Oleh Rofiul Ikhsan
Perundungan adalah perilaku agresif yang disengaja untuk menyakiti, mengancam, atau mempermalukan seseorang. Perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti agresi fisik, hinaan verbal, atau bahkan pengucilan sosial, dan dapat terjadi di sekolah, tempat kerja, atau bahkan di dunia maya. Perundungan biasanya dilakukan oleh individu atau sekelompok orang yang dianggap lebih kuat atau lebih berkuasa daripada korbannya.
Menurut data UNICEF, sekitar 1 dari 3 anak di dunia mengalami perundungan di sekolah. Di Indonesia, hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa hampir 40% siswa melaporkan mengalami perundungan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu, kasus cyberperundungan yang terjadi melalui media sosial juga semakin meningkat, dengan banyaknya remaja yang menjadi korban perundungan daring. Data ini menggambarkan betapa maraknya masalah perundungan di berbagai kalangan.
Perundungan merupakan masalah besar karena konsekuensinya yang berpotensi parah pada kesehatan mental dan emosional korban. Korban perundungan dapat menjadi stres, depresi, atau cemas; bahkan, perasaan tersebut dapat bertahan sepanjang kehidupan dewasa mereka. Selain itu, korban dapat kehilangan rasa percaya diri dan menjadi terisolasi dari lingkungan sosialnya. Dalam kondisi ekstrem, korban dapat mengembangkan ide bunuh diri atau bahkan melukai diri sendiri. Selain itu, perundungan menciptakan suasana tidak aman yang tidak bersahabat dengan kehidupan sosial dan akademis, terutama di sekolah.
Beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi perundungan antara lain pendidikan dan pelatihan empati. Nilai-nilai empati, toleransi, dan saling menghargai harus diajarkan sejak kecil. Melalui pendidikan, anak belajar memahami perasaan orang lain dan menghargai perbedaan.
Selain itu kebijakan antiperundungan harus jelas dan konsisten di sekolah, tempat kerja, dan masyarakat. Setiap kejadian perundungan harus dilaporkan dan diberikan sanksi yang berat agar memberikan efek jera bagi pelakunya.
Korban perundungan membutuhkan dukungan psikologis agar dapat pulih dari dampak perundungan yang dialaminya. Layanan konseling akan membantu mereka mendapatkan kembali kepercayaan diri dan cara mengelola perasaan dengan baik.
Orang tua harus lebih aktif dalam memantau perilaku anak dan mendiskusikan isu perundungan secara terbuka. Masyarakat juga harus mampu menciptakan lingkungan yang inklusif dan aman di mana setiap orang dihargai tanpa diskriminasi.
Perundungan merupakan masalah penting yang melibatkan sebagian besar individu, terutama anak-anak dan remaja, dan mungkin memiliki dampak jangka panjang. Hal ini mengharuskan sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan berempati. Pendidikan empati, kebijakan yang kuat, dan dukungan bagi korban dapat membantu meminimalkan atau menghilangkan perundungan dari kehidupan kita.(*)