapat kembali hidup seiring dengan berkembangnya zaman dan patut dijaga kelestariannya.
NILA AZIZAH