Suku Sasak merupakan suku asli yang mendiami Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Masyarakat Sasak dikenal memiliki sistem budaya yang kaya dan berakar kuat pada tradisi leluhur. Salah satu unsur penting dalam kehidupan mereka adalah ritual dan upacara adat yang mencerminkan nilai spiritual, sosial, dan moral masyarakat. Dalam setiap tahap kehidupan—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian—terdapat upacara yang memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghormatan terhadap Tuhan, alam, dan sesama manusia.
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengenalkan berbagai bentuk ritual dan upacara dalam kebudayaan Sasak serta memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, diharapkan pembaca dapat menghargai kearifan lokal masyarakat Sasak sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Dalam kebudayaan Sasak, upacara adat tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi sarana menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Setiap upacara memiliki tata cara dan tujuan tertentu yang diwariskan secara turun-temurun.
Beberapa ritual dan upacara yang terkenal, berikut ini.
a. Upacara Perang Topat
Upacara ini dilaksanakan setiap tahun di Pura Lingsar, Lombok Barat. Perang Topat merupakan simbol kerukunan antara umat Hindu dan Islam Wetu Telu. Dalam acara ini, masyarakat saling melempar ketupat sebagai lambang rasa syukur atas hasil panen dan doa agar kehidupan selalu damai.
b. Upacara Merariq (Perkawinan)
Merariq adalah tradisi pernikahan unik di mana pihak laki-laki “melarikan” calon pengantin perempuan sebagai bentuk simbolik penyatuan dua keluarga. Setelah prosesi pelarian, dilakukan mediasi antara kedua keluarga untuk menentukan hari baik pernikahan. Tradisi ini melambangkan tanggung jawab, keberanian, dan penghormatan terhadap adat.
c. Upacara Nyongkolan
Nyongkolan merupakan puncak perayaan setelah pernikahan, di mana pengantin diarak menuju rumah mempelai wanita diiringi musik tradisional Gendang Beleq. Acara ini menjadi ajang silaturahmi dan hiburan bagi masyarakat sekitar.
d. Ritual Roah (Syukuran)
Roah merupakan bentuk syukuran yang dilakukan pada berbagai kesempatan, seperti setelah panen, membangun rumah, atau memperingati hari-hari besar keagamaan. Tujuannya adalah untuk memohon keselamatan dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai contoh, dalam pelaksanaan Perang Topat di Pura Lingsar, umat Hindu dan Islam Wetu Telu bersama-sama berdoa dan memulai upacara dengan doa lintas keyakinan. Prosesi ini mencerminkan toleransi dan persatuan yang kuat di antara masyarakat Lombok, sekaligus menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia.
Ritual dan upacara adat dalam kebudayaan Sasak memiliki makna yang mendalam sebagai wujud penghormatan terhadap Tuhan, alam, dan sesama manusia. Tradisi seperti Perang Topat, Merariq, Nyongkolan, dan Roah menunjukkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, serta toleransi yang tinggi.
Melestarikan ritual dan upacara adat Sasak berarti menjaga warisan budaya bangsa yang sarat nilai moral dan spiritual. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal, tetapi juga turut berperan aktif dalam mempertahankan tradisi ini agar tidak punah ditelan arus modernisasi.(*)
Oleh Revalina Melia Jodi