Pada rentang tahun 1749 hingga 1792, di sebuah wilayah yang dulunya dikenal sebagai Bumi Keputihan, hidup seorang tokoh penting dari Kerajaan Mataram bernama Ontokusuma. Beliau menjabat sebagai tumenggung dan lebih dikenal dengan gelar Tumenggung Jogonegoro.
Tumenggung Jogonegoro adalah sosok yang sangat dihormati. Dia tinggal dan bermeditasi di sekitar kawasan Bumi Keputihan, menebar pengaruhnya tidak hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai sosok spiritual yang dekat dengan masyarakat sekitarnya.
Ketika beliau wafat, jenazahnya dimakamkan di Bumi Keputihan, berdampingan dengan makam seorang tokoh yang juga disegani, Guntur Geni.
Seiring berjalannya waktu, makam Tumenggung Jogonegoro mulai ramai didatangi oleh para peziarah dari berbagai tempat. Mereka datang untuk mendoakan dan menghormati jasa-jasa beliau.
Melihat ramainya peziarah yang berdatangan, tokoh-tokoh masyarakat setempat kemudian berinisiatif untuk melestarikan dan menjaga komplek pemakaman tersebut. Mereka mengangkat seorang petugas khusus yang bertugas merawat dan mengurus makam. Petugas inilah yang disebut sebagai juru kunci. Karena adanya juru kunci yang menjaga makam ini, nama Bumi Keputihan perlahan mulai berubah di lidah para peziarah dan penduduk lokal. Mereka mulai menyebut daerah tersebut sebagai Kuncen.
Nama Kuncen ini kemudian terus berkembang. Entah sejak kapan, sebutan itu berubah lagi menjadi Pakuncen, yang merupakan nama resmi desa tersebut hingga saat ini.
Singkat cerita, Desa Pakuncen adalah saksi bisu sejarah yang bermula dari tempat peristirahatan terakhir seorang pejabat Mataram yang dihormati yaitu Tumenggung Jogonegoro. Keberadaan makam beliau yang selalu dikunjungi, memunculkan peran jurumemunculkan peran juru kunci, yang pada akhirnya melahirkan nama desa dari kata dasar “kunci” menjadi “Kuncen” dan kini “Pakuncen”.(*)
Oleh Zidan Fadlan