Pernah nggak sih merasa capai banget padahal nggak ngapa-ngapain? Atau tiba-tiba cemas tanpa alasan yang jelas? Fenomena kayak gini ternyata makin sering dialami anak muda zaman sekarang. Di balik gaya hidup yang kelihatan produktif dan “baik-baik aja” di media sosial, banyak yang sebenarnya lagi berjuang diam-diam dengan kesehatan mentalnya.
Menurut data dari WHO (2023), satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental seperti stres berat, kecemasan, atau depresi. Angka ini meningkat pesat sejak pandemi, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Hidup pada era digital memang nggak mudah semua serbacepat, serba bisa dibandingkan, dan kadang bikin kita lupa berhenti sejenak buat napas.
Tekanan di media sosial juga jadi salah satu pemicu utama. Saat scrolling, kita sering tanpa sadar membandingkan diri sendiri dengan orang lain: teman udah kerja, orang lain udah sukses, sementara diri sendiri masih bingung arah hidupnya. Ditambah lagi dengan tuntutan dari sekolah, kampus, atau keluarga yang nggak ada habisnya. Nggak heran kalau banyak anak muda merasa kehilangan semangat, ngerasa kurang cukup, atau bahkan terjebak dalam overthinking.
Masalahnya, isu kesehatan mental masih sering dianggap sepele. Banyak yang mikir “ah, itu cuma kurang bersyukur” atau “kamu baper aja”. Padahal, stres dan depresi bukan soal lemah atau manja tapi tentang keseimbangan emosi yang lagi terganggu. Kalau dibiarkan, bisa berdampak besar pada kualitas hidup, hubungan sosial, bahkan prestasi akademik.
Menurut penelitian di Journal of Adolescent Health (2022), penggunaan media sosial berlebihan bisa meningkatkan risiko kecemasan dan gangguan tidur pada remaja. Hal ini menunjukkan bahwa cara kita berinteraksi di dunia digital punya dampak langsung terhadap kesejahteraan psikologis.
Selain itu, kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Seperti yang dijelaskan oleh Fitriani (2024), promosi kesehatan mental berperan besar dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran individu akan pentingnya menjaga keseimbangan pikiran dan emosi. Dengan begitu, seseorang dapat lebih memberdayakan diri serta meminimalisir gangguan mental yang mungkin muncul.
Nah, di sinilah pentingnya kesadaran dan dukungan lingkungan. Teman, keluarga, dan guru punya peran besar buat jadi tempat aman untuk bercerita. Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan solusi instan, tapi sekadar didengarkan tanpa dihakimi. Dukungan kecil kayak, “aku dengerin, kamu nggak sendirian,” bisa jadi penguat luar biasa buat yang lagi berjuang.
Selain itu, anak muda juga perlu belajar merawat diri sendiri. Istirahat sejenak dari media sosial, jalan-jalan sebentar, journaling, olahraga ringan, atau tidur cukup bisa bantu pikiran lebih tenang. Jangan takut minta bantuan profesional kalau memang butuh ke psikolog atau konselor bukan hal memalukan, justru langkah berani buat pulih.
Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukan hal tabu. Setiap orang bisa aja ngalamin masa sulit, dan itu wajar. Yang penting, jangan dipendam sendirian. Yuk, mulai peduli sama diri sendiri dan orang sekitar. Nggak apa-apa kok kalau sesekali berhenti, istirahat, atau bilang, “aku butuh waktu buat diri sendiri.” Menjaga mental itu juga bentuk cinta bukan buat orang lain, tapi buat diri kita sendiri. (*)
Oleh Aura Zahrani