Bahasa Gaul, antara Tren dan Identitas

Oleh Nasya Dilla Arina Susanto

      Bahasa gaul sering dianggap sekadar bahasa iseng, gaya-gayaan, atau tren sesaat yang akan hilang bersama arus budaya populer yang terus berganti. Namun, jika dicermati lebih dalam, fenomena bahasa gaul justru menyimpan lapisan makna yang jauh lebih kompleks daripada sekadar hiburan atau lucu-lucuan. Bahasa gaul kini menjadi representasi identitas, ekspresi eksistensi, dan bahkan strategi sosial bagi remaja dalam beradaptasi di era digital yang serba cepat dan kompetitif.

      Fenomena ini terlihat sangat jelas di platform digital seperti TikTok, Instagram, X (Twitter), hingga WhatsApp group sekolah. Kata-kata seperti “gaskeun”, “bestie”, “healing”, “delulu”, “gak vibes”, atau “ciyus miapah” bukan hanya dipakai untuk mengucapkan sesuatu, tetapi juga untuk menunjukkan siapa diri mereka dan bagaimana mereka ingin dipahami oleh lingkungannya. Inilah yang menjadikan bahasa gaul lebih dari sekadar alat komunikasi — ia berubah fungsi menjadi bentuk performatif sosial. Artinya, bahasa gaul bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk menampilkan diri.

      Perkembangan teknologi digital mempercepat reproduksi bahasa gaul secara ekstrem. Dulu, bahasa gaul hanya berkembang secara lokal di ruang sekolah, tongkrongan, atau acara komunitas tertentu. Kini, satu istilah seperti “rizz” atau “ngabers” bisa viral nasional hanya dalam waktu 24 jam lewat satu konten TikTok yang FYP. Akibatnya, bahasa gaul bagi remaja menjadi cara tercepat untuk membuktikan bahwa mereka tetap up to date, tidak “kudet”, dan masih relevan dengan kelompok sebayanya. Tidak beradaptasi terhadap perkembangan istilah baru bahkan bisa membuat seseorang dianggap “tidak nyambung” dalam percakapan, dan perlahan tersingkir dari ruang sosial digital.

      Menariknya, bahasa gaul mampu mencerminkan kondisi emosional dan mental para remaja. Misalnya istilah “healing” yang awalnya berarti proses pemulihan psikologis, justru diubah menjadi kata santai yang digunakan untuk menggambarkan liburan atau sekadar makan es krim habis ujian. Istilah “delulu” digunakan bukan untuk mencemooh orang yang berkhayal berlebihan, tetapi lebih untuk membangun solidaritas terhadap sesama remaja yang sedang dalam fase berharap — baik terhadap kehidupan, cinta, maupun masa depan. Bahasa yang lahir dari internet ini, meski terdengar main-main, sesungguhnya menyimpan kedalaman rasa dan kerentanan psikologis remaja modern.

      Namun, fenomena ini tidak lepas dari kekhawatiran. Bahasa gaul yang terlalu dominan dapat mengaburkan batas antara bahasa santai dan bahasa formal, terutama jika terbawa ke situasi akademik atau profesional. Banyak guru dan dosen mulai menegur mahasiswa yang tanpa sadar menulis kata “kayaknya vibesnya enak” di laporan tugas, atau mengucapkan “iya bu, kami bakal gaskeun” saat presentasi seminar. Di sinilah letak pentingnya kesadaran literasi bahasa: remaja tidak cukup hanya kreatif, tetapi juga harus cerdas dalam memilah konteks. Bahasa gaul sepenuhnya baik selama tidak menghapus kemampuan menggunakan bahasa Indonesia baku ketika situasi menuntut formalitas.

      Pada akhirnya, bahasa gaul adalah bagian dari dinamika budaya, bukan tanda kemunduran intelektual. Ia lahir sebagai respon terhadap zaman yang menuntut remaja untuk lincah beradaptasi. Bahasa gaul adalah bukti bahwa bahasa Indonesia bukan bahasa yang kaku dan stagnan, melainkan organisme hidup yang terus berkembang mengikuti kebutuhan realitas sosial. Dengan pemahaman yang tepat, bahasa gaul tidak perlu dilawan, melainkan cukup diarahkan melalui literasi agar generasi muda mampu menjadi pengguna bahasa yang kreatif, kontekstual, dan bertanggung jawab.(*)

Oleh Nasya Dilla Arina Susanto